Bercocok Tanam di Ladang Pahala


Ladang-PahalaAssalamualaikum Warohmatullohi Wabarokatu.

Hai Guys, Senang ketemu lagi di tempat yang sama dan waktu yang beda pastinya *kayaknya pernah nulis seperti ini buat kata pengantar, biarlah bukan plagarisme kalau mengkopi diri sendiri . xP

Memang inspirasi datang secara tiba-tiba dan hilang tanpa dikira. Untung sudah sedia payung sebelum hujan tadi malam.

Dampak tidak bisa tidur lagi setelah jam 3 pagi ternyata terdapat hikmah yang besar, selain rasa kantuk ketika kerja *rasa kantuk itu hikmah ya? xD  , juga saya kebanjiran Ide tadi malam. Walau hanya sekedar “judul ide” saja. Seenggaknya ada beberapa artikel yang akan saya tulis berdasar gagasan yang sudah saya tulis di notepad android saya.

Oke, back to the topic

Tadi malam adalah malam jum’at dengan suasana Religi yang isinya adalah ibadah baik tahlil, majelis dzikir, puasa sunnah, dan ibadah sunnah suami istri tentunya * ibadah apa hayo? wkwkwk,

Suasana se-religi itu membuat saya mendapat gagasan ide artikel dengan genre Religi. Entah kesambet jin muslim mana, hingga sampai bisa mempunyai banyak ide tentang religi.

Nah, seperti ide judul ini, tentang  “Ladang Pahala” tentunya semua pada paham tempat yang dinamakan ladang pahala masing-masing. Biar lebh perinci saya akan jelaskan satu persatu Ladang Pahala versi saya

Orang Tua

Tentunya bukan menjadi rahasia lagi bahwa orang tua adalah sumber pahala bagi kita, terutama seorang IBU yang telah melahirkan kita dan menjadi guru pertama bagi kita. Pun juga ada kata yang menyebutkan “Surga ditelapak kaki Ibu”. Yang bisa diartikan bahwa ketika kita berbakti kepada orang tua terutama ibu, Syurga adalah jaminan ketika Senyum di wajah orang tua selalu menghiasi bibirnya setiap hari karena perbuatan kita.

Jadi, Ladang pahala yang pertama menurut saya adalah orang tua.

Bagaimana kita Bercocok tanam di Ladang pertama ini?

Sebenarnya Orang tua, tak pernah mengharapkan sesuatu yang muluk-muluk dari anaknya, melihat anaknya bahagia, itu sudah cukup untuk membuat dia bahagia. Bukankah itu sudah cukup untuk mendapatkan surga?

Surga gundulmu kuwi, Ya ngak gitu juga bro.

Kita sebagai anak juga harus menyadari, sampai kapanpun, walau kita hidup 1000 tahun, tidak akan cukup untuk membalas jasa-jasa orang tua kita. Se-enggaknya kita harus berbakti kepada mereka. Ya salah satunya tidak membentak dia, ketika disuruh tidak menunda, dan tentunya tata krama sebagai anak tetap harus dijaga.

Kalau sudah menikah, bagaimana?  Kan terkadang harus keluar rumah?

Kalau sudah menikah, hanya kita jenguk tiap bulan saja, sudah melegakan hatinya. Memberi uang kepada orang tua, itu bukan bentuk dari bercocok tanam, melainkan memang sudah kewajiban kita memberi walau kita sudah berumah tangga sendiri.

Memberipun, juga tak harus banyak, yang penting itu pantas dan tidak memberatkan perekonomian keluarga, itu udah cukup. Tapi perlu di ingat harus ada musyawarah antar suami istri kalau masalah memberi orang tua. Apalagi ini tentang istri yang memberi uang kepada orang tua. Suaminya harus tau dan mengizinkan.

Dari kebanyakan ulama yang dilansir di republika.co.id, mengulas tentang Hukum bersedekah kepada orang tua tanpa sepengetahuan suami. Di situ dijelaskan ada yang membolehkan dan ada yang melarang keras tentang sedekah tanpa sepengetahuan suami.

