Candaan Yang Menyesatkan


becanda-yang-menyesatkanBercanda sih boleh aja asal tidak keterlaluan. Begitulah topik yang ingin saya usung dalam artikel ini. Kerja kalau tidak ada hiburan seperti candaan ringan dari rekan kerja, seperti akan membuat ketegangan otak yang mungkin bisa membuat kita lebih gampang stress mikirin kerjaan.

Diperusahaan yang saya dipekerjakan juga mempunyai ide memasang sebuah hiburan dalam produksi agar karyawannya tidak terlalu tegang dalam bekerja. Hiburan tersebut adalah sebuah musik yang diputar lewat pengeras suara. Terserah musik apa yang akan diputar, yang penting semua karyawan menikmati musik dan bekerja tanpa ada ketegangan.

Seperti yang tadi saya bahas tentang candaan ringan dari rekan kerja. Sepertinya hal itu perlu dilakukan. Seperti mengobrol sambil bekerja, ngegosip atau bercerita sambil tetap mata terpaku pada layar dan sesekali melihat ke arah lawan bicaranya.

Sama halnya karyawan yang bekerja diproduksi juga melakukan hal yang sama. Disamping saling bicara untuk sebuah keakraban serta bicara juga bisa untuk saling mengingatkan kalau ada yang kurang dalam kerjaannya.

Baca Juga : Nasib Menjadi Buruh, Diam Salah Ngejawab Cari Gara-gara

Tapi tahun demi tahun hal yang dibicarakan semakin beda dari pada 7 tahun silam saat pertama kali saya masuk di perusahaan ini. Dengan bermaterikan karyawan baru (usia 19-23), mereka saling berbicara/bercanda yang menurut saya tak lazim.

Kadang saya tidak menyukai topik yang dibicarakan dan kadang saya tidak menyukai saat cara bicaranya yang beda. Mungkin saya aja ya, yang mungkin kurang Alay atau kurang lihat sinetron. Saya malah lebih banyak menhabiskan melihat kartun *harap maklum saya mempunyai anak kecil penguasa remote televisi.

Bicara Jorok Untuk Pelengkap Pembicaraan

Salah satunya adalah kebiasaan bicara jorok. Mungkin yang pernah hidup di wilayah Surabaya dan sekitarnya atau lebih tepatnya daerah sekitar kota Bangil dan Pasuruan. Kata C*k adalah sebuah kata tambahan baru dalam tata cara pergaulan di daerah ini.

Saya mengatakan hal tersebut bukan berarti orang satu kota selalu berbicara seperti itu, hanya saja sering kali saya menjumpai anak (kebayakan cowok) daerah surabaya sekitarnya mengunakan kata tabu itu untuk berkomunikasi sesamanya.

Sebenarnya untuk bicara sebagai sarana peng-akraban diri adalah hal yang baik, tapi kalau tata bicaranya yang seperti itu. Terkadang saya merasa risih harus bicara dengan teman seperti itu.

Sejatinya kebiasaan seperti itu mudah untuk dihilangkan, tanpa harus berpuasa untuk bicara pun sangat mudah untuk tidak membicarakan kata jorok seperti itu lagi. Yaitu dengan bicara layaknya menganggap orang lain sebagai Pacar.

Karena saya sering kali menjumpai orang yang berbicara jorok, ketika berbicara kepada pasangannya sangat lemah lembut. Kayaknya tak pernah sekalipun terlontar kata tabu disetiap bicaranya seperti biasanya.

Menghina Adalah Candaan Lumrah

Entah ini salah siapa, sepertinya sudah menjadi sebuah kebiasaan yang lumrah saat hinaan hanya dianggap sebuah candaan. Kalau yang sudah bertahun tahun menjadi teman akrab, candaan menjurus kesebuah hinaan sepertinya sudah kebal ditelinga. Tapi bagi karyawan yang baru masuk, apa itu tidak membuat sakit hati!. Bahkan nekat bunuh diri untuk resign dari perusahaan karena sebuah omongan.

Pada dasarnya setiap manusia mempunyai tingkat kecerdasan kekebalan terhadap kepedulian akan sesuatu. Kadang ada orang saking tidak pedulinya dengan gunjingan dan hinaan yang diterima. Dan ada pula yang sangat sensitif atas omongan yang tidak mengenakkan hatinya. Sebenarnya dibilang kebal juga ada rasa “mangkel” saat ada hinaan masuk ke telinga. Cuman ada rasa sabar dan memaklumi karena sudah tahu sifat dari temannya itu.

Memangil Dengan Sebutan Hewan

oh, kamu tu kerjaannya lambat banget, Dasar Kura Kura. Cepet selesaikan itu Kura!

