[Cerpen] Pedang Peruntuh Kerajaan


Ini cerpen pertama kali aku buat, Awalnya, cerpen ini ingin aku kirim menjadi guest post di web kece F****.[com]. tapi sudah dua bulan masih belum di posting, mungkin memang tidak termasuk dari tema yang di inginkan kali, jadi ya aku posting sini aja dech, wkwkwk

****

penakluk-kerajaanSuatu Malam, ada tiga orang prajurit islam berkumpul dan saling beradu argumen. Luqman, Salman, dan Zaky. Ketiganya merupakan prajurit yang gagah berani dalam membela agama islam. Jangan tanyakan tentang kesetiannya terhadap Islam. Mereka juga sahabat yang disukai oleh panglima mereka Achmad ibnu Khuwais.

Malam yang begitu larut, disaat semua prajurit tidur ditenda masing-masing, mereka berdebat mengenai pedang dikala api unggun menghangatkan tubuh mereka. Bukan karena perdebatan itu yang membuat mereka enggan untuk tidur, tapi karena tanggung jawab akan jadwal giliran penjagaan.

“Pedang panglima memang bagus dan tajam” Ucap Salman, sambil memperhatikan inchi demi inchi pedang sang panglima, yang dititipkan kepada mereka bertiga. Dielus-elusnya pedang tersebut, bahkan sesekali dia mencicipi tajamnya pedang dengan ujung dari jarinya.

“Pantas, kalau pedang ini yang membawa kemenangan disetiap perang” ujar Salman bangga dengan kemenangan perang selama ini.

“Yah, tidak seperti pedangku, tidak panjang dan tidak setajam seperti pedang panglima. Tapi pedangku lebih besar dan kuat untuk menebas musuh-musuh kita” Zaky mulai berujar tentang kekuatan pedangnya, Zaky memang terkenal dengan kekuatan fisiknya yang kekar, dengan bersejatakan pedang besar miliknya.

“Itu bukan pedang!” Ucap Salman. “Pedang yang tak bisa memotong benda menjadi dua bagian, lebih cocok disebut gadah dari pada pedang” Sindir Salman dengan senyum kecil di wajahnya, seakan menunjukkan kepuasan dalam kata yang terlontar barusan.

“Tau apa kau tentang pedang” sambil berjalan menghampiri salman, Zaky mulai mengambil pedang yang tergeletak ditanah dekat dengan Salman.

“Apa ini yang kau sebut pedang” Zaky membuka pedang yang tergeletak di tanah tadi, dan memperlihatkan sosok pedang berombak, semacam sebuah keris, tapi berukuran lebih besar dan panjang. Pedang itu milik Salman.

“Pedang yang bergelombang!, bagaimana ini bisa menebas musuh?, ini lebih tepat untuk mengiris Ubi yang telah dibakar” Dengan piawainya Zaky menunjukkan cara mengiris Ubi yang telah dibakar didalam api unggun.

Terlihat senyum kecil yang terpampang jelas diwajah Luqman yang duduk di pinggir api unggun, melihat peraga’an temannya yang mengiris ubi dengan pedang, sesekali dia mencicipi ubi bakar yang sudah matang.

“Hey, apa yang kau lakukan dengan pedang itu” Salman berlari dan mengambil kembali pedang yang di ambil sahabatnya Zaky.

“Ini akan mencoreng kekuatan dan kesakralan pedang ini!” Gumam Salaman, dengan nada jengkel dia mengusap-usap kembali pedang yang sudah kotor bekas ubi bakar dengan sebuah kain hitam.

Pedang merupakan senjata favorit dikala itu, tapi pedang juga seperti benda sakral dan suci yang tidak boleh digunakan secara semberono. Ada kalanya, kesakralan itu membuat pedang tipis dengan ketajamannya bisa memotong pedang besar menjadi dua bagian walau pedang besar itu dibuat dengan bahan baja yang sama.

“Hey, luqman…!” Kata Salman

Luqman yang dari tadi duduk diam, menikmati ubi bakarnya, dan dengan seksama melihat perdebatan kedua temannya itu. Sesekali dia tersenyum tanpa mengeluarkan suara. Kini dia memalingkan wajahnya ke arah Salman. Dengan ubi bakar yang masih di tangannya.

