Tangan Yang Mengengam


gengam

Entah kita sadar atau tidak, manusia terlahir dengan tangan mengenggam saat masih bayi. Tak pernah saya jumpai ketika bayi seorang rocker terlahir dengan tangan metal atau apalah istilahnya.

Tak pernah juga saya jumpai bayi dari seorang ahli sholat dan terlahir dalam keadaan telunjuknya mengacung seraya sedang takhiyat akhir. Atau tak pernah juga anak dari pasangan yang Alay dan Lebay yang melahirkan anak dalam keadaan tangan si anak ini melambai lambai seraya dada dada sama mamanya. xD

Bukankah Hal tersebut menandakan bahwa mungkin sejatinya manusia mulai dari lahir sudah menginginkan untuk Mengengam Dunia di tangannya. Karena sifat manusia yang tidak ada batasan dalam hal kepuasan, tentunya kebanyakan dari kita menginginkan lebih dan lebih. Mungkin karena itu kita menyebutnya Manusiawi. Wallahualam sih..

Ya untung saja manusia terikat dengan Takdir disetiap Ruhnya. Yang mengikat batasan rezeki dari mulai lahir sampai meninggal, jadi wlaupun dengan segala cara, baik jungkir balik dalam mencari rezeki, kalau hanya takdir rezekinya segitu ya dapatnya Cuma segitu.Manusia tidak akan lelah untuk mencari dan mencari segala rezeki untuk bisa memuaskannya.

Bentuk dari kepuasan itu tak bukan adalah setumpuk harta. Diera sekarang, UANG adalah simbol dari kekuatan ekonomi didunia. Dengan mempunyai banyak uang bisa dibilang menguasai dunia, Sok tau neh.

Coba pikir, apa yang tidak bisa dibeli dengan uang di zaman sekarang ini. Bahkan harga diri dan keadilan saja sudah bisa dibeli apalagi di negeri kita tercinta ini. Hihihi :-p

Bentuk keinginan menggengam dunia lainnya juga bisa dilihat dari Makanan. Berbeda dengan dengan mahluk tuhan lainnya, seperti pada hewan dan tumbuhan yang cukup puas dengan makan sekedarnya.

Tumbuhan yang hanya hidup dengan mencari zat yang dibutuhkan dari tanah, sinar matahari juga membantu proses pengolahan makanannya (entahlah, saya lupa pelajaran waktu SMP dulu tentang makanan si Tumbuhan ini).

Begitu juga dengan hewan, seperti contoh kambing. Kambing hanya makan rumput dan dedaunan. Seandainya ada sate atau ayam yang disuguhkan. Tetap saja kambing akan mencari rumput untuk dimakan. Contoh lagi seekor ayam yang makan biji bijian seperti padi dan makanan lainnya yang tersedia disekitarnya.

Bandingkan dengan sosok manusia, Rumput (bayam, kangkung, dan sayur yang berwarna hijau) yang biasanya dimakan kambing, manusia juga makan. Bahkan kambingnya juga masih dimakan. Ayam yang biasanya makan biji padi, manusia juga makan biji padi yang disulap menjadi nasi beserta ayamnya yang di sulap menjadi paha ayam, rendang ayam, opor ayam dan lain sebagainya.

Begitulah Manusia dengan Akal yang tidak dipunyai oleh hewan dan tumbuhan. Apapun jenis rezeki  yang berupa makanan, kita bisa menyantapnya dengan kecerdasan dan kreasi yang bisa diciptakan oleh akal. Dengan ilmu pengetahuan, manusia bisa mengkreasi bahan mentah menjadi bahan yang siap saji. Teknologi yang sampai secanggih ini juga hasil dari kecerdasan manusia itu sendiri.

Sampai sekarangpun tuntutan untuk mengengam seluruh ilmu didunia adalah wajib sampai tua nanti. “Tidak ada istilah tua untuk belajar” istilah tersebut juga menunjukkan tidak ada batasan agar manusia terus menimba ilmu sampai akhir hayat. Karena tanpa ilmu, manusia akan berjalan sempoyongan dalam menitih kehidupan ini.

