Lagi.. Lagi.. Dan Lagi..


lagiEntahlah, sudah tiga hari ini saya merasa sebal dan bebal dalam keadaan seperti ini. tiga hari berturut-turut harus menjalani overtime atau bahasa kerennya lembur kerja (apanya yang bahasa keren itu). Seperti yang perna saya tulis di artikel “Lembur yang Tak Dirindukan”. Entah kenapa saya dan teman-teman satu shift  adalah karyawan yang paling bosan dengan kata lembur. Tapi tidak untuk uang lemburnya hehehe.xD

Mungkin kalau untuk hari selain jum’at sih gak masalah buat saya. Khusus untuk hari jum’at, tingkat

ke-ngantukan saya melebihi hari-hari biasanya. Dihari malam kamis saya ada rutinan yang mengharuskan pulang jam 1-2 malam. Jadi tadi malam hanya tidur sekitar 2 jam saja, terus langsung prepare kerja jam setengah 5. Total hanya 2-3 jam saja saya tidur.

Sama halnya seperti saya. Kebanyakan teman satu shift dengan saya ini juga mengalami sindrome bosan lembur sama seperti saya. Kata teman akrab yang bekerja dibidang IT mengatakan bahwa tradisi bosan lembur ini turun menurun dari seorang senior. Dari ajaran dari para senior yang membuat para junior mengikuti kebiasaan buruk seniornya.

Jleb.., ucapan itu telak menyindir saya secara langsung. Siapa lagi kalau bukan saya senior yang bebal, jarang masuk kerja, suka kabur saat ada meeting dan paling susah diajak lembur. Tapi itu 4 tahun yang lalu. Saat masih jadi Ababil (ABG Labil).

Ya, mungkin benar karena didikan saya dulu, karyawan baru ikut-ikutan kena sindrome bosan lembur. Dulu saat masih berada diproduksi, saya lebih banyak disuruh bimbing anak baru agar bisa dalam pengoperasian mesin. Karena bagi saya dulu, keahlian itu ilmu “katon”. Tanpa dipelajari dan hanya dilihat saja tiap hari serta dilakukan seperti intruksi, itu sudah cukup untuk bisa mengoperasikan mesin. Jadi tak harus lulusan komputer dan sebagainya Kalau hanya sekedar menjalankan mesin berbasis komputer seperti ini.

Saya dulu lebih senang mengajari cara “bertahan hidup” diperusahaan ini. Maksudnya Adalah saya lebih mengajari mereka agar lebih nyaman saat bekerja dulu. Masalah teknik bisa diajarkan belakangan ketika mereka sudah merasa nyaman dan mencoba menyukai pekerjaannya.

Story telling  tentang zaman bagaimana saya mulai bekerja, sampai setidaknya saya dipercaya untuk menjadi pembimbing atau apalah namanya. Saya mencoba menjelaskan bagaimana cara menghadapi atasan seperti yang pernah saya bahas di artikel “Diam salah, Ngejawab Cari Gara-gara“. Dan lain sebagai nya.

Efek buruknya, cerita tentang bagaimana keburukan saya dulu teraplikasikan di era karyawan baru sekarang. Mungkin cerita yang turun temurun tiap generasi, dengan cara mengajarkan ke anak baru sama seperti yang saya lakukan.

Alhasil, ya seperti kloningan saya dengan berbagai karakter dan evolusi keburukan saya. Dimulai memainkan HP saat kerja, browsing dan buka youtube di komputer mesin, dan yang paling sering ditiru adalah lari disaat lembur kerja.

Ya semoga ajaran yang saya ajarkan tidak menjadi runtutan dosa bagi saya. saya hanya Ingin membantu dengan memberi kenyamanan terhadap temanku..

Semoga Allah senantiasa mengampuni dosaku

Amin

Iklan

6 pemikiran pada “Lagi.. Lagi.. Dan Lagi..

  1. Hampir setahun lalu, saya juga kerja di pabrik mas. Tp cuma bertahan sebulan lebih dikit 😀
    Sebel banget sih sama kalimat yang emang beneran ada itu, “Diam salah, ngejawab cari gara2”. Daripada kerja engga ikhlas mending pulang saja saya 😂

    Suka

    • hehehe..
      Dulu saya juga berfikir seperti itu..
      tapi setelah menemukan trik khusus untuk menanggapi atasan yang seperti itu..
      ya intinya biar tetap bisa cari nafkah untuk keluarga.
      dan jalani aja ala kadarnya. yang penting tetap bahagia..

      Suka

      • Triknya yg itu ya mas jawab iya2 itu ya? Halah mas, dijawab gitu malah mbulet. “Iya, iya apa?!!” 😀 dijawab iya saya salah malah mbalik lagi ngomelnya 😀 disenyumin malah, “mbak, ini ga becanda lo, ini serius”
        Malam hari sebelum resign saya bikin kesalahan, untungnya group leadernya ga masuk 😀
        Tapi dulu membulatkan tekat buat pulang gara2 ibuk dirawat di RS sih mas.

        Suka

        • Cara yang sama memang kadang tak berfungsi untuk menghadapi orang lain…
          Ya begitulah, kadang harus menyelami dulu karakter leader..
          Kebetulan saya memang sudah dekat dg beliau..
          Jadi sedikit banyak tau cara menanggapi kemarahannya..
          Tapi tetap, jika memang mengharuskan debat selama menurut kita benar, ya kita debat.
          Tapi biasanya yang namanya atasan jg gak ingin kalah dalam argumennya.
          Jadi di endingnya tetep kita mengalah..
          Intinya saya dulu harus mempunyai nilai dimatanya..
          Saya akui saya bukan type karyawan yang baik menurut sebuah peraturan..
          Mungkin dimatanya saya ini type karyawan jujur ketika da masalah.
          Jadi sebelum masalah tersebut diketahui dari orang lain.
          Saya biasanya mengakuinya dengan memberi tau beliau..
          Mungkin dari situ saya sering dicurhati beliau tentang problematika bak di dunia industri maupun kehidupannya..
          *Halah malah curhat

          Suka

          • Tapi saya salut sih mas sama pabrik tempat saya kerja dulu. Bukan sama pabriknya, tp karyawannya yg 98% cewek. Isinya cewek2 mental baja 😂 biarpun leleh tiap kali kena semprotan atasan tp pas udah dingin balik lagi jadi pekerja keras.

            Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Sebuah komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s