Syekh Nuruddin Abu Lihyah dalam bukunya berjudul al-Huquq al-Ma’nawiyah liz Zaujah mengutarakan bahwa ulama sepakat seorang istri berhak membelanjakan pendapatannya sendiri tanpa izin suami. Ini bila berkaitan dengan kebutuhan pokok dan transaksi sehari-hari dan dengan catatan yang bersangkutan, dinilai bijak. Dalam konteks ini, istri memiliki hak yang sama sebagaimana suami. “Kemudian, jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta) maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya.” (QS an-Nisaa [4]:6).

Akan tetapi, dalam kasus bersedekah, baik kepada orang lain, keluarga, atau bahkan kedua orang tua, para ulama berbeda pendapat terkait hukumnya. Pendapat yang pertama mengatakan, istri tidak diperbolehkan bersedekah sekalipun dari penghasilannya sendiri bila tidak disertai izin sang suami.

Sedangkan, menurut kelompok yang kedua, seorang istri berhak memberikan sedekah kepada keluarga, orang tua, atau pihak manapun dari penghasilannya tanpa sepengetahuan suami.

Yang menjadi persoalan, sikap diam-diam tersebut acap kali memicu kesalahpahaman dari suami, misalnya. Memang dibutuhkan pemahaman dan komunikasi intens antarkedua belah pihak agar masalah ini tidak menimbulkan kecemburuan. Maka, hendaknya seorang istri mampu bersikap adil dengan tidak hanya mengutamakan sedekah kepada keluarganya sendiri. Ia harus pula menunjukkan empati kepada keluarga sang suami.

Istri atau Suami

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

Hai orang-orang yang beriman! Jagalah dirimu dan ahli keluargamu dari api Neraka.” (At Tahrim : 6)

Kewajiban seorang suami adalah menjaga ahli keluarganya dari siksa neraka. Hal itu sudah mencakup segala hal, dengan menjadi imam dikeluarga, mengajarkan ilmu (Taukhid, fiqih dan tasawuf), mengayomi/menafkahi keluarga, berbuat baik (tidak zalim) kepada keluarga, dan sebagainya.

Seperti halnya berbakti dengan orang tua, saya sebagai suami yang bertanggung jawab akan istri. Harus senantiasa membuat dia bahagia karena di perjanjian ijab dan qobul disaat pernikahan adalah janji suci untuk bisa membahagiakan anak orang.

Tentunya sudah sepantasnya suami untuk membahagiakan istrinya, terlebih lagi istri bisa jadi ladang pahala bagi kita.

Bagaimana membuat istri menjadi ladang pahala bagi kita?

Kalau menurut saya, menafkahi istri secara lahir dan batin yang membuat istri berucap “Alhamdulillah Ya Allah, Telah dipertemukan Imam yang tepat bagi saya”. Itu sudah sangat luar biasa, apalagi kita bisa menjaga akhlak istri. Maksudnya menjaga akhlak?

Seperti halnya tugas suami untuk mengajari ilmu agama kepada istri, dengan menjaga agar dia tetap menjaga sholatnya, puasa ramadhannya dan tentu saja meluaskan hijabnya. Meluaskan hijabnya disini adalah contoh dalam kehidupan saya pribadi, Disini saya mengartikan sebagai tata cara menjaga aurat istri dari pandangan orang lain.

Kalau istri tidak mau hijab? atau suami sendiri yang tidak menginginkan istri tuk berhijab?

Saya kembalikan lagi kepada anda, itu Hak anda sebagai istri atau suami. Kewajiban suami adalah menasehati hal sekiranya itu baik. Sekiranya masih tetap tidak menuruti keinginan kita, ya pasrahkan saja kepada yang membuatnya begitu. Allah subhanahu wata’ala tentunya.

Kalo bagi saya, istri keluar rumah walau rumah tetangga, saya menyarankan untuk berjilbab. Kalau perlu pakai syar’i sekalian. Cuma itu hak istri mau mendengar atau tidak. Saya ikhlas dengan keputusan istri.