Hmm, Kalu udah soal makanan, larinya cepat. Dasar kuda. Hei Kuda sini bawa ini roti ke teman-teman

Ya itu contoh dalam bahasa indonesia, kalau contohnya dalam bahasa jawa itu lebih ironis dan tragis lagi.

Woow.. Wedhus Goblok iku, Kapan koen isok, lek ngene carane?” (Woh, Kambing Bodoh,. Kapan kamu bisa, kalau caranya sperti ini?)

Hahaha “Edan”  bukan!, kalau pakai bahasa jawa. Bahasa yang paling komplek dari semua bahasa di alam semesta dunia. Sebenernya bukan masalah komplek atau tidaknya suatu bahasa yang ingin saya bahas. Tapi tata bicara yang menyamakan manusia seperti hewan itu yang saya tidak sukai.

Dan hal itu malah menjadi candaan yang menyenangkan kata sebagian orang. Bisa jadi saling lempar ejekan dengan kalimat serupa.

Contoh:

Ya gak bisa gitu, kambing” celoteh si A

Wuich kambing!, Trus gimana Supit Udang” Balas si B

ya mana aku tau Kuping Gajah, ente kan yang operatornya” Balas si A lagi

Woh, Kurapnya Sapi, kok malah menyalahkan operator” Si B membela

Selanjutnya bisa diterusin sendiri….. :p

Sama halnya dengan Hinaan, tapi ini sedikit berbeda dan  lebih parah, karena melibatkan hewan yang tak berdosa. :p

Buka Aib Sebagai Topik Hangat

Nah itu yang paling saya tidak suka, tapi malah ironisnya hal semacam ini malah jadi topik hangat untuk diperbincangkan dalam sebuah candaan yang keterlaluan ini. Kalaupun sudah akrab menjadi teman tetap akan kesal saat aib sendiri tersebar sebagai topik guyonan.

Sebenarnya dalam kehidupan sehari hari, saya sering menjumpai guyonan seperti itu. Tapi etika untuk membeberkan aib itu yang saya tidak ingin menulisnya. Jadi tak masalah karena sudah banyak contoh dalam acara televisi yang lebih mempertontokan hal tersebut dari pada inti acara itu sendiri.

Ya.. acara televsisi seperti F***B**R yang justru menawarkan sebuah guyonan tak lazim, saling Hina, saling buka Aib dan mengunakan Penonton bayaran supaya ada yang tertawa didalamnya. Ironis memang, Tertawa yang seharusnya karena lucu itu malah seperti tertawa di atas penderitaan orang lain.

warkop

Mereka Lucu karena mereka aktor yang hebat. Bukan lucu karena saling hina dan saling buka aib apalagi sewa penonton bayaran Sumber gambar dari google

Candaan Ala Rosulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Berbeda dengan Candaan ala Rosulullah yang saya kutip dari Blog ini,

Sebagai Panutan umat,Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pun melakukan apa yang itu dinamakan Bercanda. Beliau  sering mengajak istri dan para sahabatnya bercanda dan bersenda gurau untuk mengambil hati serta membuat mereka gembira.

Namun canda beliau tidak berlebihan, tetap ada batasnya. Bila tertawa, beliau tidak melampaui batas tetapi hanya tersenyum. Begitu pula dalam bercanda, beliau tidak berkata kecuali yang benar.

Sebagaimana yang diriwayatkan dalam beberapa hadits yang menceritakan seputar bercandanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seperti hadits dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha,

“Aku belum pernah melihat Rasullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tertawa terbahak-bahak hingga kelihatan amandelnya, namun beliau hanya tersenyum.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu pun menceritakan, para sahabat bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Wahai, Rasullullah! Apakah engkau juga bersendau gurau bersama kami?” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab dengan sabdanya, “Betul, hanya saja aku selalu berkata benar.” (HR. Imam Ahmad. Sanadnya Shahih)

Tak ada Nenek-nenek didalam Surga

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga pernah bergurau dengan nenek-nenek tua yang datang dan berkata, “Doakan aku kepada Allah agar Allah memasukkan aku ke surga .” Maka Nabi SAW berkata kepadanya, “Wahai Ummu Fulan! Sesungguhnya surga itu tidak dimasuki orang yang sudah tua .”

Maka wanita tua itu pun menangis , karena ia memahami apa adanya. Kemudian Rasulullah SAW memahamkannya, bahwa ketika dia masuk surga, tidak akan masuk surga sebagai orang yang sudah tua, tetapi berubah menjadi muda belia dan cantik. Lalu Nabi SAW membaca firman Allah SWT:

“Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (wanita-wanita surga) itu dengan langsung, dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan, penuh cinta lagi sebaya umurnya.” (QS Al Waqi’ah: 35-37)

Kurma dan Bijinya

Suatu ketika, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para sahabat radhiyallahu ‘anhu sedang ifthor. Setiap kali mereka makan sebuah kurma, biji- biji sisanya mereka sisihkan di tempatnya masing- masing.

