Sang Pengalih Perhatian


pengalih-perhatianSeperti artikel kemarin tentang Hujan yang cukup begitu membekas dihati, karena disetiap hujan turun terkadang saya tersenyum sendiri mengingat kegalauan hati kala itu. Dan Bagiku Hujan merupakan pengalih perhatian disela sela rutinitas kehidupan sekarang.

Disaat lagi fokus fokusnya berkendara di kondisi kebasahan akan hujan, terkadang saya mengingat kembali kenangan saat hujan tersebut. Bukan expresi sedih saat mengingatnya, malah lebih menertawakan diri dan seolah tak menyangka sosok sekeras kepala seperti saya bisa terluka karena Cinta.

Lagi-lagi hujan menguras kembali ingatan yang telah lalu. Kemarin setelah sampai dirumah, saya melepaskan mantel dan memarkir sepeda di teras depan rumah. Melihat anak kecil lari larian di keadaan hujan membuat saya teringat kembali bagaimana kenangan saya akan hujan diwaktu kecil.

Diwaktu kecil sering diomelin oleh ibu ketika main saat hujan, mulai dari omelan tentang pakaian yang kotor, basah dan juga tentang bahaya kalau mandi disungai  dikala banjir.  Mungkin anak zaman sekarang tidak merasakan apa yang saya rasakan dulu. Dikala hujan yang paling menyenangkan adalah main sepak bola di lapangan. Selain bisa sleding tackle ala Kojiro hyuga (Tokoh di anime Tsubasa) juga bisa selebrasi ala pesawat terbang meluncur di tanah.

Dan yang paling seru adalah mandi disungai walaupun kala banjir. Tapi berbeda banjir sekarang sama dulu, dulu sungai yang begitu lebar dan tidak bayak sampah disungai. Jadi setiap ada hujan, air sungai hanya meluap sedikit tidak seperti sekarang. kalau sekarang sungai yang mengecil dan sampah yang menumpuk membuat arus sungai semakin deras dan membahayakan serta terlihat begitu kumuh.

Dulu sering sekali membuat rakit dari beberapa batang pohon pisang, ya tujuannya bisa dinaiki saat sungai mulai deras karena hujan. Kita naiki dari atas sungai sampai menuju bawah. Setelah itu kita angkat rakit sama sama dan berjalan dipinggiran sungai sampai atas sungai dan menaiki rakit lagi menyusuri sungai sampai dibawah. Begitu seterusnya.

Mungkin dulu saya tidak pernah merasa sedih ataupun expresi sebangsa sedih lainnya, ya karena disamping saya masih kecil yang tak mengerti arti sedih, juga kemungkinan karena hujan ini mengalihkan saya pada semua hal dan fokus untuk bersenang senang kala itu.

Sepak bola

Semenjak bangku SMP mulailah saya menyukai olaraga ini, sebenarnya mulai dari kecil juga menyukainya tapi diwaktu SMP saya mencoba ikut Sekolah Sepak Bola biar lebih mahir memainkannya.

Karena olaraga ini saya juga sering kena marah oleh ibu karena saya jarang ngaji gara gara main bola ini. Kebetulan ngaji saya saat sore hari setelah asyar sedangkan latihan main bola juga setiap sore di hari rabu, jum’at dan minggu. Sementara hari kamis tempat ngajinya libur karena ada tahlilan dan juga adat “nyekar” ke pesarean (kuburan). Jadi fix rabu, kamis, dan jumat saya libur Ngajinya.

Olaraga ini yang bisa membuat saya melupakan tegangnya persaingan di bangku SMP mengingat saya berada dikelas Unggulan. Kebanyakan anak bicara masalah teknologi, pelajaran, les privat dan lain lain. Dan saya hanya seorang anak buruh tani yang beruntung bisa masuk ke kelas itu. Hanya ada rasa kurang percaya diri dan menyendiri yang saya dapatkan dikelas tersebut. Saya gagal berkembang karena pada dasarnya saya malas belajar.

Tapi Alhamdulillah, karena Olaraga ini banyak orang yang mengenal saya lewat sepak bola ini. Dan ketika kelas 3 SMP saya keluar dari kelas unggulan dan dipindah ke kelas dengan banyaknya mafia dikelas. Saya bilang mafia karena dikelas ini terkumpul anak yang sering keluar masuk BP (Bimbingan Konseling).

