Ziarah ke Makam Para Wali di Jawa Timur


Masjid syaikhona Kholil Bangkalan

Masjid Syaikhona Kholil Bangkalan

Senang sekali akhirnya ada bahan untuk mengisi artikel di katagori #PenaBerjalan, Saya membuat kategori tersebut bukan lain agar disetiap petualangan saya (perjalanan ke obyek wisata atau lainnya) akan saya rekam di kategori ini. Sayangnya setelah kehamilan istri nyaris saya tidak pernah jalan jalan kemana mana. Padahal saat belum punya anak, setiap 2 minggu saya refresing sama istri ke Malang atau ke Batu.

Nah dikesempatan kali ini ada event ziarah ke wali 5 (Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Drajat, Sunan Giri dan Sunan Maulana Malik Ibrahim) yang di adakan oleh jama’ah masjid. Jadi apakah hanya yang sudah menjadi jama’ah masjid yang boleh ikut?. Tentu saja tidak, saya aja jarang ke masjid, paling pas sholat jum’at disaat libur kerja dan hari besar seperti sholat Idul  ad’ha dan idul fitri.

Oke, Perjalanan ziarah berangkat jam 06.00 pagi. Dengan perasaan masih sangat ngantuk akibat Tarian Malam yang mengharuskan saya tidur jam 2 pagi. Dan juga kebiasaan orang Indonesia yang suka jam karet. Dengan santainya saya mandi sembari nyanyi-nyanyi di kamar mandi. Trus sholat Subuh yang sedikit ngaret dari biasanya. Dan akhirnya tetap saja saya datang paling awal ke tempat berkumpul padahal jam sudah menunjukkan pukul 06.15 menit. x(

Entah apapun acaranya, sepenting apapun keadaannya tetap saja jam karet berlaku disetiap event yang terjadi di desa saya. Apa karena mereka sama pikirannya seperti saya yang menyakini orang indonesia itu jam karet. Jadi dengan santai berkemas dan datang sedikit lambat dari jam yang ditentukan agar tidak terlalu lama menunggu. Ya entahlah…

Sempat berfoto foto sama anak saya ketika menunggu orang orang berdatangan, saya juga menghabiskan 2 batang rokok saat semua orang pada terkumpul semua. Sekitar jam 06.50 bis baru berangkat. Padahal waktu yang direncanakan jam 06.00 dan ada embel-embel kalau yang telat langsung tinggal.. Hadew, kayak gak ngerti orang Indonesia aja yang buat embel-embel itu.

IMG_20160721_054953

Sebenarnya saya tidak tahu kalau rencana ke wali 5 itu sedikit dirubah, entah apa alasannya. Saya baru tahu ketika guide menceritakan rute perjalanan yang direncanakan. Tujuan pertama adalah Syaikhona Kholil Bangkalan Madura, Makan Air mata Ibu, Sunan Ampel, Sunan Drajat, Syeikh Maulana ibrahim Asmoro Qondi dan terakhir Sunan Bonang.

Saya senang dengan perubahan rute tersebut, karena bagi saya, pengalaman ke madura adalah yang pertama kalinya. Rasanya penasaran banget lihat jembatan suramadu itu.

suramadu

Dikutip via Google

Sekitar jam 09.30 sampailah saya di makam Syaikhona Kholil. Makam Syeikh Kholil ini terletak di dalam Masjid yang menurut saya cukup megah untuk ukuran masjid. Masjid terlihat sangat indah dengan bangunan besar yang kokoh dan detail ornamen yang tersebar di seluruh bagian bangunan. Keberadaan dua menara yang menjulang tinggi di sudut sayap kanan dan kiri bangunan juga semakin memperkuat kemegahan rumah ibadah tersebut.

masjid-muhammad-kholil-21

Tampak dari depan

Sempat saya berfoto bersama Bapak saya sesudah ziarah diluar Masjid, sebenarnya ingin sekali berfoto dalam masjid. Tapi rasanya tidaklah pantas untuk foto dalam masjid apalagi ada makam para wali didalamnya.

