Fans VS Supporter


Aku yang mengagumimu dan mengilaimu dari jauh

Aku yang selalu memakai pernak-pernik mu

Aku yang selalu membicarakan tentangmu

Tapi aku tak pernah ada untukmu

Tak pernah hadir untuk menemanimu

Dan tak pernah sekalipun mengorbankan sesuatu untukmu

Karena Aku hanya Sekedar Fans mu

Bukan Pensupport mu

Juventini Fans

Dikutip Via Google

Lain hari, jalanan sempat macet gegara suporter sepak bola banyak yang turun di jalanan, entah apa tujuannya, yang jelas bukan dalam rangka mendukung club favoritnya. Seingatku memang tak ada pertandingan di stadion maupun di sekitaran kota. Usut punya usut,munkin  para seporter ini mau demo ke Jakarta. Karena besoknya saya mendengar kabar di televisi tentang ratusan seporter Bonek yang demo di Jakarta.

BONEK, begitulah mereka menyebut kumpulan suporter yang mendukung club sepak bola Persebaya Surabaya ini. Bonek yang artinya Bondo nekat, yang bisa diartikan dengan bahasa indonesia baku Bermodalkan tekad.

Dan Suporter yang satunya lagi, sekaligus musuh abadi kalau denger dari temen-temen lain. AREMANIA, merupakan suporter Club sepak bola AREMA  Malang. Sama-sama mempunyai sejarah kuat dalam dunia persebak bola’an di Indonesia, kedua tim ini saling beradu untuk mendapatkan kasta tertinggi di Indonesia. Begitu juga para seporternya, yang saling memaki, mencaci dan berkelahi untuk kededukan di NERAKA sana.

Loh kok Neraka?, ya iya lah, di zaman Nabi, berkelahi atau perang untuk membela Agama, eh ini malah membela Harga Diri Club kesayangannya, yang notabennya, Club sepakbola yang dibela ini loh juga tak menghiraukan mereka.

Ironis bukan. Aku yang terlahir di jalur gaza, Begitulah mereka menyebut sekitaran kotaku dengan jalur gaza. Toh, kota Pandaan berada di tengah-tengah antara Surabaya dan Malang. Di Jalur Gaza ini nyaris seimbang pendukung Aremania dan Bonek. Terkadang terjadi baku hantam antara keduanya.

Kalau Kang Irawan sendiri mendukung siapa?

Saya jelas mendukung Indonesia.

Bukan itu kang? Antara Arema sama Persebaya? Kang Irawan dukung mana?

Nggak dukung keduanya, Saya dukung Juventus dan Liverpool.. yeah…

Kalo ditanya macam itu, jujur aku sama sekali tidak menyukai liga Indonesia. Liganya saja loh, bukan Timnasnya. Kalau untuk Timnas, apapun hasil pertandingannya, menang ataupun kalah telak. Aku tetap mendukung Timnas Indonesia sampai kapanpun.

Beda untuk level liga, Disamping Level permainannya jauh dari liga-liga eropa (Bandingin kok sama eropa wkwkw) juga tentang masalah sekelumit suporter juga aku tidak begitu suka.

Apa yang saya tidak suka tentang Suporter?

Seperti yang aku jelaskan di atas, Hubungan antara Bonek dan Aremania layaknya Buaya dengan Singa (logo dimasing-masing kubu). Sama-sama predator buas yang selalu menakuti mangsa disekitarnya. Dulu waktu SMK pernah ke malang sendirian, sesampai di Terminal Arjosari, aku berhenti sejenak untuk membeli minuman disekitar terminal. Eh datang anak Aremania dengan sedikit dandanan ala rocker jalanan menghampiriku.

Bang, anak mana?” Ujar si rocker jalanan

Anak Pandaan bang.” Jawabku singkat, dengan tetap meneguk minuman yang aku beli.

Anak Bonek ya, Persekapas. Temenku kemaren ada yang dipukuli, bla bla bla bla…” SI rocker ini bercerita panjang lebar dengan sangat meyakinkan dan penuh emosi mendengar kata “Pandaan” saja.

Intinya dia tidak suka dengan adanya orang pandaan, yang belum tentu juga penggemar sepak bola atau bukan.

Tunggu disini, tak panggilakan temenku” kata dia sembari meninggalkanku, entah itu gertakan atau memang mau memanggil teman-temannya.

Oalah, beraninya keroyokan toh. Lagaknya aja kayak Preman terminal. Ternyata masih butuh rewang untuk menghajar bocah ingusan seperti aku (dibilang ingusan, toh masih anak sekolahan dan belum berani nembak cewek kala itu). Dari pada nunggu orang nggak jelas, jadi, aku tinggal dan naik angkot menuju ke tujuan awal saya ke Malang.

