Jomblo Vs Jodoh


Pernikahan Halal

Dikutip Via Google

“Kapan Nikah”

Pertanyaan yang sering muncul diseputar lebaran. Bagi para jomblowan dan jomblowati, moment lebaran merupakan moment menyenangkan sekaligus pilu.

Menyenangkan disini karena bisa berkumpul dengan sanak keluarga besar. Dimoment lebaran ini juga bisa menjadi sebuah keberuntungan bagi jomblowan jomblowati dalam menemukan jodoh halal , Kok bisa?

Karena di moment lebaran ini setiap muslim melakukan silaturohmi ke tetangga atau ke sanak keluarga di kampung halaman ibu atau bapak. Siapa tahu bagi jomblower bisa ketemu jodohditanah kelahiran orang tua. :-p

Seperti halnya saya yang menemukan jodoh dihari lebaran. Dibilang jodoh emang sudah jodoh tapi mungkin dulu lebih tepat dibilang jatuh cinta untuk pertama kali kepada wanita bukan hanya karena hasrat diri terhadap wanita pada umumnya. Pada hakekatnya istri saya adalah teman satu kerja dalam satu perusahaan.

Baca : Kira-kira, Kamu Jodohku Bukan?

Di moment lebaran itu lah pertama kali saya kerumahnya yang dulunya hanya bestatus teman atau rekan kerja tidak lebih. Tidak ada rasa ketertarikan diantara kita sebelumnya. Diwaktu itulah saya menyadari kisah hidupnya, anggota keluarganya menurut sudut pandang saya. Dan intinya saya menemukan wanita dengan bibit, bebet dan bobot seorang istri idaman saya yang pas untuk menjadi ibu dari anak anak saya.

Diwaktu itu saya petama kali terkejut dan terpukau melihat paras wajahnya tanpa memakai jilbab. Terharu dengan mendengar kisah tentang keluarganya dan jatuh cinta dengan keunikan yang ada pada dirinya *Ups, Kok malah curhat*

Kembali ke topic, lebaran juga meupakan kisah pilu bagi para jomblowers, karena kebanyakan dari mereka pastinya akan mendapati pertanyaan serupa tentang:

Kapan Nikah?

Dikutip Via Google

“Kapan nih mau nyusul (nikah)”
“Kapan nih silaturohmi ke keluarga bersama pasangannya?”
“Kapan nih bawa Calonnya Kesini?”

Pertanyaan seperti itu yang membuat para jomblower kenyang saat lebaran, mau dijawab jujur maupun tidak hasilnya tetap sama, pasti akan ada pertanyan kedua seperti ini : “Nunggu apa lagi?”

Mungkin bagi jomblowan pertanyaan “nunggu apa lagi” masih bisa disangkal dengan alasan masih kuliah, belum bekerja dan sebagainya. Tapi kalau pertanyaan tersebut di peruntukan bagi para jomblowati, kebanyakan dari mereka hanya menjawab dengan senyum palsu dengan muka memerah dan sedikit kesal tentunya.

Cari Jodoh itu Sulit

Ya mungkin banyak dari para jomblo yang besependapat dengan statement diatas, bahwasannya mencari jodoh itu sulit. Bukannya mencari sosok yang sempurna, ya minimal tidak malu maluin saat diajak kondangan,atau mencari pasangan yang mapan baik sifat maupun penghidupan, dan yang paling penting adalah soal mencari pasangan yang setia.

Tapi menurut saya, keinginan seperti itu hanya sebuah “alasan pembenaran Diri”. Karena pada sejatinya setiap manusia menginginkan sosok pasangan yang terbaik dalam parasnya, mapan dalam kehidupannya, sopan dan santun dalam tutur bicaranya dan Pastinya setia terhadap pasangannya.

Jadi kalau menurut saya, sebenarnya mencari jodoh yang katanya “apa adanya” tapi tetap menunda, itu sama dengan masih mencari jodoh yang terbaik dan sempurna.

Baca juga : Niat Untuk Menunda

Masih Belum Kepikiran

Bagi jomblower yang masih terikat hubungan tanpa status seperti “PACARAN” bertahun tahun, dan mereka masih menunda nunda menjadi pasangan yang Halal karena alasan masih kuliah, masih belum kepikiran kesitu, masih belum Mapan. Bagi saya itu seperti mereka masih mencari sosok sempurna idamannya.

Jika masih berat untuk melangkah dikarenakan masih kuliah, karena takut harus repot masalah keluarga menjadikan tidak focus dalam kuliah, Belum lagi kehamilan disaat masih kuliah, Penghidupan perekonomian yang harus dibagi untuk bayar kuliah. Bagiku itu hanya Seperti “Alasan” yang berpedoman pada kata “JIKA”.

Belum dicoba sudah pesimis duluan, Ya kebanyakan dari orang Indonesia akan berpikiran sama seperti itu, secara logika masalah yang akan timbul seperti diatas tadi mungkin bisa terjadi. Tapi masih dalam tahap “Mungkin”, karena kita juga tidak tahu takdir mana yang akan membawa kita.

Istri saya juga kuliah disaat kita menikah dan mempunyai anak sebelum dia lulus S1 nya, tapi tetap kita bisa handle masalah keluarga dan istri tetap focus dengan S1 nya, emang di kehamilannya saat melahirkan, dia harus cuti dulu tapi Alhamdulillah dia bisa mengejar mata kuliah yang ketinggalan.

Pacaran bertahun tahun juga membuang buang waktu menurut saya, toh dari pada buang buang uang buat trip sana, hanting sini apalagi selalu nyimpan dosa sana sini. Mending ditabung uangnya buat bekal pernikahan nanti tanpa harus menjalani ritual PACARAN yang notabennya di zaman sekarang biasa bermesraan selayak pasangan Halal.

