Jangan Beranggapan Istri Tidak Bekerja Akan Mengganggu Perekonomian Keluarga


keharmonisan

Assalamualaikum Warohmatullohi Wabarokatu

Sebelumnya Saya dan istri saya sama sama bekerja di salah satu perusahaan yang sama, sudah 4 tahun bekerja bersama sama dan Alhamdulillah saya dan istri selalu 1 shift saat bekerja.

Sebenarnya sebelum menikah dulu, kita sudah sepakat kalau disaat sesudah menikah nanti hanya saya yang akan bekerja sementara istri tinggal dirumah merawat anak anak.

Tapi terkadang perencanaan tidak sesuai kenyataan,Setelah kita menikah istri memutuskan untuk tetap bekerja lantaran dia masih melanjutkan kuliah dan merasa kasian tehadap saya karena harus membiayai keluarga serta menanggung biaya kuliah. Dia bermaksud dengan tetap bekerja bisa sedikit membantu perekonomian keluarga.

Baca juga : Hari Pertama Dan Terakhir Kerja

Dan genap satu tahun menikah kami mempunyai momongan. Setelah anak kami berusia 1.5 tahun istri saya lulus kuliah. Akhirnya kami memutuskan setelah melahirkan anak kedua istri saya berencana untuk resign.

wanita-bekerja

Seminggu awal Ramadhan 1437 adalah hari terakhir istri saya bekerja karena dia harus cuti melahirkan. Dia berencana setelah masa cuti habis dia baru akan mengajukan surat resign dari perusahaan.

Baca Juga : Pencapaian Bulan Ramadhan

Bukan rahasia lagi kalau dalam perusahaan adalah media informasi atau gosip yang  paling cepat dari pada intenet sekalipun. Seingat saya, saya tidak pernah sekalipun membicarakan tentang keinginan resign nya istri kesiapapun. Tapi entah dari mana informasi itu tersebar sampai ketelinga saya.

Banyak petanyaan pertanyaan yang mulai menghampiri saya seusai istri saya mulai dalam masa cuti. Dimulai dari pertanyaan umum:

“ Sudah melahirkan belum “

“ Kapan perkiraan kelahirannya”

Dan ada juga pertanyaan yang lebih menjurus ke sebuah pernyataan yang lain tentang masa cutinya :

“ Istrimu resign ta ir? ”

“ Kenapa istrimu resign “

“ Kenapa resign, Bukannya enakkan kerja berdua? “

“ Kenapa harus resign, apa tidak bosan dirumah entar, kan udah biasa bekerja”

Nah kenapa terlalu banyak pertanyaan seperti itu, padahal disetiap ada yang Tanya tentang resign, saya selalu jawab dengan kata “ Tidak tau “, “Denger dari mana informasi resign itu”, “ Dia cuti kok, belum resign”.

Ingin sekali saya mendebat pertanyaan tersebut dengan asumsi saya tentang alasan kami memutuskan untuk resignnya istri saya. Tapi untuk saat ini Diam adalah waktu yang tepat yang harus saya lakukan saat ini.

Dalam kehidupan berkeluarga sangat perlu yang namanya musyawarah dalam mengambil keputusan yang penting. Keputusan resign itu bukan keputusan yang kami ambil terburu buru, saya dan istri sudah berfikir masak masak akan hal ini serta kita juga melakukan simulasi untuk kebutuhan sehari hari tanpa adanya gaji dari istri.

Saya akui saat istri bekerja kebutuhan kita sangat tercukupi bahkan kita selalu dapat menabung untuk kebutuhan yang mendesak. Serta hubungan kami yang semakin erat disamping terkuatkan dengan adanya anak, juga karena bekerja bersama, memungkinkan bagi kami untuk selalu bersama baik dirumah maupun saat bekerja.

Seiring bertambahnya waktu, kita semakin paham dan pengalaman dalam menghadapi kehidupan baik dimasa sulit maupun dimasa bahagia. Kita menyadari seiring bertambahnya penghasilan juga sebanding dengan membengkaknya pengeluaran.

Jadi seberapa banyak penghasilan yang kita dapat, fikiran atau rencana untuk menghabiskan uang tersebut juga semakin banyak dan bervariasi. Memang itu sebuah kebutuhan manusia, selama masih ada hasrat, disitulah manusia hidup. Maksudnya kalaupun hasrat itu sudah terpenuhi maka tetap akan selalu ada keinginan lain untuk menuju kedepan.

Baca Juga : Sang Penggenggam Dunia

Saya setuju artikel yang menjelaskan bahwa alasan seorang istri bekerja selain karir juga agar bisa membeli sesuatu yang istri inginkan tanpa harus memakai uang belanja yang dihasilkan para suami.