Dan Alhamdulillah, dia menuruti anjuran saya untuk berjilbab walau disekitar rumah.

Terus, Sebaliknya?Bagaimana membuat suami menjadi ladang pahala bagi istri?

Kalau masalah ini, justru yang paling mudah. Istri tidak harus menjadi wanita yang berilmu tinggi, tak harus juga dengan wawasan yang luas, jabatan yang tinggi dan sebagainya. Istri cukup menuruti perkataan suaminya yang baik, dan melayani suami dengan sebaik-baiknya sudah dijamin Surga oleh Allah Subhanahu Wata’ala. Dan ironisnya, 2 hal semacam itu di zaman sekarang, sangatlah sulit.

Guru atau Ustad

Ladang yang terakhir adalah seorang guru, Guru disini saya lebih mengkhususkan ke guru religi bisa disebut Kyai, Ustad dan ustadzah. Karena ilmu yang diajarkan benar-benar untuk Dakwah, tidak hanya untuk sekedar sesuap nasi belaka.

Ada tiga amalan yang tak akan putus walau sudah berada dalam alam kematian. Yaitu Doa Anak yang sholeh, ilmu yang bermanfaat dan Sedekah jariyah.

Ustad yang mengajarkan kita banyak hal, dari mengaji/membaca alqur’an, belajar ilmu fiqih, ilmu taukhid dan sebagainya.  Ilmu yang kita dapat kemudian kita kerjakan sesuai yang diajarkan, seumpama yang diajarkan ke kita adalah pelajaran sholat. Jika ketika guru meninggal, disetiap kita sholat, sang guru akan mendapat pahala dari kita sholat, itulah ilmu yang bermanfaat dan di manfaatkan.

Nah kita sebagai murid, supaya guru menjadi ladang pahala bagi kita, bagaimana caranya?

Hadir disertiap acara pengajiannya saja sudah menyenangkan hati beliau, apalagi tata krama terhadap gurunya sangat luar biasa. Disuruh-suruh langsung tumindak. Kalau kata anak pondok’an “Tawadhu”.

Bukan hanya doa yang kita dapat, bahkan Ridho atas ilmu yang diwariskan melalui pelajaranya juga.  Ridho sang guru merupakan Ridho Allah akan ilmu tersebut. Banyak loh orang yang mengaji tapi tingkahnya tidak seperti orang yang gemar mengaji.

Yang dimaksud Tata krama itu seperti apa?

Kalau menurut saya Hadir di setiap pengajian dengan tujuan baik,  Niatnya adalah untuk mendapatkan bimbingan dan ilmu dari sang guru untuk mendekat kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Tidak beruntung bagi seorang yang datang ke majlis ilmu, hanya ingin membandingakan ilmu sang guru dengan ilmu dari guru lain. Murid dengan tujuan yang salah itulah yang akan di jauhkan dari ilmu yang bermanfaat dan barokah.

Kedua beranggapan bahwa guru sebagai pembimbing menuju keselamatannya di akhirat, Inilah yang menjadikan seorang murid amat menghargai seorang guru. Penghargaan inilah yang menghantarkannya untuk senantiasa serius dan bersungguh-sunguh dalam menimba ilmu dari sang guru.

Yang Ketiga yaitu poin pentingnya Patuh kepada nasehat guru. Sungguh jauh dari keberhasilan jika seorang murid tidak membiasakan patuh kepada sang guru. Patuh disini tidak terbatas pada urusan ilmu saja, akan tetapi segala isyarat dan anjuran yang disampailkan sang guru seorang murid sebisa mungkin mematuhinya asalkan tidak dalam hal yang di larang Allah SWT.

***

Kurasa sekian dari artikel tentang ladang pahala versi saya, semoga apa yang saya bahas bermanfaat.

Wassalamualaikum Warohmatullohi Wabarokatu

Iklan

6 pemikiran pada “Bercocok Tanam di Ladang Pahala

  1. Ping balik: Jangan Turunkan Standarmu, Hanya Karena Kamu Lelah Menunggu | Pennadiri

Tinggalkan Sebuah komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s