Beberapa saat kemudian, Sayyidina Ali radhiyallahu ‘anhu menyadari bahwa dia memakan terlalu banyak kurma. Biji- biji kurma sisa mereka menumpuk lebih banyak di sisi Ali dibandingkan di sisi Rasulullah. Maka Ali pun secara diam- diam memindahkan biji-biji kurma tersebut ke sisi Rasulullah. Kemudian Ali ra dengan tersipu-sipu mengatakan,

Wahai Nabi, engkau memakan kurma lebih banyak daripada aku. Lihatlah biji-biji kurma yang menumpuk di tempatmu.” Nabi pun tersenyum dan menjawab, “Ali, kamulah yang memakan lebih banyak kurma. Aku memakan kurma dan masih menyisakan biji-bijinya. Sedangkan engkau, memakan kurma berikut biji-bijinya”. (HR. Bukhori)

Semoga artikel ini bisa membuat kita menyadari bahwa becanda iru sah sah aja, tapi tetap ada batasan untuk ukuran becanda yang benar. Kita contoh bagaimana Nabi Muhammad ketika bercanda bagaimana cara beliau tertawa tersenyum.

Wassalamualaikum Warohmatullohi Wabarokatu

Iklan

20 pemikiran pada “Candaan Yang Menyesatkan

  1. Kadang orang- orang suka bercanda nya berlebihan… sampai- sampai candaan nya malah bikin masalah hubungan baik sama orang lain nya jadi rusak…. Apalagi kalau udah manggil pakai nama hewan udah ga baik sih…. masalahnya tiap orang kan pasti nanggepin nya beda- beda…

    Salam… 🙂

    Suka

  2. Saya paling nggak suka becandaan yang objeknya fisik. Entah itu gendut, kurus , pincang keriting kulit item dll. Nggak layak dijadiin bahan becandaan. Soalnya semua bikinan Allah dan Allah bikin begitu selalu ada sisi baik yang menyertainyakomen sok bijak

    Suka

    • Tapi emang begitu adanya Bu…
      Apapun bentuk fisik maupun bentuk anggota badan yang ada di manusia…
      Ntar akan di pertanggung jawabkan di hari pembalasan…
      Jadi yang merasa tampan atau cantik. Entar akan ditanyai bagaimana mengunakan ketampanan itu atau kecantikan itu..
      Untung aq bisa dibilang gak tampan jg gak jelek…
      Jadi insyaallah gak di tanyai entar…
      Amin Ya Allah…. :3

      Suka

    • Hmmmm..
      Klo yang kasus seperti itu biasanya
      Cowok punya keluarga yang nafsunya melebihi akalnya..
      Jadi suka banget becandain gadis atau janda2 bahkan yang masih punya suami jg.
      Tapi anehnya kadang si wanitanya jg nangapin candaan tersebut.
      Nah loh… Sepertinya suka becanda hal seperti itu :3

      Disukai oleh 1 orang

  3. Setuju banget.

    Saya sangat suka becanda tapi berusaha banget untuk menjauhkan isi bencandaan dari semua hal yang “kurang/tidak baik” yang Mas tuliskan. Becanda boleh tapi tetep berkualitas. Entahlah, saya mungkin sok tahu, tapi akhir-akhir ini kualitas adalah satu kata mahal yang mulai dilupakan oleh banyak orang. Kemampuan otak untuk mengolah kata (dan canda) untuk mencari hal-hal yang lucu tidak digunakan dengan maksimal, yang penting cepet lucu aja. Apa hal yang paling instan untuk menghasilkan kelucuan? Ya semua hal yang kurang/tidak baik yang Mas tuliskan tadi.

    Suka

  4. menarik mas, tapi bukannya hal2 kaya gtu ya yg memisahkan pergaulan orang2? karna candaan termasuk dari sifat, iya engga sih? hahahha *sotoy

    mungkin yg repot kaya masnya ini, temen satu kerja, jadi kan repot, antara engga enak tapi temen sekerjaan.

    Disukai oleh 1 orang

  5. Ping balik: Bertaubat : Perubahan Yang Lebih Baik Itu Perlu! | Pennadiri

  6. Ping balik: Bagimana Sholat Yang Baik dan Benar itu? | Pennadiri

  7. Ping balik: Ada Nggak Enaknya juga, Kerja Terlalu Santai Itu | Pennadiri

Tinggalkan Sebuah komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s