Menyalahkan itu Mudah, Semudah Mengayunkan Tangan


Menyalahkan itu mudah, Semudah mengayunkan tanganMenyalahkan itu mudah, Bertanggung jawab itu Sulit”. Itu sebuah realita kehidupan yang harus kita terima dan hadapi. Kebanyakan orang lebih suka menyalahkan sesuatu atau seseorang untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi.

Padahal pada dasarnya hal tersebut tidak menyelesaikan permasalahan sama sekali. Justru akan terjadi percekcokan dengan masalah baru yaitu saling tuding, saling tuduh, yang jelas saling mencari pembenaran diri.

Memang paling mudah kita menyalahkan sesuatu semudah mengayunkan tangan, serasa kita adalah sosok sempurna yang tak mengenal arti “salah” dan “kegagalan” dalam hidup ini. Seberapa buruk keadaan kita, kita selalu lebih menyalahkan orang, barang, bahkan keadaan/takdir.

“Berhentilah Menyalahkan dan Mulailah Bertanggung Jawab”

Apa maksud kata-kata tersebut. Apa dengan kesalahan yang dibuat orang lain, kita pasrah begitu saja?..

Sebagai contoh. Seandainya kita tidak sengaja meminum Sianida yang dituangkan oleh jessica racun dalam sebuah gelas berisi air putih. dan kita keracunan.

Racun

Dikutip Via Google

Dan dengan bodohnya kita mencari siapa yang menaruh racun didalam gelas tersebut. Seandainya pelaku tersebut ketemu dan mengetahui alasan sebenarnya pelaku melakukan hal ini (menaruh racun). Kita tidak akan mendapat apa-apa dari itu, malah mungkin kita akan mati karena racun yang sudah menyebar.

Lalu, sebenarnya apa yang harus dilakukan?

Seharusnya kita sebagai orang bijak akan mengerti yang membuat sakit itu bukan pelaku yang menuangkan racun digelas, melainkan racun yang sudah menyebar digelas tersebut. Jadi bijaknya adalah mengurusi rasa sakit itu dengan menyembuhkannya bukan berlari larian mencari informasi pelaku penuang racun tersebut.

Saya jelaskan dengan sedikit contoh lagi tentang sebuah “Sakit Hati”. Ada banyak orang yang asyik pacaran atau masih dalam mencari cinta sejati atau sekedar cinta sesaat dalam proses pencarian cinta sejati atau apalah namanya. Adakalanya diantara pecinta yang lagi dimabuk asmara ini dilanda yang namanya sakit hati.

Yang namanya sakit hati atau patah hati lebih sakit rasanya ketimbang sakit panu, kadas, maupun sakit kurap. Tapi tentu saja lebih sakit saat sakit gigi ketimbang sakit hati. Karena yang mengatakan lebih baik sakit gigi dari pada sakit hati, berarti orang tersebut belum pernah merasakan indahnya sakit gigi.

Jangankan makan sesuatu, dengar sesuatu dengan suara keras yang membuat sakit giginya tambah menjadi-jadi saja seperti menjadi super saiya 4 atau kalau di Fairy Tail menjadi Mode Dragon forces. Tidak peduli siapapun yang membuat gaduh, Entah anak kecil, wanita, orang tua langsung sikat kena marah-marah gara-gara bising saat lagi enak-enaknya istrihat si Pesakit Gigi ini.

Oke, Lanjut ke contoh sakit hati, kebanyakan orang ketika sakit hati lebih menyalahkan orang lain. Seandainya seorang pria sakit hati, pastinya lebih menyalahkan seorang wanitanya telah berhianat, mengungkit-ngunkit kembali kesalahan atau kekurangan si wanita ini, dan juga sebaliknya.

Atau si pria ini menembak si wanita dan ditolak. Padahal menurut si pria ini, wanitanya sudah mengasih harapan dengan memberi perhatian, atau memberi kode kode kalau si wanita sudah suka dengan dia. Tapi disaat ditembak dengan senapan laras panjang, kok malah ditolak. Sakit rasanya seperti jatuh dari ketinggian 5000 meter dan tenggelam di lautan es di antartika. Hahaha lebay kayaknya xD

Nah. Disini kenapa harus menyalahkan si Wanita, bukannya hak setiap orang untuk menyakiti mengakhiri hubungan kalau memang tidak nyaman lagi, atau bukannya hak seorang wanita untuk menolak pria jelek, suka ngupil, botak yang tidak disukainya. Apakah anda mau kalau wanita hanya pura-pura menerima cinta anda dan menelantarkannya kelak?