Seperti ulasan dari wowmenariknya(dot)com dengan judul “5 Alasan wanita harus bekerja setelah nikah“, Memang Biasanya uang yang dikasihkan suami hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari hari, sedangkan para istri terkadang menginginkan accecoris,tas, baju atau segala perawatan mulai dari shampoo, bedak, minyak wangi dan sebagainya.

wanita-bekerja tak melupakan kewajibannya

Dikutip via Google

Artikel tersebut banyak menuai pro dan kontra, masalahnya orang dalam pemikiran zaman sekarang akan menyetujui kebebasan istri untuk bekerja, selain memang Karier istri lebih menonjol, juga terkadang kebutuhan hidup yang menuntut.

Sebaliknya, banyak juga artikel yang menjelaskan bahwa dengan adanya istri bekerja, perekonomian keluarga tetap seperti suami kerja sendiri. banyak artikel yang menjelaskan tentang itu mempertanyakan keberkahan dalam keluarga,

Seperti beberapa ulasan dari ummi-online(dot)com dengan judul “Mengapa Banyak Istri Bekerja Namun Keuangan Keluarga Tetap Kurang?“, Wanita bekerja akan mengurangi keberkahan dalam keluarga. Dengan Keberkahan itulah yang menyebabkan financial yang secara logika dua kali lebih banyak dari pada suami yang bekerja sendiri, malah seperti financial keluarga tetap kurang.

fitrah-wanita menjadi tulang rusuk, bukan tulang punggung

Dikutip Via Google

Di artikel tersebut menjelaskan bahwa dengan istri ikut bekerja memungkinkan financial bertambah dan menyebabkan gaya hidup juga meningkat. juga dapat menghilangkan keharmonisan keluarga. Dan yang paling penting menurut saya adalah tentang istri yang melalaikan hak hak suami lantaran sibuk dengan pekerjaannya.

Hal ini diperjelas lagi dengan survei dan riset di islamedia(dot)com dengan judul “Istri Bekerja Diluar Rumah dapat Mengurangi Keberkahan Rumah Tangga“, dikesimpulan artikel tertulis  :

Tidak ada larangan buat ibu bekerja dengan satu syarat, tugas pokok ibu tidak ada masalah, tidak ada hak-hak suami dan anak-anak yang berkurang yang dapat menyebabkan ketidakberkahan uang yang ibu dapatkan dari bekerja. Pastikan itu semua tidak ada masalah dan bekerjalah setelah itu.

Saya sangat setuju dengan artikel yang mengizinkan istri untuk tetap bekerja karena memang suatu alasan yang tepat, tapi tidaklah mudah bagi seorang istri untuk bisa memenuhi kewajiban wanita sebagai istri dan tuntunan perusahaan terhadapnya.

Tapi tidak untuk istri saya, disamping istri saya ini merupakan wanita yang istimewa dan unik menurut saya, Dia type wanita yang jarang suka dandan dan shoping, dia lebih sering memakai uang gajiannya untuk ditabung maupun disimpan buat keadaan darurat saja. Karena pada awalnya kita sudah merencanakan hanya saya saja sebagai suami yang akan bekerja. Jadi jika sekarang saya bekerja sendiri itu tidak terlalu berefek dengan kebutuhan sehari hari kita.

Banyak diantara teman teman istri saya (wanita) yang menyayangkan atas resign nya istri saya. Mereka hanya memaparkan alasan mereka hanya dalam segi financial saja. Padahal mereka sendiri adalah seorang wanita yang sama sama punya suami. Harusnya mereka juga sadar beratnya tanggung jawab menjadi ibu rumah tangga.

Istri saya menyadari keputusan resign adalah keputusan yang tepat, sebelumnya saya dan istri bekerja bersama dengan kesibukan di siang hari, sementara anak dirumah dijaga ibu saya yang kebetulan tidak bekerja. Tapi jika setelah istri saya melahirkan anak kedua apa harus dikasihkan ke orang  tua LAGI?.

Tentu saja tidak, itu akan merepotkan orang tua yang sekian lama telah ter-repoti membesarkan saya hingga menjadi dewasa. Walaupun orang tua bilang “tidak apa apa” untuk tetap bisa menjaga kedua anak kami. Tapi apa itu PANTAS?

Sedikit banyak inilah alasan kenapa saya lebih menginginkan istri saya untuk tidak bekerja :

  1. Pendidikan Anak

    Dikutip Via Google

    Dikutip Via Google

    Ini adalah alasan yang paling utama kenapa saya ingin agar istri saya tetap dirumah tidak bekerja, walaupun disaat kita sama sama bekerja anak saya tetap ada yang jaga yaitu orang tua saya.

