Arti “Diam” Ku


Arti-Diam

Aku memang pendiam

Seperti air yang menghanyutkan

Kadang diam bukan tak mengerti

Tapi diam tuk mempelajari

Kata orang “Diam itu emas”. Kalau menurutku sih itu berlebihan, karena gak semua diam itu menghasilkan emas, karena sesungguhnya emas itu dihasilkan dari menambang yang membutuhkan waktu dan tenaga. Bukan hanya dengan diam kemudian muncul emas begitu saja, emang Dukun hahaha…

Banyak orang berpendapat kalau aku orangnya pendiam. Secara nyata, memang kebanyakan waktu yang aku lakukan adalah diam dirumah ataupun duduk diam di tempat kerja.

Tapi bukankah itu masuk akal, seandainya komputer yang ada di kantor aku bisa bawa kemana-mana, pastinya aku gak harus duduk diam disitu selama 8 jam. Kan enakan jalan-jalan, tengok sana, jawil sini sekalian cuci mata. Ya siapa tau ada pemandangan cewek cantik dan seksi lewat.. suit suit.. *Astaghfirulloh, aku udah beristri, maafkan aku yang khilaf ini ya manda.

Pun, saat di rumah, aku lebih banyak di dalam rumah dan jarang keluar. Memang mau keluar kemana?, disamping dirumah juga ada anak yang baru umur 1 bulan, masak di ajak jalan-jalan.

Kalau hanya keluar sekitar rumah, ya sudah setiap hari begitu. Tapi kalau untuk yang sampai travel ke luar kota atau ke tempat wisata, Kayaknya entar dulu deh. Disamping butuh biaya, pun anak juga masih rawan untuk dibawah bepergian jauh.

Oke, maksudnya orang-orang yang mengatakan saya pendiam, memang dalam beberapa kesempatan saya lebih suka diam, apalagi harus berhadapan dengan orang baru, pake bahasa Indonesia yang kaku, dan jabatan yang tinggi.

Kalau untuk berhadapan orang seperti itu memang saya lebih suka diam, disamping bahasa indonesiaku yang cukup belepotan saat aku mengucapkannya,  Dan canggung ketika menghadapi orang berjabatan tinggi seperti itu. Tapi untuk orang baru, pemakai bahasa jawa yang sama, Kayaknya masih bisa mengakrabkan diri walau tidak banyak yang diomong. Karena ya tau sendirilah, aku sendiri juga bingung apa yang akan diomongin. Wkwkwk

Sebenarnya banyak alasan kenapa saya lebih suka diam ketimbang harus banyak omong, toh, emang udah dasaran dari bapak kali yak, Bapakku jarang banyak omong jadi aku ikutan seperti beliau.

Diam Karena tidak mengerti

Daripada sok tau kan mending Diam

Ya begitulah seharusnya, sering kali aku diam ketika aku tak memahami sesuatu. Jika ngak begitu tau apa yang dibahas, kan mending mendengarkan dengan seksama, siapa tau ada pelajaran atau wawasan yang perlu aku ingat dari pembicaraan.

Dari pada sok tau dengan bicara panjang lebar yang ujung-ujungnya berdasar kata “mungkin” atau berpedoman dari “Kata orang”.

Diam untuk mempelajari apa yang dibahas

Seumpama kita nyerocos dalam satu kumpulan yang sebenarnya kita sendiri tidak tau inti yang mau dibahas itu apa!. Bukankah hal tersebut malah terlihat bodoh. Contoh teman sekumpulan tadinya bahas masalah bola, kemudian kita datang karena telat, dan mulai nyerocos sok tau dan mulai membahas game COC. Kan ngak nyambung banget kan?

Kan lebih baik diam, Nunggu dan mendengarkan apa yang dibahas baru kemudian kita berusaha masuk dalam pembicaraan itu.

Diam untuk memahami karakter

Nah, Aku lebih suka membuat orang lain bercerita kepadaku dari pada aku yang bercerita. Sebenarnya sangat menyebalkan ketika harus disuruh menjelaskan tata cara kerja kepada anak baru. Disamping ada rasa canggung, juga aku bukan typikal yang pandai bercerita, apalagi menjelaskan cara kerja secara teori.

Aku lebih suka mengajari tanpa harus berbicara teoristic, mending “ikuti aku dan tanyakan jika kamu bingung”. Nah sistem seperti ini yang sering aku jalankan kepada pekerja baru.

Setelah itu, aku balik, kebanyakan aku yang tanya dan pekerja baru itu yang menjawab. Loh, kok malah pegawai baru yang ditanya? Emang dia tau apa? Kan baru kerja?

Bukan masalah pekerjaan yang aku tanyakan, Biar lebih akrab dan dia tidak terlalu tegang dalam adaptasi di dunia pabrik. kalau pekerja barunya cowok, aku tanya “pernah kerja dimana?, udah berapa lama kerja disitu, kamu tinggal dimana, dansebagainya”.

Intinya aku biarkan dia yang bercerita dan aku yang mendengarkan ceritanya. Bukankah dengan cara dia bercerita dan menceritakan pengalamannya, kita bisa tau sedikit karakter dia. Dari cara dia berbicara, pengalaman dia bekerja, atau cara dia menyikapi pekerjaan barunya.

