Seruan Hati dan Pengorbanan Diri


seruan hati

Sesungguhnya di dalam tubuh ada segumpal darah. jika segumpal darah tersebut baik maka akan baik pulalah seluruh tubuhnya, adapun jika segumpal darah tersebut rusak maka akan rusak pulalah seluruh tubuhnya, ketahuilah segumpal darah tersebut adalah hati.” (HR. Imam Bukhori dan Muslim)

Sering kali kita sebagai manusia mengabaikan seruan hati untuk berbuat baik, bukannya tidak mendengar tapi kita paham dan sangat mengerti apa seruan hati kita, tapi sering kali kita mengunakan kata

Nanti”,”Bentar Lagi”,”Lima Menit Lagi” untuk menunda apa yang diserukan oleh hati. Kadang juga kita mengiyakan seruan tersebut, tapi hanya sebatas “Mengiyakan” saja tanpa adanya actualisasi dalam bentuk fisik.

Di Ramadhan kemarin, sering kali seruan hati tersebut berkumandang
sangat keras di dada saya, ajakan untuk berbuat baik selalu saja muncul disetiap langkah pada Ramadhan tahun ini. Mungkin “Hati” tau kalau ramadhan adalah waktu yang tepat untuk berbuat baik, karena hanya kebaikanlah yang membuat “Hati” menjadi kenyang, Amal yang baik membuat “Hati” Menjadi tenang dan Nyaman.

Tapi ini tentang DIRi yang sangat kuat pengaruhnya ketimbang Hati, Terkadang Seruan tersebut hanya berakhir dengan menjanjikan Hati dengan kata Lain kali, Lima menit lagi, masih Mengantuk dan Sebagainya.

Alhasil pencapaian saya di Ramadhan ini hanya terwujud dengan Sholat Terawih, Banyak alasan Diri untuk memberatkan tubuh melakukan Membaca Alqur’an. Dimulai kesibukan memberi makan anak diwaktu Sore, Waktu yang sedikit dikala Maghrib, Mata yang mengantuk saat setelah Terawih, dan kekenyangan sehabis sahur.

Begitu juga dengan Qiyamul Lail kemaren yang menyanggupi Sholat saat sudah MALEMAN (malam 21,23,27dan 29) akan tetapi hanya malam 21 dan 27 saya bisa mnyempatkan diri bangun dan Sholat.

Sebenarnya tidak ada yang memberatkan soal bangun di malam hari, sholat setelah Sahur juga masih dihitung sepertiga malam. Yah mungkin dasaran saya yang meng-iyakan dan menunda nunda seruan hati mengajak kebaikan.

Saya belajar banyak di Puasa kemarin tentang Seruan Hati ini, Semakin saya menunda dan menyanggupi “Hati” ini, Maka semakin tipis juga kemungkinan Diri untuk melaksanakan Seruan tersebut.

Hati yang sesat

Memang dibutuhkan pengorbanan diri untuk melakukan Seruan tersebut. Melawan ego diri, melawan rasa kantuk dan yang paling berat melawan pembenaran diri (merasa dirinya benar, Merasa dirinya Tak berdosa, merasa dirinya hamba yang akan masuk surga, Dan sebagainya).

Sebenarnya seruan tersebut tidak hanya mengajak untuk melakukan hal baik, terkadang seruan tersebut juga mencegah kita untuk melakukan hal buruk.

Seperti halnya saya, saya adalah seorang laki laki yang sudah bersuami. Terkadang hasrat melihat kaum HAWA juga timbul dalam diri. Apalagi sekarang zamannya Social Media (Sosmed), ada istagram, facebook, twitter dan lain lain.

Rutinitas tiap hari dizaman sekarang adalah membuka posting posting teman baik kenal secara fisik maupun hanya kenalan Maya. Selfie adalah hal wajib mungkin untuk para penggila sosmed baik dari instagram maupun facebook.

Dari situlah terkadang saya melihat wanita dengan pose selfie dengan kecantikannya terlihat oleh mata saya. Bukannya sok suci tidak melihat, tapi tanpa sadar saya juga like fotonya dan melihat dengan seksama kecantikannya. Terkadang suara hati mengingatkan agar tidak berlama lama dengan melihat itu, maka cepat cepatlah saya beristighfar akan hal itu.

Hijab Seorang Lelaki

Dikutip via Google

Pernah sesekali saya terdiam di kamar dengan gejolak pertarungan Hati vs Diri dalam batin, Kala itu ada masalah keluarga tentang ke-egoan sebagai suami. Disatu sisi Hati akan lebih memihak kepada kelembutan dan kebenaran. Sedangkan Diri tetap bersikukuh dengan ego serta pembenaran diri yang kuat.

Dan alhamdulillah masalah tersebut rampung dengan Hati pemenangnya, saya lebih meminta maaf kepada istri walau saya tahu DIRI saya juga benar tentang masalah tersebut. Tapi mendengar alasan istri kenapa sampai menangis adalah tentang hak dia mendapat perhatian suaminya walau hanya sekedar sms “alasan tidak pulang cepat”, yang biasanya paling lama pulang jam 2 pagi,  ini sampai jam 3 pagi hampir imsyak. miris rasanya mendengar jawaban istri yang hanya mengkhawatirkan saya, sementara saya hanya mencari pembenaran atas kenapa tidak kasih kabar.

Yah semoga dengan pelajaran ini saya bisa lebih mendengar seruan Hati serta langsung menanggapi dengan pengorbanan diri untuk melakukan apa yang diserukan oleh hati.

Semoga Bermanfaat

*Note: Biar tidak terjadi gagal paham kenapa saya pulang sampai sepagi itu. Sebenarnya saya pulang sepagi itu bukan untuk hal buruk.. Tapi lebih sebuah rutinitas jamaah dzikir yang mengharuskan pulang jam segitu.

Wassalamualaikum Warohmatullohi Wabarokatu

Iklan

5 pemikiran pada “Seruan Hati dan Pengorbanan Diri

  1. Ping balik: Memaknahi Hari Pahlawan : Pahlawan Yang Tak Pernah Lelah | Pennadiri

  2. Ping balik: Memaknai Hari Pahlawan : Pahlawan Yang Tak Pernah Lelah | Pennadiri

  3. Ping balik: Arti Cinta Sejati itu… | Pennadiri

  4. Ping balik: Mengapa Harus Takut Dengan Jatuh Cinta | Pennadiri

  5. Ping balik: Cinta Itu Butuh Pengorbanan | Pennadiri

Tinggalkan Sebuah komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s