Dan terakhir mungkin tentang jodoh. Sebelum bertemu jodoh yang pas, kebanyakan orang akan melakukan fase pacaran. Baik yang sering ganti ganti pasangan tiap bulan layaknya ganti sepatu saja. Dan ada juga yang PDKT melulu tapi tak sampai pacaran sudah di ambil orang atau bahkan di ambil teman. xD

Nah, semua orang yang mengatakan dirinya manusiawi, pastinya pernah kepikiran kalau menginginkan pasangan lebih dari satu atau bahkan kalau bisa sedunia ini bisa dimilikinya. Khususnya para cowok, biarpun sudah mempunyai pasangan (anggap saja Pacar kesayangan), tapi hasrat untuk memiliki wanita lain tetap ada.

Pria yang beristri saja masih terbuai dengan kecantikan wanita lain. Padahal istri dirumah ituloh kadangkala lebih cantik dari wanita yang di idamkan diam-diam. Entahlah, Hanya kekuatan iman yang menguatkan cinta, yang membuat pria sejati tak rela melepaskan pasangan hidupnya. Walaupun kadang kala suka khilaf hanya sekedar mengoda.

Dari beberapa gambaran tentang sejatinya manusia terlahir untuk mengenggam dunia. Semua itu lebih merucut ke sebuah hasrat atau nafsu dari seorang manusia. Manusia hidup karena ada nafsu dan akal lah yang membuat nafsu menjadi lebih berarti dan benar secara manusiawi.

Tak ada habisnya menuruti nafsu, hanya sebuah kematian yang menghentikan hasrat dari manusia. Mungkin karena itulah manusia ketika mati tangannya membuka bukan mengenggam. Mungkin disitulah simbol bahwa manusia ketika mati tidak akan membawa apapun didunia kecuali Dirinya (Amal nya).

Baca juga : Perihal diri

Semoga kita menjadi manusia yang sebenar-benarnya manusia, yang bisa mengendalikan nafsunya dengan akal nya. Serta bisa menemukan Sejatinya Diri.

Man ‘Arafa Nafsahu, Faqad Arafa Rabbahu.

“Siapa yang mengenal dirinya, akan mengenal Rabb-nya”

Semoga Bermanfaat

Wassalamualaikum Warohmatullohi Wabarokatu

Iklan

14 pemikiran pada “Tangan Yang Mengengam

  1. Ingat ceramahnya Cak Nun yang saya tonton beberapa hari lalu. Kalau nggak ngenal dirinya sendiri nggak akan kenal Tuhannya. Dan harusnya emang nyawiji kawula Gusti, biar si kawula ini ada kontrol selalu dalam setiap lakunya.

    Suka

    • “nyawiji kawula Gusti”
      kata keren yang hanya orang pilihan yang bisa mewujudkannya (mungkin waliyulloh).
      kalau orang biasa mah, untuk mengenal sejatinya diri aja udah…hmmm
      Sulit pake bingits.. tapi tetap tidak mustahil untuk menemukannya 🙂

      Suka

  2. Duh piye yo menjelaskannya?garuk2 kepala juga
    Jadi maksudnya ulama sebenar ini adalah ulama yang nggak lagi silau sama hal2 duniawi(pasti paham maksudku) gitu lho mas. Nggak mikirin partai, ormas atau yang lain. Ngurusin umat yo tetep dunks, kan bubar jalan kalau nggak ada panutan. Semoga kali ini paham

    Suka

  3. Ping balik: Jangan Beranggapan Istri Tidak Bekerja Akan Mengganggu Perekonomian Keluarga | Pennadiri

  4. Ping balik: Tidak Ada Sukses Yang Datang Tiba Tiba | Pennadiri

Tinggalkan Sebuah komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s