Guling Kesayangan


gulingYah, Ayah…” Rengek Manja  si Naila

Dalem”  Jawab saya pendek

Mik cucu yah, mik cucuu” dengan nada  nagis yang dibuat-buat dan sengaja melemparkan botol susunya  ke arah saya. supaya saya yang membuatkan susunya.

Yah begini nih, kelakuan manja anak saya saat mau tidur, baik itu tidur siang maupun malam. Kalaupun susunya habis dan dia masih terasa kurang puas dengan susu yang diminumnya, kembali dia melempar botolnya seraya berucap “menéng “ (dalam bahasa indonesia “nambah lagi”).

Tapi yang paling sering dan pasti dia lakukan disaat mau tidur adalah meminta bantal dan guling kesayangannya.

Yah, bantal putih, guling biruuuu..” dan nada yang sama dengan tangisan khas ala Naila.

Saya ambilkan bantal dan guling kesayangannya ke kamar sebelah. Sebenarnya dulu ketika anak saya yang kedua belum lahir, si Naila ini tidur sekamar dengan saya dan istri. Semenjak adiknya  si Nisa’ ini lahir, akhirnya Ibunya tidur dengan si Nisa’ dan saya tidur di kamar sebelahnya dengan Naila.

Terkadang hanya sebatas Menemani saat awal tidur dan kemudian saya pindah lagi ke kamar istri yang terkadang butuh bantuan untuk mengurusi adik naila yang masih belum genap 1 bulan.

Entah kenapa si Naila ini kalau tidur selalu menginginkan bantal dan guling kesayangannya ini. Memang sejak awal bantal dan guling ini menemaninya sejak masih umur 8 bulan. Jadi dia enggan untuk berganti dengan bantal yang baru. Atau minimal bantal yang masih harum baunya.

Pernah loh saat masih umur 6 bulanan saya membeli bantal serta guling dengan ada gambar fotonya dia di bantal dan guling tersebut. Tapi tetap saja dia tidak mau memakai bantal tersebut saat tidur, malah lebih memilih guling biru kesayangannya itu. dan alhasil bantal dan guling yang baru dibeli hanya sebagai hiasan kamar yang sesekali buat mainan saat bermain dengan teman sebayanya.

Bantal berfoto

Padahal gulingnya itu sudah harum semerbak pipis si Naila. Bayangkan saja guling tersebut sudah 2 tahunan lebih terkena pipisnya disaat Naila sedang tertidur. Tapi dia sangat menyukainya dan memeluk erat-erat guling tersebut saat tidur.
Tapi untung saja dia tidak pernah mencari guling tersebut saat menginap dirumah kakak (Rumah orang tua istri saya) atau saat tidur dikala bepergian kemanapun. Sangat beda sekali saat dirumah, kalau tidak ada guling tersebut dia nangis tiada henti . itulah sebabnya sampai 2 tahunan lebih saya tidak pernah mencuci guling tersebut. Mungkin hanya sekedar menjemurnya saja kalau terlampau basah.

Guling Kesayangan Naila

 

Faktor Gen mungkin bisa menurunkan kebiasaan Orang Tua ke Anaknya. Diwaktu kecil dulu, saya juga mempunyai boneka bebek kesayangan yang saya jadikan  guling saat tidur.

Aneh ya, lihat cowok mainin boneka. 

Jangan salah sangka loh, Itu masih kanak-kanak loh sayanya, dan kayaknya saya tidak pernah main boneka, hanya saja saya menjadikan boneka bébék ini sebagai guling. Karena dulu saya sangat menyukai bébék. Disamping masih zamannya film kartun donald bébék dan keluarga saya juga mempunyai  peliharaan bébék.

Seiring bertambahnya tahun, entah boneka bébék tersebut hilang kemana. Tapi kebiasaan tidur dengan guling itu terbawa sampai saya dewasa (dalam artian sudah menginjak umur 20 tahun keatas). Sebelum menikah dulu, saya mempunyai guling kira kira panjangnya 140 cm dan lebarnya lumayan besar. Jadi cukup berat untuk di angkat dan di bopong kemana-mana.

Mungkin sama seperti Naila, saat dirumah sepertinya udah ada kata “Wajib” untuk tidur dengan guling. Tapi disaat menginap kerumah teman atau saat magang (PKL) di zaman sekolah dulu. Tanpa gulingpun juga tetap bisa tidur dengan nyenyak. Tapi tetap saja, tak senyeyak tidur dirumah dan dikamar sendiri.

Sering kali saya membayangkan saat memeluk guling ini serasa memeluk istri saya yang dulunya masih dalam fase pacaran tunangan. Saya peluk dengan erat-erat dengan membayangkan wajah manisnya. Senyumnya yang lucu dengan gigi yang tak beraturan, gisul yang hanya ada disebelah kiri saja, dan tai kambing lalat kecil yang tepat berada di tengah–tengah bibir bagian atasnya.

Tapi semenjak menikah, Ibu saya membagi guling itu menjadi 2 bagian. Maksudnya isi dalam guling itu dipisah, dan di bagi ke dalam 2 guling. Satu untuk saya dan satunya untuk istri saya yang sekarang menjadi bantal kesayangannya Naila.

Terkadang masih sering juga saya memakai guling tersebut saat tidur, tapi terkadang kena semprot seperti ini

Sudah keloni saja guling itu, sekalian tidur dibawah ranjang sana”.

Akhirnya guling itu saya sisihkan kesamping atau ke atas dipan dari pada saya tidur di lantai. Bisa-bisa saya hipotermia masuk angin kelamaan tidur dilantai.

Memang bukan zamannya lagi saya memakai guling biasa saat sudah menikah seperti ini. Toh, sekarang Guling saya lebih besar dari sebelumnya. Disamping lebih halus dan empuk. Serta memberikan rasa aman dan nyaman. Guling yang bisa tertawa, diajak ngegosip curhat dan tentunya bisa diajak hmmm..$%&#@(^.*)<3$%@#

Sekian Terima kasih… ^_^

DiketikDisela kesibukan kerja

29/07/2016

Iklan

27 pemikiran pada “Guling Kesayangan

  1. Lucu banget Naila bobonya pules.
    Aku juga punya guling kesayangan, mungkin hakikat manusia ingin selalu memeluk kali ya #eh
    justru semakin bau itu guling, makin sayang pula si Naila sama guling itu. 😀

    Suka

  2. Kalau anakku yang kecil lebih unik lagi. Tali gulingnya kalau kuikat selalu dilepas tapi dia buat simply kecil. Satu masuk hidung buat ngupil satu lagi dijepit pakai jempol dan jari kaki sebelahnya agak ditarik gitu. Ini udah yang ketiga. Yang pertama ama kedua udah dibuang. Alhamdulillah sekarang nggak ngupil lagi

    Suka

    • wow.. keren.. sejak umur brap tu pakai bantal itu?
      Sebenarnya kata “seganteng” ini loh kayaknya gak perlu ditambahkan…
      kayaknya kata “Segede ni” itu udah cukup mewakli kata itu deh..
      piss..hahaha xD

      Suka

  3. Ping balik: Kangen Mereka Yang Telah Pergi | Pennadiri

  4. Ping balik: Malam Tahun Baru Enaknya Kemana? | Pennadiri

  5. Ping balik: Obat Pereda Pilek Anti Mainstream Secara Alami Tanpa Obat-obatan | Pennadiri

  6. Ping balik: Kamu Adalah Pusat Alam Semestaku^_^ | Pennadiri

Tinggalkan Sebuah komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s