Dari situlah aku tidak menyukai liga Indonesia, yang penuh anarkis dan Ego yang luar biasa. Aku mengatakan begitu, karena aku juga pemain sepak bola waktu masih di bangku Sekolah. Sempet di beberapa event Kompetisi sepak bola (Tarkam), aku ikuti entah itu ikut desa orang lain, SSB (Sekolah Sepak Bola) bahkan sekolah juga.

Pernah 2 kali aku merasakan aura panas dan berakhir berkelahi disaat kompetisi antara 2 kubu yang bertanding. Kalau aku sih merupakan orang pertama yang kabur saat terjadi kerusuhan. Toh, gak ada manfaatnya dan penuh resiko akan masa depanku juga. Kalaupun untuk membela sang kekasih saat di goda orang lain. Baru aku akan maju membawa pedangnya kenshin untuk membasmi orang itu. Wkwkwkw 😛

Bukannya Kang Irawan menyukai Sepak bola dan bahkan memainkannya, Apa tidak pernah menjadi suporter sepak bola dalam negeri?

Pernah sekali aku menonton Arema kala bertanding dengan Persema di Kanjuruhan Malang. Tapi saat itu aku Cuma diajak saudara yang berdomisili di Malang dengan membelikanku tiket. Secara gratis dan kebetulan aku menginap di Malang, jadi aku ikut aja. Seru sih, Cuma lebih seru lihat di Televisi. Bisa tiduran dan makan dengan santai.

Aku lebih suka menyebut diriku “Fans” ketimbang “Seporter”. Menurutku Seporter itu juga fans * loh trus apa bedanya, Seporter itu lebih mengorbankan waktunya bahkan harga dirinya untuk selalu membela dan mendukung tim kesayangannya. Seporter sendiri bisa dikatakan lebih ke Fanatik. Tau sendirikan yang namanya Fanatik itu membenarkan segala hal yang menyangkut idolanya itu.kartun-menonton-tayangan-televisi

Berbeda dengan Fans, aku adalah salah satu fans, karena aku sendiri bisa menyukai tim idola aku bertanding walau hanya di televisi. Mendukung hanya melihat dari jauh, tak butuh banyak pengorbanan dan yang paling penting benar-benar bisa melihat “ini loh… intisari dari sepak bola”.

Begitu juga saat Nonbar, kita sama-sama beda kubu. Aku juventus dan satu temanku Milan. Kita tak pernah berseteru tentang kenakalan pemain, arrogannya pemain,dan kecurangan pemain. “Just enjoy” hanya menikmati permainan dengan sedikit bahasan, “seandainya dioper kesitu pasti hasilnya lain”, “Si Pirlo nih, bener-bener gila umpannya, keren”. Justru kita saling memuji pemain dari kubu lain.

Coba kalo seporter, seperti contoh aku pernah lihat di kanjuruhan. Yel-yel seporter arema tetap anrkis dan rasis terhadap Bonek. Padahal kala itu yang bertanding itu Arema vs Persema. Kenapa harus menyanyikan yel-yel berbau rasis kepada tim yang jelas-jelas tidak bertanding disitu? Sebaliknya di Seporter manapun di Indonesia sering kejadian seperti ini. Ironis bukan, Sepak bola yang menjungjung tinggi motto “No to Racism – Respect” ternyata masih banyak rasis di indonesia.

Mungkin cukup sekian, Aku menulis artikel ini bukan untuk memperkeruh hubungan antara Arema dan Bonek. Rukunlah kalian sebagaimana kita anak bangsa yang sama, kita juga ingin mewujudkan Indonesia bisa berkiprah menjadi tim besar di dunia.

Aku seorang Juventini  tapi Aku juga penikmat sepak bola, tak peduli dengan tim apa yang bertanding. Kalau permainannya menarik, bukankah pantas untuk dapat sambutan tepuk tangan.

zeref

Abaikan jika editannya jelek plus Norak.. yang penting Ainur Dragneel nge-Fans ama Juventus

 

Iklan

15 pemikiran pada “Fans VS Supporter

  1. Dulu paling serem kalau arema tanding di stadion Gajayana. Nggak ada yang berani lewat dekat2 stadion kalau pas bubaran. Soale menang kalah selalu sama, pada anarkis….

    Suka

  2. Ping balik: Memaknai Hari Sumpah Pemuda DI Era Globalisasi | Pennadiri

  3. Ping balik: Sahabat Sejati  Itu, Pernah Menghirup Bau Kentut Bersama | Pennadiri

  4. Ping balik: Super Hero Favoritmu Apa? | Pennadiri

Tinggalkan Sebuah komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s