“Kenapa dari tadi kau hanya tersenyum?” Tanya Salman “Tidakkah kau lihat?, Temanmu yang kesusahan ini, Pedang kesayangannya, dibuat mengiris ubi oleh orang tak berakhlak ini.” Dengan menuding ke arah Zaky.

“Apa maksudmu tak berakhlak?” Zaky langsung mendekati Salman dengan tangan yang mengenggam, Dia sangat marah ketika di bilang “tak berakhlak“.

Mungkin, siapapun akan marah dikala mendengar hinaan seperti itu, tidak berakhlak berarti tidak beragama. Sedangkan mereka bertiga mengetahui bahwa ketiganya sama-sama patuh dan taat kepada ajaran yang di bawa Rosululloh Sholallohu alaihi wassalam.

Melihat Zaky yang menghampiri Salman dengan tangan mengenggam. Luqman langsung bangun dan menghampiri keduanya. Dia melerai mereka dengan menempatkan kedua tangannya ke dada masing-masing temannya.

“Tenang lah kawan” Ujar Luqman yang berusaha melerai mereka, “Istighfar…!”

Dikala Luqman berkata istigfar, kedua temannya yang dirundung kemarahan ini akhirnya luluh dan keduanya mengucap astaghfirullohal adzim

Istighfar adalah cara ampuh untuk meredakan kemarahan hati para sahabat dizaman Rosululloh. Dengan ketaatan yang luar biasa, mereka akan menata ulang kembali hati mereka dari rasa marah.

Setelah keduanya sudah lebih tenang, Luqman mulai dengan perkataannya

“Wahai Saudaraku, apa sebenarnya yang kalian ributkan” Dengan suara yang lembut Salman mulai menelaah masalah yang dialami kedua temannya ini

“Awalnya, aku hanya mengagumi pedang panglima yang bagus, tapi Zakylah yang memulai perdebatan itu” Ucap Salman yang menjelaskan awal terjadinya perdebatan.

“Tidak…!” Teriak Zaky.

“Justru engkaulah, Wahai Salman!” Zaky menuding ke arah Salman “Engkaulah, yang pertama kali menghina pedangku!, selayaknya gadah” Ujar Zaky membela diri.

“Engkau juga sama” Ucap Salman tidak mau kalah “Menghina pedangku. Kau gunakan pula pedangku, untuk mengiris Ubi didepanmu itu” Ditunjuknya Ubi yang sudah diiris oleh Zaky.

Suasananya mulai memanas kembali, mereka tetap tidak mau mengalah dan mengakui kesalahan masing masing.

“Cukup..!”

Teriak Luqman menghentikan perdebatan antara kedua sahabatnya ini. “Hentikan perdebatan yang tak ada habisnya ini”.

“Sekarang aku ingin bertanya!” Luqman memandangi mereka berdua. Dari ketiga orang ini, Luqman adalah seorang yang tidak banyak bicara, tapi dia paling bijaksana diantara mereka bertiga.

“Menurut kalian, Pedang seperti apa yang terhebat?” Tanya Luqman kepada kedua temannya.

Luqman mengacungkan jempolnya kepada si Salman, yang mempersilahkan Salman untuk menjawab lebih dulu

“Menurutku, Pedang yang hebat seperti pedang Zulfikar, milik Sayidina Ali Ra, konon bisa membela Batu besar dengan sekali tebas” Jawab Salman

zulfikar-510x255

Replika Dzulfikar di ambil dari google

Luqman mengangguk dan bangga atas pengetahuan Salman akan pedang. Kemudian, kembali Luqman mengacungkan jempolnya ke arah Zaky, Seraya dia berkata “iniloh giliran zaky menjawab

“Bagiku, Pedang hanya sebatas alat, pemiliknya lah yang membuat pedang menjadi sangat hebat. Dari cara merawat, cara menjaga, dan cara memakai. Serta keteguhan dalam hati si pemilik. Seakan pedang menjadi bagian dari dirinya sendiri,” Zaki menghela nafas panjang “Seperti halnya Sayidina Ali, dengan keteguhan dan keberaniannya, dalam membela agama Islam, membuat pedang Dzulfikar menjadi melegenda bersama nama Sayidina Ali dalam sejarah Islam.” Tegas Zaky

Kembali Luqman tersenyum dan bangga terhadap keteguhan sahabatnya dalam mengulas arti pedang sebenarnya. Dia menepuk kedua pundak sahabatnya dengan senyum penuh rasa bangga.