Masih Belum Mapan

Kebanyakan kaum pria yang beralasan seperti ini. Karena pada hakekatnya laki laki adalah imam dari sebuah keluarga yang harus menafkahi keluarganya. Jadi tidak salah jika banyak pria minder untuk menikah lantaran masih belum mapan.

Kata Mapan disini masih “Tabu”. Masalahnya Mapan disini sudah mendoktrin kaum pria disaat menginginkan pernikahan. Mempunyai suami yang mapan adalah keinginan setiap wanita, jadi sudah menjadi kebiasaan kalau pria berpikiran untuk manjadi mapan dulu sebelum menikah.

Baca juga : Jangan Terlalu Fokus Memantaskan Diri, Tanpa Ada Ihtiar Diri Untuk Menjemput Pasangan Diri

Bukan dari pihak Wanita saja menginginkan seperti ini, terkadang dari orang tua sendiri sudah mempesimiskan anaknya untuk menikah.

Belum mapan sudah menikah, Mau kasih makan apa istrimu entar, Makan batu!”. *plak plak* menampar hati kaum pria.

Kemapanan sendiri disini bisa berarti berbeda beda tergantung dari sudut pandang siapa, Ada yang berpikiran kalau belum kerja berarti belum Mapan, Belum punya Rumah sendiri berarti belum mapan, Belum punya mobil berarti belum mapan, Belum punya Vila berarti belum mapan dan sebagainya.

Kalau menuruti mapan trus kapan nikahnya

Jika menuruti mapan dengan harus punya rumah sendiri, pastinya butuh proses untuk menunggu semua itu tercapai. Terus kapan kepikiran nikahnya?. Ingat wanita semakin lama semakin menua, apa masih ada cinta saat wanita belum dinikahi sudah menua.

Kadang banyak yang berfikir dengan mempunyai rumah sendiri membuat pernikahan yang bahagia, karena tidak ada campur tangan orang tua atau saudara saudara. Memang sering kali permasalahan yang timbul dalam suatu rumah tangga terkadang dipicu dari campur tangan orang tua ataupun saudara yang tidak cocok dengan rasa si Menantu.

Ya, masalah seperti itu yang pertama kali harus di lompati dalam menjalani mahligai rumah tangga. Karena pada dasarnya pernikahan adalah penyatuan 2 keluarga, 2 adat dan 2 budaya. bukan hanya penyatuan 2 sejoli yang dimabuk asmara.

Kalau menyatukan 2 insan itu biasanya dijodohkan maupun ta’aruf, tapi dizaman sekarang yang banyak orang menyebut zaman kebebasan memilih yang mewajibkan ritual “PACARAN” agar bisa mengenal sosok pasangannya. Menyatukan 2 sejoli bukan masalah lagi karena sudah dari awal pengenalan dan pemahaman karakter sudah dilakukan dalam masa Pacaran dulu.

Berbeda dengan penyatuan 2 Keluarga, yang mempunya adat dan budaya yang berbeda. Saran saya sih adanya saling mengalah dan saling bermusyawarah dengan segala perbedaan yang ada. InsyaAllah bisa teratasi perbedaan tersebut.

Kalau menurut saya, tidak ada jaminan dengan mempunyai rumah sendiri membuat kehidupan keluarga bahagia. Banyak pasangan pasangan diluar sana yang rela putus ditengah jalan walau sudah mempunyai rumah sendiri dalam menghadapi naik turun kehidupan.

Kuncinya adalah Sabar dan mau memahami dalam sudut pandang yang berbeda. Kemarahan yang didasari ego hanyalah pembuat mala petaka dalam keluarga, jadi hendaklah tetap menahan amarah dan lebih mengutamakan musyawarah ketika terjadi perselisihan paham.

Pemahaman karakter dan pengalaman dalam Pacaran Bertahun Tahun tidaklah berguna dalam menghadapi permasalahan keluarga. Karena pada dasarnya pernikahan itu membuka topeng topeng manis yang diperlihatkan saat Pacaran dulu. jadi jangan kaget ketika sudah berumah tangga, sifat sifat yang dulunya tidak pernah tampak saat pacaran akan terbuka di mahligai rumah tangga.

Semoga Bermanfaat.

Wassalamualaikum Warohmatullohi Wabarokatu

Iklan

10 pemikiran pada “Jomblo Vs Jodoh

  1. Dua hari ini saya baca postingan2 serius semua. Soal pernikahan dan menjadi orang tua…

    Semoga tetep sakinah mawaddah wa rohmah ya mas…

    Suka

    • Amin….
      Iya, saya juga kepikiran bikin judul itu sejak awal lebaran.. Karena banyak yang posting dimedsos tentang
      “Jangan tanya nikah saat lebaran”
      Atau yang lain2
      Jadi pengen buat artikel yang berdasar keluhan mereka akan pernikahan

      Suka

  2. Ping balik: Jangan Hanya Terlalu Fokus Memantaskan Diri, Tanpa Ada Ikhtiar Diri Untuk Menjemput Pasangan Diri | Pennadiri

  3. Ping balik: Hal-Hal Yang Perlu Perhatikan dan Dilakukan Sebelum Memutuskan Menikah | Pennadiri

  4. Ping balik: Enakan Mana? Single Tapi Bahagia Atau Pacaran Penuh Luka | Pennadiri

  5. Ping balik: Beberapa Alasan Sebagian Orang Yang Menolak Menikah Usia Muda | Pennadiri

  6. Ping balik: Bahagia Itu Sesederhana Melihat Senyumanmu | Pennadiri

  7. Ping balik: Hal-hal Yang Perlu Disiapkan Menjelang Lebaran Masa Kini | Pennadiri

Tinggalkan Sebuah komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s