Ziara ke Syaikhona Kholil Bangkalan

Hasil jepretan bapak saya

Ziara ke Syaikhona Kholil Bangkalan

Bandingkan dengan hasil jepretan saya.. :p

Setelah selesai ziarah, rombongan tidak langsung berangkat ke tujuan kedua, jadi ada waktu untuk yang belum sarapan agar memakan bekal yang dibawanya. Karena saya sudah sarapan sebelumnya jadi saya cukup menghabiskan sebatang rokok dan menikmati keindahan masjid dari jauh.

Tidak makan ta ir” kata salah satu teman sebayaku

Oh iya saya belum cerita, kebanyakan yang ikut rombongan ini adalah para orang tua seumuran bapak saya dan para wanita yang mengajak anaknya yang masih kecil. Jadi nyaris hanya kami bertiga (saya,Boy dan Mas Atim) saja yang masih terlihat muda.

Sudah tadi sarapan dirumah” Jawabku pendek

Kita bercerita tentang kesamaan rasa malu saat berfoto didalam masjid dan membahas megahnya masjid. Setelah itu dia membuka aplikasi “POKEMON GO” dan bercerita kalau saat perjalanan tadi mulai dari jembatan suramadu sampai makam ini dia sudah mendapat setidaknya 30 monster.

Hahaha, entah apa tujuan semua orang dengan mendatangi makam para wali ini, apapun itu semoga hal baik yang diniatkan. Memang sangat membosankan dalam perjalanan, jadi tidak ada salahnya juga mereka bermain dengan gadgetnya, lah emang gadget gadgetnya sendiri masak saya harus melarang.

Saya sendiri juga sama, selama perjalanan di Bis, saya lebih menghabiskan waktu untuk melihat manga Fairy Tail yang saya download minggu lalu. Mungkin saking sibuknya saya sehingga manga yang terdownload sudah seminggu lalu Tak tersentuh padahal saya sendiri penasaran akan jalan ceritanya. Baca juga: Nama Dragneel dan Rasa Penasaran

Apapun yang saya lakukan dijalan, disaat berziarah saya fokus dengan bacaan dzikir yang saya baca, tapi mungkin gara gara baca manga, jadi terkadang dipikiran masih terbayang tentang komik yang saya baca, saat pikiran mengingat itu, sekali lagi saya coba lebih fokus kedalam tanpa memikirkan apapun kecuali diri sendiri akan dosa.

Lanjut ke tujuan kedua yang masih ada disekitar Madura, Makan Air Mata Ibu. Saya tidak begitu paham tentang makan siapa ini, yang aku tau dengar dari para ibu-ibu yang ikut dalam rombongan, bahwa disana entar ada sumur atau sumber mata air yang mujarab. Nah, itu yang saya masalahkan tadi tentang niat mereka yang sebenarnya itu untuk apa melakukan ziarah ini?. Apa Cuma untuk sekedar mengambil air dari sumur itu kita jauh jauh ke makan para wali. *tepuk jidat

Sekitar jam 11.00 akhirnya sampai di makan air mata ibu di Desa Buduran kecamatan Arosbaya Bangkalan. Ada semacam gapura kecil untuk menyambut para tamu bertuliskan “AER MATA” dan beberapa anak tangga hingga sampai ke makam.

Kuburan-Aermata-Air-Mata

Saat mendaki anak tangga ini kita akan dihadapkan dengan para pengemis/peminta minta yang sangat ganas kalau menurut saya.  Pernah dulu ziarah kemakam gurunya sunan gunung jati di cirebon. Disana juga banyak hal serupa seperti di makan air mata ibu ini, tapi kebanyakan dari pengemis itu memang mendekati para peziarah tapi tidak seperti memaksa kayak gitu.