Kalau cewek, aku tanya, “tinggal dimana?, sudah punya pacar belum?, Berangkat kesini tadi diantar atau berangkat sendiri?, Punya nomer hp atau pin BB?, mau gak jalan sama aku minggu besok?” Dan kemudian saya digampar. Hahaha

Diam Karena itu baik

“Dari pada ngegosip ngak jelas, kan mending diem”

Mungkin beda ya?, antara cowok dan cewek saat ngumpul atau ngopi bareng. Kalau cewek terutama yang sudah ibu-ibu (Sumber dari temen cewek yang sudah ibu-ibu) mulai dari ketemuan sampai mau pulang, sudah ngebahas ratusan topik. Dimulai topik “Bagaimana kabarnya”, 3 menit kemudian “selfie dan groupy”,  3 menit kemudian “Ngerasani tetangga, teman, bahkan orang lain yang tidak beruntung sudah ada di tempat nongkrong mereka, dan terpaksa digosipin”, 10 menit kemudian membahas fashion, 5 menit kemudian ngebahas suami masing-masing sampai ngebahas hubungan intim. Oh my God… 😛

Sedangkan Cowok, Tiba ditempat nongkrong, say hello dan tanya kabar, kemudian sibuk dengan gadget masing-masing sesekali berbicara dengan topik kerjaan, 5 menit kemudian menghisap rokok dan bertanya tentang game yang dimainkan, dan diam seribu bahasa lalu pulang.

Nah dari situ bisa disimpulkan kalau Diam itu memang sudah kebiasaan pria mungkin… 😀

***

Terlepas dari beberapa kesempatan, aku yang lebih terlihat diam dalam beberapa pertemuan maupun kumpulan. Alasannya juga beberapa sudah aku jelaskan diatas. Tapi diluar dari itu ketika ngobrol dengan beberapa orang yang sudah kenal dengan aku, bahkan sangat akrab. Mereka malah mengatakan aku pendiam kalau dilihat dari fotonya. Sedangkan orangnya Ngedabrus(banyak omong) kata salah satu teman

Aku sendiri juga bingung bagaimana orang sepertiku dikatakan pendiam. Mungkin mereka belum mengenal aku lebih jauh, karena ada pepatah “Tak kenal maka tak Sayang, tak Rindu dan Tak cinta”. Jadi mereka yang mengatakan aku pendiam memang benar-benar tidak mengenal sosok-ku yang sebenarnya.

Kalau boleh jujur, aku tuh orangnya suka ngobrol, saking sukanya, hingga aku tidak ingin banyak omong lagi, karena bisa saja apa yang aku ucapkan akan menjadi boomerang bagi diriku sendiri. Pernah dulu kejadian hal semacam itu, dulu, aku sering dijadikan tempat curhat, entah itu cewek maupun cowok.

Karena kejadian tersebut, aku jadi mikir-mikir lagi untuk banyak omong seperti dulu, toh, ada pepatah lain yang berbunyi “Tong kosong, Nyaring bunyinya”. Aku tak ingin dibilang “orang berotak kosong” hanya karena banyak omong. Sekalipun yang banyak omong itu punya segudang ilmu, tapi jika di omongkan disaat yang tidak tepat, maka sama halnya orang banyak omong tak ber-otak.

Menulis di blog ini adalah salah satu caraku untuk menghindari obrolan yang tak begitu penting. Kan lebih baik membicarakan hal yang bermanfaat walau Cuma beberapa kata dari pada membicarakan panjang kali lebar kali tinggi, yang intinya tidak ada manfaatnya bahkan lebih mengarah ke ngosip atau hal ngak penting lainnya.

Sekian…

Wassalamualaikum Warohmatullohi Wabarokat

Iklan

21 pemikiran pada “Arti “Diam” Ku

  1. Kalau cewek terutama yang sudah ibu-ibu (Sumber dari temen cewek yang sudah ibu-ibu) mulai dari ketemuan sampai mau pulang, sudah ngebahas ratusan topik. Dimulai topik “Bagaimana kabarnya”, 3 menit kemudian “selfie dan groupy”,  3 menit kemudian “Ngerasani tetangga, teman, bahkan orang lain yang tidak beruntung sudah ada di tempat nongkrong mereka, dan terpaksa digosipin”, 10 menit kemudian membahas fashion, 5 menit kemudian ngebahas suami masing-masing sampai ngebahas hubungan intim. Oh my God…

    Tidak berlaku pada saya. Saat yang lain sibuk ngerumpi saya sibuk nulis postingan pakai smartphone. Lainnya selfies, saya ikhlas jadi tukang potonya. Obrolan urusan ranjang paling tabu di bicarakan. Kalau pun saya ngobrol pasti urusan sekolah anak2 itu pun nggak selalu…

    Suka

  2. Buat aku pribadi, menulis adalah salah satu cara ku untuk menyampaikan hal2 yg tak bisa kusampaikan saat aku diam. Aku menggunakan wadah menulis juga sebagai saat utk belajar. Dengan menulis aku – paling tidak – bisa menjadi sedikiiiit lebih sabar… Dan saat menulis aku memang harus DIAM.

    Suka

  3. Wah saya banget ini… kadang kalau baru kenalan sama orang saya cenderung engga banyak bicara… malah baru ngomong kalau ditanya, kalau engga ya diem aja… ada semacam kekhawatiran untuk salah bicara.. karena saya pernah ngalamin yang kaya gitu…
    Tapi beda cerita kalau sama temen yang udah deket banget, saya pasti banyak bicara… ngomong ini dan itu hahaha.. jadi kalau yang sudah benar2 dekat denga saya pasti tau lah saya orang nya seperti apa 🙂 kalau yang baru kenal atau tidak terlalu dekat pasti selalu beranggapan saya pendiam juga 😀

    Suka

  4. Ping balik: Arti Warna Hitam | Pennadiri

  5. Ping balik: Si Pendiam Yang Suka Njahilin Orang | Pennadiri

Tinggalkan Sebuah komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s