Rambut Memutih


uban-legend

Mas, mbok rambut putihnya disemir biar terlihat muda” Celoteh teman yang sedang antri wudhu.

Di perusahaan saya bekerja sebenarnya ada musholla baru khusus untuk karyawan dengan fasilitas kran air untuk wudhu berjumlah 8 pcs. Sebenarnya jumlah tersebut terhitung cukup untuk melayani karyawan pabrik sejumlah 600 orang, toh tidak semua disaat istirahat yang langsung sholat. Kadang ada yang mendahulukan sholat baru makan, dan ada pula yang mendahulukan makan baru sholat.

Karena jumlah karyawati disana hampir 2/3 dari jumlah keseluruhan karyawan, akhirnya musholla beserta kantin baru tersebut dikuasai oleh kaum hawa. Namanya kaum Adam selalu bertekuk lutuk sama wanita, apalagi 400 orang wanita.

Akhirnya para pengguna elemen api gen Y mengalah ke sebuah mushollah lama di atasnya ruangan genset (alat penghasil listrik yang digunakan saat listrik PLN padam). Dan fasilitas kran airnya hanya 1 buah. Kita rela antri untuk wudhu tiap harinya. Atau terkadang ada yang wudhu di kamar mandi yang terletak di dalam ruang produksi.

Entah saya jarang wudhu di kamar mandi, karena disamping jarak antara kamar mandi dan musholla lumayan jauh yang mungkin ada sela sela kotoran yang masuk ke kaki lewat sandal. Atau kecipratan najis di dalam kamar mandi, kan tau sendiri kebiasaan buruk cowok itu kalau kencing jarang disiram, dan biasanya orang seperti itu tidak paham najis bahkan memang tidak mengerti agama. Dan orang itu (yang kencing tidak disiram) pastinya bukan saya. Hahaha xD

Saya wudhu di kran tersebut setelah harus menunggu antri 3 orang dulu, tiba disaat giliran saya mengambil wudhu teman saya itu menceloteh seperti itu.

uban

Dikutip Via Google

Mas, ternyata pean uban’en?” Celoteh si R setelah melihat saya wudhu dengan membungkukkan badan saya, Si R ini mendapat antrian setelah saya.

Loh iya mas, Cuma satu rambut aja putih, panjang lagi” Sambung si A mulai ngebully saya.

Saya hanya terdiam dan mendengarkan sambil melanjutkan wudhu.

Ya gini nih, kalo orang sudah dewasa” sambung si A, disitu saya kadang sedih senang ketika ada yang bilang kalau saya ini dewasa

Wah, ini pertanda kalo mas irawan ini mulai tua! hahahaha” Celoteh Si R

Ya wajar saja, Kan sudah punya 2 anak!” sahut si A mengiyakan pernyataan kalo saya ini sudah tua,

Emang sih, saya mempunyai 2 anak dan saya juga lebih tua dari mereka yang ngebulli saya. Masalahnya saya adalah senior operator di perusahaan saya bekerja. Dan mereka yang ngebulli adalah junior yang pernah saya ajari sebelumnya. Tapi kalau masalah tua, kayaknya sebutan itu masih belum pantas buat saya, karena saya sendiri loh belum berkepala 3 (umur 30). Baru april 2016 kemarin merayakan ulang tahun yang ke 27 .

Bukan tua mas ir ini, mungkin kebanyakan mikir jadi uban nya mulai keluar, paling 1 tahun lagi udah berubah semua, hahaha” Tambah si D yang baru datang langsung nyeletuk

oh iya, kan baru 1 tahun ini dia kembali ke tempat asalnya yang lebih banyak mikir” sahut si R menjelaskan masalahnya.

Sebenarnya saya dulu berada dalam posisi CadCam (karyawan yang berurusan dengan gambar, dan berhadapan dengan komputer tiap harinya). Tapi sempat satu tahun belakangan saya kembali ke produksi memegang mesin karena penyakit yang saya derita. Dan baru satu tahun ini saya kembali ke posisi saya dulu.

