Lebaran pertama: Mudik hanya dengan Naila


lebaranSetelah istri melahirkan dihari ke 27 Ramadhan kemarin, membuat istri jadi tidak bisa ikut mudik seperti biasanya. Disamping Bayi yang baru lahir tidak bisa dibawa jalan jalan, keadaan istri juga tidak mendukung untuk bisa kemana mana lantaran jalan saja sedikit susah apalagi duduk di lantai.

Akhirnya ditahun ini saya harus silaturohmi keliling kampung hanya dengan anak saya saja dan mamanya menunggu tamu yang datang dirumah. Ya beruntung si Naila sudah tidak terlalu minta gendong. Kebayang tidak kalau harus gendong Naila yang beratnya sekitar 13 kg keliling kampung (walau hanya ¼ nya saja yang dikunjungi)

Setelah capek keliling kampung, tepatnya jam 8 pagi saya mulai bekemas untuk mudik ke kampung halaman istri. Memang tidak jauh jarak kampung halaman saya sama kampung istri saya. Butuh 1 jam dengan kecepatan tempuh 60 km/jam dengan sepeda motor untuk mencapai dari kota saya ke kota istri saya.
Kupaculah sepeda motor dengan membonceng anak saya didepan. Dengan helm yang baru saya beli di awal puasa kemarin yang sudah saya siapkan untuk bisa mudik berdua sama naila. Dan tentunya saya tidak lupa bawa selendang untuk jaga jaga naila mengantuk di jalan.

Sesampai di sana naila dalam keadaan sadar penuh dan langsung bermain dengan ponakan saya. Orang tua istri saya sudah meninggal setelah penikahan kami. Dan dirumah istri saya hanya ada kakaknya istri saya.
Biasanya di pas hari pertama lebaran kakak saya ini sudah mudik ke kampung halaman suaminya, tapi karena lebaran kali ini special, saya meminta jauh jauh hari agar saya ditunggu biar bisa keliling sama sama di kampung halaman istri.

Naila Ainur Zahira

Foto naila dengan ponakan dari kiri : Vira, Naila dan Diana

Lebaran Pertama dengan Naila

Wah pak de nya tidak ahli dalam fotografer. Sampai jempolnya ikut exist

Mudik bersama Naila

Di foto ini juga tetap ada jempol yang tidak mau kalah untuk exist..

Pasalnya saya sendiri jarang bahkan bisa dihitung menginap disana dalam setahun. Kalau hanya bertamu ke paman atau tantenya istri sih masih ada hal yang bisa dibicarakan. Tapi kalau ke tetangga lain?

Lagian dengan mendatangi tetangga lain hanya berdua dengan naila, pastinya kebanyakan yang saya datangi pasti akan Tanya “Mas, ini siapa ya?” haduh apa itu tidak bikin sakit hati. Hahahah.

Setelah bertamu ke keluarga disana dilanjut menuju kampung halaman kakaknya istri saya, sekalian searah dengan saya pulang kerumah nanti. Karena saya Cuma berdua jadi saya meminta agar ponakan bisa ikut saya keduanya. kan bisa dilihat kalau Bude nya naila cukup besar dalam menghabiskan tempat kalau di bonceng. hahaha 😀

Ditengah perjalanan si Naila tidur, walaupun saya goyang goyang tetap saja dia tidak bangun, akhirnya saya mengemudi dengan tangan satu di dstir sepeda dan satu tangan memegangi naila sampai ketujuan. Sebelumnya saya membahas selendang buat jaga jaga saat naila mengantuk. Akan tetapi selendang itu berada di tas ransel dibawa kakak saya.

Dikeluarga kakak saya itu juga banyak anak kecil yang membuat si naila menyukai berada disitu, sampai jam 4 sore yang saya rencanakan pulang akhirnya tidak jadi, disetiap saya ajak pulang si naila malah bilang:

Ndak mau pulang, Naila disini ama mbak vira, ayah pulang sendiri saja

Di paksa seperti apapun dia tetap tidak mau, dia asyik dengan mainan masak masakan dengan tanah liat. Disaat teman bermainnya mandi disitu saya ajak mandi dan setelah mandi dia baru bisa diajak pulang.

Naila belajar memasak

Naila belajar memasak

Disitu juga ada moment kucing yang lucu, Nama kucing itu simon. Katanya mas, kalau kucing tersebut tidur biasanya “ngiler” dilantai. Tapi kalau ditidurkan seperti manusia kucingnya mendengkur. Dasar kucing aneh..

Lebaan mudik dengan Naila

Simon in Action

Saat pulang, saya pakai selendang itu biar saya tidak usah repot epot memegangi naila. Tenyata dengan memakai selendang tesebut membuat beban pundak lebih berat sebelah. Dan ironisnya si Naila malah tidak tidur dan nyerocos dijalan sampai ke tujuan.

Memang melelahkan mudik berdua saja dengan anak yang masih usia 2,5 tahun, disamping haus extra hati hati karena menjaga anak sendirian dengan tingkat kenakalan Naila yang bisa dikatakan anak yang super aktiv.

Dan juga saya merasa kenyang karena harus makan makanan sisa dari naila disetiap rumah yang kita kunjungi, pasti yang mempunyai anak pernah merasakan seperti saya, tapi dampaknya sangat menyenangkan dan membuat si naila menjadi lebih sayang sama saya, hal itu terbukti disaat mau tidur dia mencari saya untuk membarengi dia tidur.

Sekian cerita mudik hari lebaran pertama hanya dengan anak balita sendirian

Wassalamualaikum Warohmatullohi Wabarokatu

Iklan

4 pemikiran pada “Lebaran pertama: Mudik hanya dengan Naila

  1. Ping balik: Base Camp Yang Telah Lalu | Pennadiri

  2. Ping balik: Tangisan Bidadari Peluluh Hati | Pennadiri

  3. Ping balik: Hal-hal Yang Perlu Disiapkan Menjelang Lebaran Masa Kini | Pennadiri

Tinggalkan Sebuah komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s