Bukannya kita sama saja, setiap orang ingin yang terbaik baginya, mungkin saja kita yang ditolak maupun yang diputus sepihak adalah seorang pria atau wanita yang bukan dari rencana masa depannya.

Apalagi ada yang pasrah dengan mengatakan “mungkin memang sudah takdir saya seperti ini”. Oke, pasrah akan takdir boleh-boleh saja, tapi setelah sudah pasrah kenapa masih saja bergelut dengan masalah yang sama, Galau, Sedih karena Cinta, dan menjalani hidup dengan sia sia.

Bukan seperti itu pasrah dengan Takdir, seharusnya ketika kita sudah mempasrahkan “oh, ini takdir saya mendapat luka dalam cinta yang ini”. Maka yang berikutnya akan menjadi lebih baik, dan menjadikan kegagalan yang tadi menjadi keberhasilan yang akan datang.

Masalah utamanya itu adalah pada rasa “Sakit hati” itu sendiri, Berhentilah menyalahkan orang. Kembali renungilah jauh lebih dalam kedalam diri kita sendiri. Seberapapun kita menyalahkan orang, sesuatu atau keadaan, tetap saja sakit hati itu tidak akan terobati. Jadi lebih baik mengurusi bagaimana mengobati rasa sakit itu ketimbang harus ribet dengan mencari-cari kesalahan orang lain.

mario teguh

Jadi kesimpulannya, Dari cerita diawal tentang racun menjelaskan bahwa apapun yang terjadi kepada kita walaupun itu bukan salah kita, tetap saja racunnya ada dalam tubuh kita.

Orang lain mungkin saja membuat kita sakit karena racun, situasi mungkin yang menyebabkan semua itu terjadi, atau kondisi mungkin tidak berpihak kepada kita. Tapi jika lakukan hanyalah menyalahkan orang lain tanpa menyadari racun yang sesungguhnya ada dalam diri kita, tentu saja keadaan tidak akan menjadi lebih baik

Seperti halnya tentang sakit hati karena cinta, bukan dengan menyalakan orang, barang atau keadaan yang membenar kita. Andai ketika orang sedang patah hati berfikir kalau sakit hati tersebut adalah Cara Tuhan untuk mengingatkan kita akan kesalahan kita. Atau Cara Tuhan untuk menuntun kita kepada cinta yang sejati. Setelah itu berhentilah menyalahkan orang lain, dan lebih memantaskan diri untuk menyambut esok yang baru dan semoga lebih baik dari hari yang kemarin.

Apapun yang terjadi kepada kita, baik itu salah kita, salah anjing mengongong, salah elien menyerang, salah orang lain ataupun (jika menurut sebagian dari kita) salah takdir, akan sangat salah jika kita tidak melakukan apa-apa. memang sangat mudah untuk tidak bertanggung-jawab dan hanya berkata:

oh jelas itu salah dia, Aku tidak salah dong..?

atau

yah emang aku begini, mau diapain lagi… ya udah laaah…”

atau

Yah Beginilah Takdir yang saya jalani, Entah sampai kapan terus begini

Yang membuat kalimat-kalimat diatas hanyalah sebagai alasan otentik untuk tidak bertanggung jawab. Namun akan sangat bijaksana bila dengan sesegera mungkin menyadari bahwa kalimat-kalimat seperti itulah yang membuat banyak orang tetap pada kondisi yang mereka tidak inginkan.

Oleh karena itu, apapun yang terjadi, salah siapapun itu, sudah menjadi tugas kita untuk tidak menyalahkan orang lain dan terlebih lagi merenungi setiap masalah yang terjadi adalah sebuah proses pendewasaan diri. Dan mulailah menghadapi masalah tersebut dengan penuh tanggung jawab untuk mengubah keadaan menjadi lebih baik.

Stop Blaming and take responsibility starting right now!”

Semoga Bermanfaat

Wassalamualaikum Warohmatullohi Wabarokatu

Iklan

7 pemikiran pada “Menyalahkan itu Mudah, Semudah Mengayunkan Tangan

    • ini yang saya sedikit bingung..
      bagaimana kita bisa merasakan sakit ketika kita menyakiti orang…?
      mungkin maksudnya gini, ketika kita menyakiti seseorang, maka besar kita akan mendapat balasan tersakiti oleh orang..
      …hukum karma…

      Suka

  1. Ping balik: Pembenaran Diri | Pennadiri

  2. Ping balik: Renungan: Jangan Merasa Benar, Lihatlah Dirimu Dulu | Pennadiri

  3. Ping balik: Sudah Melakukan Yang Terbaik Belum? | Pennadiri

Tinggalkan Sebuah komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s