Pembenaran Diri


pembenaran-diriSuatu pagi, bapak mendengarkan sebuah ceramah di televisi. Entah pembicaranya siapa?, dan pembahasannya apa?. Kebetulan saya lagi sarapan, yang berada tepat dipinggirnya. Bapak duduk dikursi dengan memperhatikan televisi dengan seksama. Dan saya asik menikmati sarapan yang tiada duanya * kalau yang kedua bukan sarapan namanya. Wkwkwk

Lah seperti itu, banyak orang yang salah dalam sujud, kalau kaki nya posisi seperti itu, sholatnya tidak sah” Bapak bergumam sendiri, entah itu tujuannya berbicara kepada saya, apa sekedar meng-iyakan ceramah yang ada di Televisi.

Aku mah cuek, dan tetep fokus dengan sarapan yang aku makan, kalau tidak fokus dikit, bisa-bisa salah masuk hidung tu sarapan!, hhehehe :-p.

Seperti halnya takbir juga, banyak orang salah ketika mengangkat tangannya saat takbir” dengan meragakan mana yang salah dan mana yang benar.

kalo yang seperti ini, terlihat orangnya gak pernah ngaji” meragakan takbir yang salah versi bapakku.

Bisa-bisa sholatnya tidak sah, harusnya begini..” Kata bapak saya memperagakan takbir yang benar versi bapak. Sekala itu aku menoleh, dan cukup mengherankan dengan perkataan bapak saya waktu itu.

Tidak sah gimana?” Tanya aku yang begitu tidak setuju, tapi aku juga ngak berani menyalahkan, toh ilmu agama saya masih kanak-kanak, apa ngak kurang ajar namanya kalau sok gitu. Huhuhu

Ya tidak sah, kalau orang yang ngaji ada tata cara takbir yang benar” jelas bapak..

Bukannya Sah atau tidaknya itu kita ngak pernah tau ya” jawab aku yang sejak tadi mancing-mancing masalah, wkwkwkw

Loh, di kitabnya itu sudah benar-benar dijelaskan” kata bapak saya yang tetep ngeyel dengan prinsipnya

Iya, memang ada tata cara dalam sholat, tapi yang menentukan sah atau tidaknya sholat, pastinya bukan orang, Hanya Allah yang tau itu sah apa ngak!. “ mendengar jawaban seperti itu bapak terdiam, akhirnya aku menyelesaikan sarapan yang tertunda, karena sekedar mengingatkan bapak akan satu hal. “Pembenaran”.

Dari cerita diatas, sering kali kita lebih suka melihat kesalahan orang dan mentafsirkan begini loh seharusnya yang benar, begini loh seharusnya yang kau lakukan, dan sebagainya. Mematok dirinya super benar dan menganggap kesalahan orang lain sebagai titik kesalahan yang fatal padahal kesalahan tersebut hanya secuil dari permasalahan.

Dari cerita bapak diatas, Beliau menganggap takbir atau sujud seseorang itu salah, dan tidak sah dalam sholatnya. Tentunya Beliau tidak serta merta dengan menyalahkan cara seseorang begitu saja, tetap ada pedoman dalam hal itu, entah dari kitab atau hasil dari pengajian yang Beliau hadiri tiap minggunya.

Aku sih ngak masalah tentang aturan dalam kitab atau dari tata cara yang di ajarkan dari Guru atau Ustad dalam sebuah pengajian. Ketika orang sudah mengaji dan mendapat ilmu tentang itu, Pastinya wajib bagi si penerima ilmu melakukan atau menerapkan ilmunya dalam sebuah kenyataan. Tapi, Bukan untuk menyalahkan orang

Sedangkan menghakimi seseorang yang kesalahan karena ketidak tahuannya akan tata cara, yang memang orang tersebut tidak pernah mengaji atau membaca kitab-kitab fiqih atau sebagainya.

Bagiku, itu tidaklah benar. Karena belum tentu semua itu benar, kadangkala orang bersujud dengan telapak kaki  terangkat atau kaki yang tengkurap (anggap saja yang benar adalah jari kaki yang menancap ke lantai) ternyata seorang yang melakukan hal demikian karena ada udzur, entah telapaknya sakit atau memang jari-jari kakinya tidak bisa ditekuk. Kita kan gak pernah tau!.

Baca juga: Menyalahkan itu mudah, semudah mengayunkan Tangan

Selepas dari itu, menyalahkan tentang tidak sahnya sholat berdasar kepada apa yang kita anggap benar. Bagiku,  Hal seperti itu seharusnya tidak dilakukan, Toh, kita sendiri loh, belum tentu tahu, sah atau tidaknya sholat kita di sisi Allah.

