Mengutip Si Pembuat Nyaman, Yang Ingin Pulang


nyaman

Kamu adalah nyaman yang selalu membuatku pulang.
Jauh dari mengekang, jauh dari kekanakkan, dan jauh dari meributkan yang tak berkepentingan.
Pun jikalau aku hilang, aku hanya sedang mengambil jeda sayang, segala yang berlebihan adalah pengundang kejenuhan. Hanya ingin menjagamu lebih lama di sisi, menjadi perempuan di pelukan.

Kutipan yang aku angkut dari blog kece punyanya Arin Risaaid, perihal nyaman yang bisa membuat dia pulang. *Sepertinya dia lupa jalan pulang wkwkwkwk xD

Dalem yak.. banget, kadang aku suka bingung membaca tulisannya, wkwkwkwk 😛

Tak apalah, ini tulisan aku buat, juga  ingin meng-explore tulisan satra si Arin ini, se-enggaknya aku belajar mengerti, apa itu kata sastra, maklum anak logis yang belajar mengenal sastra, seperti halnya api yang ingin berkenalan dengan air, mati donk. xD

Perihal Nyaman yang membuat pulang, Tak ada yang lebih nyaman dari rumah sendiri, apalagi dirumah ada si pembuat nyaman yang selalu membuat kita ingin pulang.

Cinta membuat orang merasa lebih nyaman dekat seseorang, karena ada cinta itu pula kita betah berlama-lama diam dirumah untuk sekedar bercerita tentang suatu hal, entah itu hal yang berkepentingan, hal biasa bahkan yang membosankan sekalipun.

Kamu adalah nyaman yang selalu membuatku pulang

Kamu disini, sepertinya ditujukan kepada seseorang, bukan sebuah rumah yang membuat ingin pulang karena rasa nyaman.

Seseorang yang membuat si Arin ini merasa nyaman.

Siapakah dia? Hahaha kepo banget sih, itu mah biarin urusannya Arin saja. Toh dia kan yang merasakan nyaman, wkwkwkw

Kalau dari aku sendiri, mungkin Rumah yang selalu membuat aku ingin pulang, pulang untuk sekedar menaruh beban kehidupan, melepas semua kejenuhan dan tempat untuk melihat dan menunggu masa depan berkembang.

Ya, tentu perihal keluarga. Orang tua yang selalu ikhlas membesarkanku tanpa mengharap imbalan. Istri yang selalu setia, kadang cerewet dan cemburu yang menungguku untuk pulang,

Dan anak yang menjadi pengalih perhatian ku yang selalu menjadi peniru kebaikanku. yang selalu ingin aku lihat tumbuh berkembang di masa depan.

Nyaman Yang Jauh Dari Mengekang

Siapapun tidak suka dirinya dikekang, tapi ketika berkeluarga, mengekang adalah batasan untuk bisa menghargai perasaan pasangan.

Aku typikal orang yang jauh dari mengekang, aku menulis seperti itu, bukan untuk menyombongkan diri, hanya saja, aku merasa akan melakukan hal sama (Pemberontakan) ketika diriku merasa dikekang oleh suatu hal.

Aku akan meng-iyakan apapun yang dilakukan istri, asal itu hal baik dan tidak menyalahi akidah. Seperti halnya tentang sebuah pekerjaan.

Sejak awal aku tidak ingin istri ikut bekerja, tapi aku membiarkan dia untuk bekerja hanya sekedar untuk memberi dia jeda untuk berpikir, jeda untuk beradaptasi dan jeda untuk memilih jalannya sendiri.

Ketika dia memilih untuk berhenti bekerja, aku juga mengiyakan tindakannya. Pada dasarnya hal tersebut yang aku inginkan dari dulu, toh sekarang, dia udah sangat beradaptasi dengan lingkungan wargaku dan sudah menyadari beban yang dipikul untuk menjaga anak-anaknya.

Baca juga: Jangan Beranggapan Istri Tidak Bekerja Akan Mengganggu Perekonomian Keluarga

Tapi terkadang, sikap yang jauh dari mengekang terlihat seperti tidak perduli. Hal yang sering kita ributkan hanyalah perihal ketidak pedulianku dan ketidak peka’anku. Ya, aku akui itu. Maaf untuk hal itu sayang 🙂

Nyaman Yang Jauh Dari Kekanak-Kanakan

Yang di maksud Arin “Jauh dari kekanak-kanakan” itu mungkin semacam kedewasaan. Entah aku sendiri juga bingung bagaimana arti dewasa yang sesungguhnya.