“Wahai sahabatku” Ucap Luqman kepada keduanya.

“Bukankah sudah jelas!, Pokok dari masalah kalian?” Luqman melihat wajah kedua sahabatnya, sentak kedua sahabatnya kebingungan dengan pernyataan Luqman.

“Apa maksudmu!, Luqman” Tanya Zaky dengan nada Kebingungan

Luqman kembali tersenyum geli sambil mengeleng ngelengkan kepalanya

“Iya Luqman, Janganlah berbelit-belit seperti itu, Bantulah kami, kami masih dalam keadaan kebingungan, dari apa yang kau maksudkan itu” Salmanpun tak sabar dengan jawaban Luqman.

“Dengarkan baik baik” dengan tangan melambai ke arah kedua temannya, Luqman menyuruh kedua sahabatnya untuk lebih mendekat.

“Dari jawaban kalian saja sudah terlihat, Pedang yang tajam beserta kemampuan penggunanya, menjadikan pedang menjadi sebuah legenda. Seperti halnya pedang Dzulfikar milik Sayidina Ali Ra. Dengan keteguhan dan keberaniannya, serta pedang dengan 2 mata pisau yang sangat tajam. Menjadikan Sayidina Ali beserta pedangnya melegenda hingga sekarang” Luqman menghirup nafas dalam-dalam sebelum melanjutkan ceritanya, terlihat kedua temannya mengangguk-angguk yang menandakan keduanya sama-sama memperhatikan cerita Luqman.

“Tau ngak, kalian?, Tentang pedang yang lebih hebat dari Dzulfikar?” Tanya Luqman

Keduanya sepakat mengelengkan kepalanya, kembali senyum menghiasi wajah Luqman

“Ada sebuah pedang, Pedang yang luar biasa Hebat, Siapapun bisa memakainya!. Kekuatan pedang ini bisa mengulingkan satu Kerajaan. Bahkan ketika seseorang terkena sabetannya. Tak ada obat penawar yang bisa menyembuhkannya. Selayak racun yang luar biasa bahayanya” Luqman mengakhiri ceritanya.

Kedua orang itu melongo mendengarkan cerita Luqman.

“Tau ngak, Pedang apa gerangan? Tanya Luqman

Kembali mereka sepakat mengeleng-gelengkan kepala mereka, Luqman kembali tersenyum melihat ketidak tahuan kedua sahabatnya itu

“Wahai Luqman, Pedang apa itu, sampai sehebat itu?” Tanya zaky penuh penasaran.

“Bukankah pedang itu, dari tadi kalian gunakan!” Jawab Luqman dengan sunyum khasnya

Keduanya semakin bingung apa yang dimaksudkan sahabatnya itu, terlihat jelas dari raut wajah mereka dan gernyitan didahi mereka, menandakan kebingungan yang melanda dipikiran mereka.

“Pedang itu adalah lidah kalian!” Jawab Luqman

“Lidah yang tak bertulang itu, Lidah yang bisa menyakiti seseorang tanpa ada penawarnya bahkan lidah yang bisa mengulingkan satu kerajaan dengan fitnahnya.” Jelas Luqman

“Bukankah, kalian dari tadi mengunakannya?, Kalian hendak berpadu gegara ‘pedang’ yang tak dijaga”

Jawaban Luqman membuat kedua orang ini malu terhadap dirinya, akhirnya kedua sahabat ini saling berpandangan, kemudian saling memeluk dan mengucapkan kata maaf.

Luqman tersenyum. Dan ikut dalam pelukan hangat kedua sahabatnya

Sekian.

Iklan

Satu pemikiran pada “[Cerpen] Pedang Peruntuh Kerajaan

Tinggalkan Sebuah komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s