Bagiku, Sholat adalah tentang tata cara hamba menemui Sang Penciptanya. Dan setiap manusia mempunyai cara sendiri dalam bertata krama. Walau sebagian sudah tertulis jelas dalam ilmu-ilmu Fiqih. Tetap saja kembali lagi kepada Manusianya.

Begitu juga dengan saya, dari artikel ini saja, saya sudah sok tau, dengan mengatakan, apa yang dikatakan bapak saya itu salah. Terlebih lagi, saya juga sering menjudge orang lain tak lebih baik ketimbang saya.

Memang sebuah ironi, bahwasannya kita selalu menganggap diri kita sebagai manusia paling benar. Kesalahan sekecil apapun dari orang lain, kita masih saja bisa melihatnya.  Sedangkan kesalahan diri sendiri, Justru lebih banyak memaklumi bahkan terkadang lebih membenarkan diri.

Kita terlalu sibuk mencari kesalahan orang lain dan lebih memperlihatkan pembenaran diri. Padahal yang berhak memutuskan benar dan salah hanya Allah Subhanahu wata’ala.

Yang menurut kita benar belum tentu menurut orang lain benar, dan yang menurut kita salah belum tentu juga salah menurut orang lain. Apalagi menurut Allah.

Jadi, kita tidak berhak untuk memutuskan orang lain salah, Jika memang kita melihat kesalahan orang lain, jadikan itu cerminan diri untuk mengingatkan dan lebih mengkoreksi diri untuk mencari kebenaran sejati menuju sejatinya Diri.

Semoga Bermanfaat

Wassalamualaikum warohmatullohi wabarokatu

 

Iklan

21 pemikiran pada “Pembenaran Diri

  1. Iya, kadang kita sibuk ngitung jerawat di muka orang sampai nggak sempat ngaca dan nyatat kalau jerawat sendiri menuhin muka.

    Met pagi mas… met sholat Subuh…

    Disukai oleh 1 orang

  2. Kita memang tidak benar- benar bisa tahu sebenarnya baik yang kita lakukan maupun yang orang lain lakukan itu sudah benar atau belum…. Yaa paling kita cuma bisa terus belajar supaya bisa benar- benar melakukan suatu hal dengan benar ya 🙂

    Suka

  3. Bihihi diskusinya mengingatkan diskusi saya dengan Ayah. Tapi sekarang lebih banyak diam ketika diskusi dengan beliau…

    Kebenaran ternyata ada tingkat presisinya juga lho.. Hasil pengajian bulan-bulan lalu 😂

    Suka

  4. Saya yakin soal sujud yang dilihat oleh bapaknya nur irawan adalah saat salah satu lima jari kaki ada yang tidak menyentuh lantai. Memang itu gaya sujud banyak orang yang sering terlihat, dan menurut fikih syafi’iyah memang tidak sah kalau dilakukan tanpa uzur hehe

    Btw, bapak Nur Irawan hebat. Wawasan kegamaannya detail sekali 🙂

    Suka

    • Ya begitulah, dari mulai awal pernikahannya sampai sekarang masih dekat sama kyai-kyai.
      Walau semasa kecil katanya jarang ikut ngaji.
      Sedangkan anak nya, masih jauh dari senang akan ibadah.
      Jga gak begitu suka dg pengajian umum..
      Aku lebih manut apa kata guru saya aja…

      Suka

    • benar… itupun tidak salah..
      cuma apa yang dinilai orang belum tentu itu benar. Kadang kita lebih melihat dari sudut pandang kita, tanpa harus tau sudut pandang orang lain itu bagaimana..

      Suka

  5. Ping balik: Mengakui Kesalahan Adalah Jalan Pintas Menyelesaiakan Sebuah Konflik | Pennadiri

  6. Ping balik: Memaknahi Hari Pahlawan : Pahlawan Yang Tak Pernah Lelah | Pennadiri

  7. Ping balik: Memaknai Hari Pahlawan : Pahlawan Yang Tak Pernah Lelah | Pennadiri

  8. Ping balik: Renungan: Jangan Merasa Benar, Lihatlah Dirimu Dulu | Pennadiri

  9. Ping balik: Si Pendiam Yang Suka Njahilin Orang | Pennadiri

  10. Ping balik: Impian Masa Depan | Pennadiri

  11. Ping balik: Pentingnya Untuk Tidak Merokok, Syarat Bagi Yang Mencari Pasangan | Pennadiri

Tinggalkan Sebuah komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s