    Saya lebih menginginkan istri saya untuk mendidik anak saya, saya tidak ingin ada yang lebih memberatkan HATI anak saya selain kepada orang tuanya (ayah dan mama), tidak terkecuali kepada nenek dan kakeknya.

    Yang saya takutkan saat kita sama sama kerja, otomatis perhatian anak akan terpaku pada kakek dan neneknya. Disetiap tidurnya menginginkan tidur sama neneknya, saat nangis teriak memanggil nama neneknya.

    Apa anda rela anak lebih memberatkan hatinya ke orang lain dari pada keorang tuanya sendiri. Kalau saya jelas “TIDAK

    Selain itu, dengan menempatkan istri dirumah, otomatis dia akan menjadi tokoh CENTRAL bagi anak dan mengajarkan apapun yang sudah kita musyawarakan berdua.

    Maksudnya gini, seandainya kita sama sama kerja, otomatis kita tidak bisa mengontrol tingkah laku anak. Kebanyakan anak kecil akan meniru kebiasaan orang yang mengasuhnya.

    Jadi kita tidak bisa mengontrol atau membuat karakter si anak seperti yang kita inginkan ketika harus sibuk menambah financial keluarga bersama.

    Disamping itu, kita juga bisa mengontrol apa saja yang anak kita makan, walaupun saya dan istri tidak pernah melarang untuk memakan apapun termasuk snack snack di toko, tidak semua snack baik, tekadang saya sendiri saja tidak menyukai snack yang terlalu gurih dan bisa batuk batuk setelah makan itu .

    Kebanyakan orang tua akan melarang anaknya untuk makan sesuatu seperti permen, cokelat atau yang menurutnya tidak baik, sama halnya saya, tapi saya sedikit memberi kebebasan untuk memilih.

    Ketika dia memilih snack yang saya tidak suka anak saya memakan itu, saya coba mengalihkan untuk snack yang lainnya. Tetapi kalau dia tidak mau yang lain, tetap saya belikan yang itu, walupun snack itu pedas, gurih atau yang menurut saya kandungannya tidak baik.

    Kenapa saya melakukan demikian, karena saya ingin mengajari anak saya untuk bijak dalam memilih makanan, seandainya snack itu pedas atau membuat dia batuk, disitulah anak kita bisa memetik pelajarannya.  entar buat memorinya dia saat mau beli snack itu lagi kita ingatkan kembali peristiwa lama setelah makan atau minum itu.

    Seandainya saat dia ikut kita berbelanja, tapi dia tidak meminta beli sesuatu, biarkan saja dia tidak meminta dan jangan ditawari, biar dia belajar untuk membeli sesuatu yang dia butuh atau inginkan bukan karena paksaan kita atau tawaran kita.

    Dan seandainya istri bekerja, apa karakter atau cara untuk mendidiknya akan sama seperti yang kita harapkan. Tentu saja “Tidak“.

  1. Focus Menata Financial

    Saya menginginkan agar istri focus dalam menata perencanaan anggaran biaya rumah tangga. Walaupun dengan dana yang tidak begitu besar seperti saat kita sama sama bekerja. Tekadang manusia akan menjadi lebih manusiawi (lebih pintar secara otomatis untuk bertahan hidup) disaat keadaan tidak begitu mendukung.
    financialBegitu juga istri saya akan menjadi lebih variatif dan mempunyai inovasi inovasi dalam menata keuangan keluarga.

    Intinya dengan dana tesebut dia memikirkan terobosan terobosan agar uang tersebut bisa cukup untuk kehidupan sebulan kedepan, syukur syukur tetap bisa menabung tiap bulannya.
    Baca juga : Terlalu Fokus Bikin Galau

    Enaknya dengan ada yang ngatur keuangan, kita sebagai suami tak perlu repot repot untuk berfikir mengatur uang tesebut. Cukup tiap gajian dikasihkan uangnya semua. Tinggal nunggu kita dikasih berapa. Ketika ada pengeluaran mendadak tinggal minta

    Jika uangnya tidak cukup untuk sebulan?

    Tenang… itu enaknya punya istri sepintar istri saya. Karena sebelum resign kita sudah mengumpulkan uang ditabungan untuk bekal anak sekolah atau memang ada pengeluaan yang tak terduga.

  1. Keharmonisan Tetap terjaga

    Saya bisa mengatakan ini karena saya adalah seorang pekerja yang terlalu sering melihat dan mendengar PERSELINGKUHAN antara pekerja. Sudah Bukan rahasia lagi tentang dunia bisnis maupun dunia pekerja  tentang perselingkuhan.

