Tarian Malam


tarian malam

Dikutip Via Google

Aku Terjaga ditengah Malam, Ditengah hawa dingin yang menusuk,dan kesunyian malam yang terusik oleh nyayian sang bidadari. Tarian demi tarian kujalani, agar bisa seirama dengan nyanyian bidadari menuju keheningan yang kucari

Akhir akhir ini saya sering sekali terjaga di tengah malam, Bukan bangun untuk sholat, melainkan untuk menari dan terkadang bernyanyi agar sang buah hati tertidur kembali.

Diusia masih belum genap sebulan, sudah menjadi hal yang lumrah kalau bayi seumuran segitu sering terjaga ditengah malam sampai menjelang pagi. Situasi tersebut mengharuskan saya beserta istri saling bergantian untuk menari dengan bidadari di tangan.

Bersamaan dengan nyanyian (tangisan) semakin keras, semakin bersemangat pula tarian yang saya lakukan. Dengan berbagai variasi tarian dan goyangan yang lembut agar tercapai rasa nyaman dengan irama nyanyianya menuju keheningan.

Tidak seperti mengendong sang kakak, bidadari satu ini mengharuskan saya untuk mengayun sang bidadari dengan sangat hati-hati dan lembut. Dengan tulang tengkorak yang masih rapuh serta leher yang masih lemah, hal itu yang menjadikan extra waspada saat mata tak sanggup lagi menahan rasa kantuk. Belum lagi rasa pusing akibat kurang tidur tiap harinya.

Setelah nyanyian terhenti, ditaruhlah sang bidadari disinggahsananya dengan hembusan nafas yang mulai teratur. Mencoba merebahkan badan sejenak untuk merelaksasi diri serta rasa kantuk yang sedari tadi menyeret untuk kembali tidur.

Hanya selang beberapa menit, Keheningan malam kembali pecah dengan suara merdu yang mungkin bisa terdengar dengan jarak radius 5 meter. Mata yang belum sempat terlelap sepenuhnya sudah diperingatkan kembali untuk segera membuka mata.

Saya lanjut dengan tarian kedua serta kudendangkan sholawat sebisa saya. Setelah nyanyian bidadari terhenti saya lakukan hal yang sama dan mulai lagi untuk membuka pintu mimpi sekali lagi.

Apa daya Nyanyian tersebut terdengar lagi, lagi dan lagi. Saya pun bangun untuk menari, menari dan menari. Goyangan demi goyangan disertai mata yang menutup tanpa harus melepaskan kesadaran diri.

Dan akhirnya, malam semakin pagi, rasa capek dan kantuk yang terus membebani. Saya menghentikan tarian saya dan kembali ke tempat tidur sembari mengendong sang buah hati.

Dengan bersandar pada bantal dan meletakkan sang bidadari disebuah bantal seukuran tubuhnya. Kugendong beserta bantalnya dan saya ayunkan kekiri dan kekanan secara perlahan.

Tangan kiri menepuk-nepuk paha mulusnya dan lengan kiri menahan agar posisi sang buah hati tidak bergeser. Tangan kanan mengipaskan sebuah kipas secara lembut. Hingga akhirnya kesadaran saya mulai hilang.

Mas, Bangun sudah Subuh!” Suara istri membangunkanku.

Rasa kaget menghampiriku, seolah bertanya kemana bidadari yang membuat saya terjaga dan menari tadi malam.

Bukankah dia tidur digendonganku tadi malam, pikiran masih kacau karena bingung dan belum sadar sepenuhnya. Terlihat saya masih bengong dengan kesadaranku yang masih mengumpulkan ingatan-ingatan kemarin.

Anaknya tadi malam tak pidahkan ke kamar saat mas tertidur, Mas tidak terasa ya!” Lanjutan suara istri menjelaskan akan kebengonganku.

Dengan menghiraukan rasa kantukku, aku berangkat mandi dan lanjut sholat subuh. Sarapan dikit langsung capcus berangkat kerja jam setengah enam pagi.

Dengan badai rasa kantuk hinggap saat kesibukan kerja, dan masih saya sempatkan untuk menulis sedikit sedikit artikel, atau hanya sekedar judul saja. Saya lalui tarian harian ini dengan penuh semangat pengais rezeki halal. Dan waktu malam secara bergantian dengan istri melakukan tarian kasih sayang untuk masa depan.

❤Nisa ❤Naila

 

Iklan

12 pemikiran pada “Tarian Malam

  1. Alhamdulillah masa2 itu sudah lewat… salut mau ikut bangun temenin istri. Sebab banyak di luar sana yang ketika istri berjibaku di tengah malam, suami tetep mlungker seolah nggak dengar apa2. Kalau suami dulu paling suka bagian gantiin popok sama gendong kalau si kecil sudah kenyang menyusu tapi nggak tidur juga 🙂

    Suka

    • Dibilang gak dengar itu keterlaluan Bu.
      Pasalnya kan tidurnya sekamar…
      Lagian istri jg masih belum sembuh total pasca persalinan…
      Untung Kakaknya sudah tidur sendirian walaupun untuk pengantar tidur harus ditemani dulu…
      🙂

      Suka

  2. Ping balik: Ziarah ke Makam Para Wali di Jawa Timur | Pennadiri

  3. Ping balik: Apa Arti Senja Dalam Hidupmu | Pennadiri

  4. Ping balik: Hal-Hal Sederhana Yang Wajib Ada Dalam Meningkatkan Kualitas Hubungan Dalam Sebuah Ikatan Pernikahan | Pennadiri

  5. Ping balik: Kangen Mereka Yang Telah Pergi | Pennadiri

Tinggalkan Sebuah komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s