Si Peniru Kebaikan


Sang peniru kebaikanSelepas sholat maghrib, saya dan bapak menghadiri tahlil kematian saudara yang letaknya lumayan jauh dari desa saya, untuk kesana dibutuhkan waktu 5-10 menit dengan mengendarahi kuda supaya baik jalannya sepeda motor dengan kecepatan normal. Selama 3 hari ini saya dan bapak selalu ikut tahlil kematian ini. Begitu juga dengan Naila, Naila saya ajak karena dirumah tidak ada yang ngajak main. Jadi 3 hari, eh 4 hari dengan sekarang ini selalu ikut tahlil bersama saya.

Tidak ada cerita istimewa sih dalam tahlil itu (trus ngapain di ceritain… xP). Selepas tahlil yang biasanya saya cabut pulang langsung, kemarin malam harus mampir dulu kesebuah toko yang jualan makanannya kucing. Kebetulan makanan si wisnu, muhtar dan si mity habis. Kan kasian kalau tidak dikasih makan, entar kurusan, gak comel lagi… xD

Dalam perjalanan mencari makanan kucing itu Naila melihat odong-odong. Sempat di jalan dia ingin minta naik odong odong, tapi bapak saya yang sudah menjadi mbah kung si Naila, membujuk si Naila agar tidak naik odong-odong sekarang.

Di perjalanan itu sampai rumah si Naila ini nyeloteh sendiri dengan kata “Yah, naik odong-odong, boleh?” . Sampai rumahpun masih aja kepikiran pingin naik odong-odong. Dengan sedikit merayu saat aku dan istri lagi berbincang dikamar.

yah, numpak odong-odong po’o yah..” Rayu naila ke saya dan istri

Ayuk yah, numpak odong-odong” tambahnya lagi karena tidak ada jawaban dari orang tuanya.

Naila mau naik sama siapa?, adik marsya ta?. Tante ada ta?, naik odong-odong dimana?” istriku memberi pertanyaan yang tak berujung biar si Naila tidak bisa menjawab dan mengurungkan niatnya untuk naik odong-odong. Tapi apalah daya, si Naila ini typikal anak yang harus mendapatkan apa yang dia mau.. huhuhu

he’em ma, ama adek marsya, ama om pisan, disana, di pandaan” jawabnya

loh tante mana, kalau gak ada tante ya naila gak bisa ikut!” mama nya mulai membuat alasan biar nail tidak jadi naik odong-odong

adek sya ama om, naila sama ayah, ayuk yah, naik odong-odong” rengek naila

Besok ya sayang” sanggup aku

mmmm, sekarang!!” pinta naila.

Singkat cerita dengan rentetan regek’an naila, akhirnya saya keluar kamar lihat televisi. Sinaila ini terus mengikutiku kemanapun aq pergi. Aku mengendong adik Nisa’ yang menangispun tetap dia ngikutin kemana aku pergi.

Akhirnya aku tinggal sholat isya’ dirumah tanpa sepengetahuan dia yang sedang asik melihat tontonan orang ngamen didepan rumah, setelah orang pengamen pergi, kembali Naila mencari saya. Tanya ke mamanya dan dijawab “tidak tau”. Dia terus mencari dan akhirnya menemukanku sedang sholat di musholla (tempat sholat dirumah).

Sebelum sholat, aku meletakkan uang yang ada di saku bajuku disamping aku sholat. Pas setelah mendapat 2 rokaat, Si Naila ini menghampiriku di musholla dan langsung mengambil uang itu sembari berkata kepadaku yang sedang berada di bacaan alfatikha roka’at ke 3.

Yah ini loh uangnya Ayah” Di tunjukkan kehadapanku dari depan saat dalam posisi berdiri dan kemudian melemparkan semua uang itu ke perut saya. Sempat aku tertawa dalam hati dengan tingkah Naila yang menunjukkan uang saat lagi sholat. Hadeww.. Buyar deh kosentrasi pas itu.