Ada salah satu ibu-ibu serombongan yang sampai dirampas uang receh di plastik yang sudah disiapkan untuk hal semacam ini, akhirnya uang plastik tersebut di lepas dari pada terus terusan di kerubung oleh para pengemis itu. Kata bapak saya, hal seperti itu sering terjadi, sekali kita ngasih uang ke satu orang, yang lainnya akan dengan ganas merebut jatah uang mereka ke kita. Mending tidak usah ngasih sama sekali dan memberi jariyah langsung ke kotak amal di dekat makam.

Setelah ziarah, gerimis mulai mengundang.dari pada saya kehujanan sementara saya tidak bawa pakaian ganti, keluar makam langsung saja lari sampai di bis. Sedangkan banyak rombongan lain yang sempat singgah untuk melihat sumur dari air mata ibu ini. Alhasil rombongan yang mampir bener bener dibasahi air mata ibu yang turun dari langit. xD

Lanjut ke tujuan ketiga dengan meninggalkan pulau madura ke sunan Ampel. Sampai disanan sekitar jam 1.50 siang. Disana saya dan rombongan melakukan sholat Dhuhur dan sholat Asyar dilakukan di waktu yang sama, namanya “sholat Jamak Taqdim”.

Maksudnya mengabungkan sholat asyar yang dilakukan bersamaan waktu sholat dhuhur. Syaratnya jelas dalam perjalanan, dan meniatkan saat sholat dhuhur “saya akan melakukan sholat dhuhur dengan ashar diwaktu dhuhur”, setelah salam sholat dhuhur kita harus langsung berdiri untuk sholat ashar. Tidak boleh ada jeda atau berdzikir dulu kalau melakukan sholat jamak taqdim seperti ini.

Untuk sholat asyarnya cukup dengan niat sholat seperti biasanya, tapi kalau ditambahi niat “saya sholat asyar jamak dengan dzuhur” maka itu lebih baik, Jelas ustad yang mengiringi rombongan kami.

Setelah sholat, beranjaklah kita ke makam Raden Ahmad Sunan Ampel  yang terletak dibelakang masjid ini. Tak lupa juga saya ziarah ke makam mbah bolong yang tepat di belakang mimbar masjid. Selepas itu saya kembali ke Bis sementara yang lain berbondong-bondong bawa barang pembelian dari pasar Ampel ini.

Saya hanya beli buah kelengkeng titipan anak saya, sedangkan yang lain ada yang beli baju buat oleh oleh, kurma, anggur merah dan lain lain. Entah itu sebenarnya udah niatan dari awal untuk “mborong” barang atau oleh oleh. Semoga bukan niat utama untuk ikut ziarah ini hanya sekedar mencari oleh oleh.

Lanjut ke tujuan keempat, sampai di Lokasi didesa Drajat kecamatan Paciran Lamongan sekitar jam 05.10. Kami langsung ziarah ke makam Raden Qasim Sunan Drajat. Hari mulai gelap dan bau badan serta keringat mulai memuncak, rasa lengket di badan membuat rasa malas dan kurang bergairah. Akhirnya setelah ziarah ada kebingungan antara sholat maghrib dan tidak, pasalnya kata panitia ziarah disuruh langsung ke bis.

Ternyata rencana panitia menjamak takhirkan sholat maghrib dengan sholat isya’, sama seperti yang jamak taqdim, bedanya disaat sebelum waktu sholat isya, diharuskan untuk berniat “saya akan melakukan sholat maghrib di waktu isya’”. Dan ketika sholat, kita cukup membaca niat sholat maghrib seperti biasanya, tapi tetap dengan syarat setelah salam langsung sholat isya’.

Tujuan kelima adalah ke Syeikh Maulana Ibrahim Asmoro Qondi di Tuban, Ya di Masjid ini kita melaksanakan sholat maghrib dan isya’ bersamaan dengan jamak takhir. Sebelum sholat saya cepat cepat ke kamar mandi untuk  mandi dulu. Seharian hanya mandi dipagi hari, terkena terik, berkeringat ditambah lagi habis hujan-hujanan dan ketiduran sebentar. Mandi adalah solusi untuk mengembalikan fokus dan fitalitas tubuh.