Tapi justru saya menikmati berteman dengan mereka, disamping ada rasa aman berjalan bersama mereka (aman dari mafia mafia kelas lainnya) serta kebanyakan dari mereka menyukai olaraga yang sama. Rasa kepercaya diri mulai berkembang dikelas tersebut, dan baru dikelas itu saya mulai berbincang akrab dengan lawan jenis (wanita).

Game

Karena saya menyukai sepak bola, tentunya Game yang saya mainkan ya game Balap Kuda sepak bola. Hal ini lebih banyak saya lakukan di Sekolah menengah Atas. Sering kali ada masalah tentang pelajaran atau presentasi yang ditolak, Kami sering lari ke Game Play Station tersebut.

Kita saling ejek saat ada yang mengalami kekalahan, jadi ada motivasi sendiri biar tidak kalah dalam permainan ini. Karena disetiap ada kekalahan yang memalukan akan jadi topik panas saat dikelas esoknya.

Mungkin karena Game itu membuat kita berteman dan memahami karakter masing masing. Memaklumi kata kata yang sedikit kasar dan memaafkannya adalah hal yang biasa kita lakukan bersama.

Media Sosial

Sebelum tahun 2009 mungkin banyak yang mengetahui friendster, dulu saat ada masalah di pekerjaan, update status di friendster adalah hal yang sering saya lakukan. Dibilang sering juga paling seminggu sekali karena di tahun tersebut HP masih belum canggih.

Tiba di era Facebook, friendster mulai ditinggalkan. Saya juga semakin sering bermain Facebook ini karena masih bisa di akses dengan HP Nokia 3200 punya saya. Jadilah Facebook ini sebagai Diary kecil saya yang bisa di lihat banyak orang. ;p

Apalagi di Facebook ini ada game gamenya, menjadikan pengalih perhatian yang luar biasa karena sering kali saya lupa dengan kerjaan saya karena asik bermain “Marketland” di facebook. Nah mau gimana lagi, kalau gamenya saya tinggal buka yang lainnya, entar toko virtual saya jualannya bisa habis. dan mengakibatkan pelanggannya marah. hahahaha 😀

Anak

Setelah berkeluarga, pengalih perhatian yang sebelumnya ada sekarang terkikis dengan adanya seorang Anak dalam hidup saya. Saya yang sudah hobi bermain sepak bola dari dulu  lebih memilih untuk diam dirumah atau ngajak Naila jalan jalan ketimbang harus main sepak bola disore hari.

Sama halnya dengan game atau media sosial juga terkadang lebih terabaikan karena sibuk dengan anak, apalagi sekarang sudah nambah satu lagi anaknya. Sebelumnya saya pernah tuliskan sedikit tentang anak saya Naila di artikel “Alasan saya tidak bermain COC”. Karena memang anak saya yang satu ini adalah pengalih perhatian yang hakiki.

Pun jika saya mengabaikannya, dia dengan segala cara akan menunjukkan agar saya tetap memperhatikannya. Baik dengan mengajak ngobrol saya, merebut Hp yang saya bawa, bahkan iseng mencolek tangan saya dengan jemari kecilnya yang terdapat sebongkah “Upil” di jari telunjuknya hasil dari mancing dari hidungnya.

Begitupun ketika saya suntuk dan letih setelah bekerja. Hanya dengan melihat sosok anak baik yang besar maupun yang kecil. Membuat saya ingin mengendongnya, seakan lelah dan letih itu hilang dengan sendirinya.

Anak juga obat dari masalah keluarga. Jika suami dan istri sedang berantem atau adu argumen yang membuat keduanya saling menjauh. Rasa kasihan dengan anaklah yang membuat mereka kembali akur.

Seiring bertambahnya waktu, mungkin setelah anak anak beranjak dewasa. Mungkin hanya ada satu pengalih perhatian dalam hidup saya. Sampai kapanpun dan sampai tua pun dia selalu menjadi penyemangat dan pendorong dalam menapaki kehidupan ini.

Ya, tentu saja Istri saya

Semoga Bermanfaat

Wassalamualaikum Warohmatullohi Wabarokatu

Iklan

9 pemikiran pada “Sang Pengalih Perhatian

  1. Ping balik: Mengutip Si Pembuat Nyaman, Yang Ingin Pulang | Pennadiri

  2. Ping balik: Hal-Hal Yang Perlu Perhatikan dan Dilakukan Sebelum Memutuskan Menikah | Pennadiri

Tinggalkan Sebuah komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s