Setelah melempar uang, dia kembali mendapatiku ruku’ dan si Naila mulai berada di pinggirku dan mulai meniru gerakan sholatku. Tidak hanya gerakannya saja, bahkan suara yang saya ucapkan saat takbir dan membaca doa sholat juga ditirukannya.

Allohu Akbar” Naila juga mengikuti bilang Allahu akbar dengan sedikit belepotan.

Dan ketika saya membaca doa ruku’,sujud dan lain-lain dengan keadaan lirih. Si Naila juga menirukannya dengan suara angin “weswesweswedssdsfefesse”. Jadi disetiap gerakan, suara yang saya timbulkan juga ditirukannya.

Setelah sholat, saya melipat kakiku dengan posisi sila untuk memulai berdzikir. Dan Si Naila ini juga menirukan dengan bersila. Biasanya saya kalau dzikir agak lama karena ada bacaan tawasul yang harus kubaca. Jadi dalam kelamaan itu Naila tetap bertahan meniru gerakan saya walau tanpa kata-kata “weswesweswedssdsfefesse”.

Setelah tawasul, saya mulai berdzikir, Dan naila tetap diam dan sesekali terlihat dia memperhatikanku. Dengan mengoyangkan kanan-kiri seraya umumnya orang berdzikir, Naila juga mengikuti dengan mengoyangkan badan dan kepalanya. Disaat saya menguap dia juga mengikuti menguap. Disaat tangan saya mengaruk pipi karena gatal, diapun melakukan hal yang sama seperti saya.

Entah seberapa kuat di meneguhkan keinginannya naik odong-odong hingga mampu menunggu aku sholat dan berdzikir yang terhitung lama, Mungkin sekitar 20-30 menit. Atau memang Dia hanya kangen sama ayahnya dan menempatkan diri disamping saya agar lebih disayang dan diperhatikan oleh ayahnya.

Naila Naik Odong-odong

Naila naik odong odong

Sebagai hadiah karena keteguhannya, akhirnya sekitar jam 8.00 WIB saya mulai mengabulkan permintaannya untuk naik odong-odong yang dimintanya.

Selesai…

Lumayan menyita kerjaan untuk nulis ini, tapi gak apalah kan kerjaan gak begitu terganggu.. huhuhu ngeles 😛

Sekian dari saya atas.. eits kesimpulannya belum…. Oh iya lupa

Jadi Kesimpulannya, anak adalah sang peniru yang hebat, tanpa disuruh dia akan mempelajari apa yang dilihat di sekitarnya. Terutama kepada orang tuanya. Baik buruk si anak, orang tua ikut andil dalam kehidupannya. Jadi biarlah dia melihat setiap kebaikan yang kita lakukan, disaat kita melakukan keburukan (seumpama adu argument dengan istri) jangan pernah si anak melihatnya. Karena disamping anak adalah Peniru Yang Hebat, anak adalah Perekam Profesional yang mungkin akan diterapkan suatu saat nanti ketika dewasa.

Semoga Bermanfaat

Wassalamualakum Warohmatullohi Wabarokatu

Iklan

20 pemikiran pada “Si Peniru Kebaikan

  1. Aaaaah naila kamu gemesin bgt, semangat dek ngejar yg kamu mau, muahahahahahahahaha bsk2 kalau gue mau apa2, gue nempel ke emak gue ah kek gtu mahahaha. Salam ke naila bang

    Suka

  2. Ping balik: Mengutip Si Pembuat Nyaman, Yang Ingin Pulang | Pennadiri

  3. Ping balik: Alasan Mengapa Saya Tidak Bermain Game Clash of Clan (COC), Meskipun Merupakan Game Terpopuler | Pennadiri

  4. Ping balik: Memaknahi Hari Pahlawan : Pahlawan Yang Tak Pernah Lelah | Pennadiri

  5. Ping balik: Memaknai Hari Pahlawan : Pahlawan Yang Tak Pernah Lelah | Pennadiri

  6. Ping balik: Lebih Penting Mana? Karir atau Keluarga? | Pennadiri

  7. Ping balik: Sumber Inspirasiku | Pennadiri

Tinggalkan Sebuah komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s