Kalau masalah kerjaan sih enak, bisa duduk santai dan tempatnya ber-AC. Tapi didalamnya terlalu banyak resiko serta banyak tekanan batin. Sempat posisi saya di ganti oleh Si R saat saya sakit. Tapi dia memohon kepada saya agar mengantikan dia lagi. Dia tidak tahan godaan Stressnya. 😀

Pake top lady(merk semir rambut) loh mas, biar terlihat kekinian seperti kita” wuih celoteh si A ini makin menjadi jadi.

Dan untuk itu celoteh terakhir yang saya dengar karena saya sudah selesai dengan wudhu. Sebelum naik ke musholla yang letaknya di lantai atas, saya mengatakan kepada mereka yang ngebulli saya:

Tua itu Pasti, dan Dewasa itu pilihan. Rambut kian lama akan memutih, tapi jiwa tetap kekinian

Entahlah apa yang saya ucapkan barusan. Yang saya tau “uban” memang pertanda sudah tua, tapi bukan tua itu yang menjadikan titik fokus dari masalah rambut mulai memutih. Mungkin itu sebagai pengingat saya pribadi bahwa rambut yang asalnya hitam saja sudah kehilangan warnanya atau bisa juga di artikan sudah kehilangan daya tariknya.

Nah ini bisa jadi PR buat saya agar selalu ingat bahwa saya sudah hidup di setengah perjalanan hidup saya. Menjadi tua itu pasti, Dan saya juga tak menampik kata “dewasa” yang sejatinya hanya sebuah ungkapan orang tentang kekaguman terhadap tingkah laku baik. Dan pastinya ungkapan “dewasa” itu hanya sementara, seperti halnya kata “cantik itu relatif”.

Jadi kesimpulannya dengan “UBAN” yang mulai tumbuh, menandakan bahwa saya seharusnya di setengah kehidupan berikutnya, harus saya manfaatkan sebaik baiknya untuk menjadi manusia yang sebenar-benarnya manusia. Dan menjadi Hamba yang sebenar-benarnya menghamba.

Wassalamualaikum Warohmatullohi Wabarokatu

Iklan

23 pemikiran pada “Rambut Memutih

  1. “Tua itu Pasti, dan Dewasa itu pilihan. Rambut kian lama akan memutih, tapi jiwa tetap kekinian”

    Hehe suka quote nya:D

    Bari juga satu mas. Saya udah berlembar2 sesuai umur yang sudah kepala 4. Kata suami itu bukan rambut putih, itu keperakan. Keren kan? Permaisuri Rambut Perak(kayak judul cerita silat aja ya hehe)

    Tapi benar bahwa uban itu pengingat kalau kita makin tua, kalau waktu makin berkurang dan harusnya banyak2 berbuat baik nabung buat akhirat

    Disukai oleh 1 orang

    • enggeh bunda..
      nih lagi belajar memperbaiki diri..
      ya semoga semoga uban ini juga pertanda dosa yang mulai memutih, tersucikan oleh perbuatan baik..
      jadi kalau rambut saya semua putih.. berarti hilang sudah semua dosa.. hahaha xD

      Suka

  2. Saya juga udah punya uban mas. Padahal waktu itu belum genap masih 18th. Temen juga yg nemuin. Dicabutin, 4 temen dapat 4 helai rambut hahaha. Katanya, “Wah, Mbah Desy rambute wis putih”.
    Uban bukan cuma pertanda tua sih mas. Bisa juga stres. Tapi ya itu, bener kata Ibu Dyah.

    Suka

  3. Kalau saya udah dari smp rambut saya udah ada uban nya….tapi kayanya ini emang turunan sih karena orang tua saya juga sudah punya uban sewaktu masih muda hahaha…

    Salam…

    Suka

    • Faktor keturunan jg bisa jadi..
      kayak di negeri barat..
      banyak orang yang berambut putih, kulit putih dan berbaju putih…hihihihi
      tapi apapun itu, semua bagian tubuh akan jadi pengingat untuk lebih mendekat kepada RabbNYA..
      karena walaupun sehelai rambut saja, akan jadi saksi kala hari pembalasan tiba

      Suka

  4. Keren quotenya Kak. Hehe.
    Guru fisikaku dulu yang punya rambut tebal rambutnya memutih, sedangkan yang rambutnya tipis mulai mengeluarkan cahaya…… ya begitulah. Faktor pikiran kali yaa..

    Suka

Tinggalkan Sebuah komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s