Makam Syeikh Asmoro Qondi ini terletak di belakang masjid tepat belakangnya mimbar imam, oh iya saya lupa memberitahu, walaupun saya datang berziarah bersama rombongan, tapi disetiap berziarah, saya selalu sendiri membaca dzikir dan doa, saya tidak ikut rombongan. Entah kenapa saya lebih bisa fokus dikala sendiri dan benar benar berniat untuk mendapat safaat dari waliyulloh dan tentunya Ridho Allah Subhanahu wata’ala.

Dan tujuan terakhir adalah Sunan Bonang sekitar jam 9.30 malam. Dengan menaiki becak untuk menuju makam, saya dan bapak menyewa 1 becak dengan harga 10.000 ke makam. Karena sudah semakin mengantuk jadi saya ziarahnya ikut rombongan. Terhitung hanya 2 kali saja saya ziarahnya ikut rombongan, pas ziarah di aer mata ibu dan sunan Bonang ini.

Setelah Ziarah, saya menyempatkan membeli oleh oleh untuk keponakan saya, saya beli 3 baju dengan ukuran dan gambar yang sama. Satu untuk anakku Naila, 1 untuk keponakan saya bernama Marsya dan sisanya ke ponakan yang bernama Noufal.

Oh iya, sempat juga, diwaktu datang pertama di parkiran sunan Bonang, ada sesi pemotretan ala kadarnya yang dilakukan bak seorang wartawan. Ternyata hasil fotonya dicetak dan dipajang di pinggir bis rombongan dan dijual 5000 per foto. Saya hanya membayar foto bapak saya, sedangkan foto saya pose-nya disaat saya “Mengupil” xD. Jadi saya tidak menebus foto saya karena posenya yang tidak etis untuk di pajang.

Setelah itu kita beserta rombongan pulang tanpa mampir-mampir lagi kesuatu tempat. Tujuan akhir adalah rumah. Diperjalanan saya tidak begitu paham karena saya habiskan untuk tidur sepanjang perjalanan itu. Tau-taunya sudah hampir sampai dan memulai untuk berkemas barang bawaan.

Ya begitulah akhir cerita perjalanan ini, sebenarnya pengen ada artikel dengan banyak foto dokumentasi, tapi ini tentang makam dan religi, akan tidak etis untuk menfoto makam apalagi makam dari seorang kekasih Allah Waliyulloh.

Wassalamualaikum Warohmatullohi Wabarokatu

Iklan

13 pemikiran pada “Ziarah ke Makam Para Wali di Jawa Timur

    • hehehe..
      iya sayang aq pas naik bis kesananya, kalau pake speda motor lebih enak kali yak..
      bisa foto ditengah jembatan..
      denger denger jembatan penghubung jawa dan bali juga segera rampung..
      pasti lebih keren ketimbang jembatan suramadu ini kali..

      Suka

  1. Pernah dua kali ke Aer Mata. Nggak nahan sama pengemisnya. Kalau satu dikasih maka tak lama kemudian sekawanan akan datang mengerubungi kita. Nggak dikasih merasa bersalah dan nggak nyaman dikasih malah salah 😦

    Salah satu guru saya malah dompetnya sempat direbut dan teman saya pingsan. Duuh…

    Btw nggak mampir ke bebek Sinjae mas?

    Suka

    • bener bunda, saya lihat kadang pengemis ini sudah dikasih di bawah, tetep lari lagi untuk mengejar supaya dikasih lagi..

      ndak bunda, itu perjalanannya cuma singkat mengejar waktu.
      bahkan saat di tuban, makannya harus cepat2 dan akhirnya tidak saya habiskan.

      Suka

    • Entah
      . kadang di minum kadang jg di buat mandi…
      Filosofi mereka seperti air Zamzam. Jadi dengan mengambil air dari makam para wali, semoga dapat menjadi penghilang penyakit atau hanya untuk kesehatan dg barokah dari air tersebut

      Disukai oleh 1 orang

  2. Ping balik: Puasa Dan Logikanya Rasa Lapar | Pennadiri

Tinggalkan Sebuah komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s