    Tidak hanya yang bujang menarik istri orang untuk berselingkuh, kadang orang beistri juga tetap bisa beselingkuh dengan wanita yang sudah punya suami juga. Biasanya mereka menyebut dengan istilah “cem cem’an

    Ya, memang manusia tak luput dari khilaf dan dosa, semoga saya bukan seorang laki laki yang seperti itu.

    Nah itulah alasan yang membuat saya tidak mengizinkan istri saya untuk bekerja, walaupun saya yakin istri saya adalah type wanita SETIA. Bukan karena saya ganteng atau kaya yang membuat dia bertahan, tapi dia sadar akan kodratnya sebagai istri yang harus mentaati imamnya.

    Dengan istri dirumah, tingkat perhatian istri ke suami juga akan meningkat, karena tidak semua suami dan istri yang sama sama bekerja seberuntung saya yang selalu bekerja dalam satu shift yang sama. Ada juga yang harus ketemu 6 jam setiap harinya karena berbeda shift.

keluarga
Dan juga soal hubungan intim, dengan istri dirumah, dia lebih siap untuk melayani suaminya ketimbang dengan istri yang sama sama bekerja. Karena tingkat kelelahan membuat si wanita tidak akan menikmati hubungan yang sakral tersebut. otomatis keharmonisan antara dua insan juga akan berkurang.

Dengan memikirkan beberapa alasan tersebut, saya dan istri saya merasa yakin akan keputusan yang kita ambil. Walaupun beban kehidupan semakin meningkat karena adanya buah hati yang InsyaAllah akan lahir saat lebaran syawal 1347 di tahun 2016 ini. Tetapi saya yakin dengan seberapa besar pengeluaran saya, Allah Subhanahu wata’ala akan selalu menyukupi kebutuhan saya dengan cara-NYA.

Semoga bermanfaat
Wassalamualaikum Waohmatullohi Wabarokatu

Iklan

11 pemikiran pada “Jangan Beranggapan Istri Tidak Bekerja Akan Mengganggu Perekonomian Keluarga

  1. Dulu sebelum menikah saya sempat berdebat dengan suami soal berhenti bekerja. Saya ingin nya berhenti setelah hamil. Tapi suami membantu saya memahami bahwa istri yang di rumah itu bukan berarti tidak bekerja. Dan kemudian saya mengalami sendiri hal itu. Saya ternyata cukup sibuk dengan urusan domestic hingga kadang lupa urus diri sendiri. Rasa jenuh jujur saja ada, tapi terobati jika melihat anak2 tumbuh sehat dan cerdas juga suami yang karirnya makin berkembang

    Suka

    • makasih mbk dyah udah kasih cerita pengalamannya dulu..
      ini saya juga masih sekitar 3 minggu kerja tanpa bantuan istri..
      yang penting bagi saya menyakinkan bahwa allah selalu memberi hamba nya petunjuk melalui Cara-NYA

      Suka

  2. Saya tipe yang pro kalau istri sebaiknya tidak bekerja kantoran (jadi karyawan maksudnya). kalau pun memiliki bakat lain misalnya menulis, berjualan online, menjahit, dll bisa dikerjakan di rumah agar kebersamaan dengan keluarga (terutama anak) lebih maksimal, karena ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya. Sebenarnya di rumah juga banyak kerjaan, dari pagi hingga malam tidak ada hentinya, kalau ikhlas malah bisa bernilai ibadah. Anyway, tiap orang punya pilihan masing-masing 🙂 thanks for sharing this article

    Suka

  3. Ping balik: Hari Pertama Dan Terakhir | Pennadiri

  4. Ping balik: Mengutip Si Pembuat Nyaman, Yang Ingin Pulang | Pennadiri

  5. Ping balik: Lebih Penting Mana? Karir atau Keluarga? | Pennadiri

  6. Ping balik: Hal-Hal Yang Perlu Dibicarakan Antara Calon Suami Dan Istri Sebelum Hari Pernikahan | Pennadiri

  7. Enak ya kalo punya istri penurut… mau di ajak resign… kalo istri saya . Saya suruh resign dy kayak stress.. saya takut kalo dy tambah stress tambah ga ke urus anak2… saya jadi bingung …moga2… istri saya dapat hidayah dan dia mau berhenti berkarir demi rt dan keluarga… aamiin

    Disukai oleh 1 orang

    • Sebenarnya itu keinginan istri saya kok mas,
      yah semoga saja, istri kerja atau tidak, asal tetap tugas dia sebagai istri dan ibu bagi anak tetep terjaga dengan baik, menurutku sih sah-sah saja mas, 🙂

      Suka

Tinggalkan Sebuah komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s