Yang jelas, Pria dewasa akan menjadikan pasangannya lebih nyaman. Karena dewasa, berarti mampu berpikir secara logis dan mampu membedakan mana yang salah dan yang benar.

Tapi kata “dewasa” ini, lebih menyangkup hal yang sangat luas. Tidak sebatas sekedar mampu membedakan hal yang benar maupun salah.

Dan setiap orang mempunyai persepsi dan kriteria sendiri untuk orang yang dianggap dewasa.

Bagiku, Dewasa juga tak harus jauh dari kekanak-kanakan, karena ketika kita menghadapai seseorang, akan lebih mudah kita berbicara mengikuti gayanya. Tak mungkin kan ketika seorang teman ngajak ngobrol tentang sepak bola kita membahas tentang wanita. Wkwkwkw

Begitupun saat menghadapi anak kecil, tak perlu lah kita bersikap selayak pria dewasa yang angkuh dan berwibawa didepannya, justru hal tersebut akan terlihat garing dan membosankan di depan anak kecil tersebut.

Jadi, kekanak-kanakan akan sangat diperlukan diwaktu yang tepat untuk sekedar memberi rasa nyaman untuk orang sekitar.

Nyaman Yang Jauh Dari Meributkan Hal Yang Tak Berkepentingan

Hmmm. Yang ini apa yah… *garuk garuk kepala

Meributkan hal yang tidak berkepentingan, Kenapa harus diributkan, kalau tidak penting juga?

Yah, karena hal itu tak penting!, kenapa harus diributkan?.

Mungkin itu yang dimaksud oleh Arin tentang Nyaman yang jauh dari meributkan yang tak berkepentingan.

Ketika kita menjalin hubungan, bukannya konflik terjadi karena hal kecil yang tak begitu penting. Seperti halnya

kenapa bales chat lama banget”
“Kemana saja sih,di telpon ngak di angkat-angkat”
”Bisa ngak, tidak membuat aku menunggu lebih lama lagi, aku jenuh disini”

Bagiku, pertanyaan seperti itu tidak relevan banget. Harusnya nanya baik-baik dulu, cari tau alasanya kenapa dia tidak bales chat, atau kenapa tidak bisa mengangkat telepon atau alasan kenapa sampai membuat dia menunggu lama.

Belum tau apa yang terjadi, sudah marah-marah dan menuduh yang bukan-bukan, Bagaimana bisa nyaman, kalau hanya dengan hal yang sepele saja, kita masih meributkannya.

Jikalau Aku Hilang, Aku Hanya Mengambil Jeda

Ini Kebanyakan yang dilakukan cowok saat lagi bertengkar sama pasangannya, Mengambil jeda sejenak.

Mengambil jeda untuk bernafas, mengambil jeda untuk sekedar memikirkan kembali, dan mengambil jeda untuk menekan emosi diri.

Mengambil jeda bukan seperti melarikan diri, sebab kita tidak pernah lari, Cuma menunggu waktu yang tepat untuk bertanggung jawab dengan apa yang terjadi.

Baca juga : Memahami Konflik dan Cara Meredam Konflik Dalam Rumah Tangga

Hal Yang Berlebihan Mengundang Kejenuhan

Hal ini sudah pasti, sesuatu yang berlebihan tidak akan baik bagi kesehatan. Makan banyak yang berlebihan, membuat badan semakin melar, Tidur yang berlebihan, juga bikin badan jadi kaku, Pacaran yang berlebihan, juga tidak sehat bagi mata yang memandang, *eh wkwkwkwk xD xD

Tapi, kenyataannya seperti itu. Kalau hanya sebatas status pacaran, tingkat kejenuhan akan semakin memuncak ketika hal berlebihan memberikan sebuah kejenuhan baru.

Selayak tiap hari sms atau chat hanya sekedar “Morning beb”, “Pagi Sayang” dan itu rutinitas tiap hari. Kadang hal seperti itu, lebih terlihat membosankan dan jauh dari romantis.

Kadang seringnya bertemu membuat kehabisan kata-kata untuk sekedar merayu atau untuk membicarakan sesuatu. Yang ada hanya hening melanda tanpa ada cakap-cakap yang berarti.

Mungkin membiarkan jarak dan waktu memisahkan, hanya untuk memberikan rasa rindu yang berkembang, Mengambil jeda bertemu untuk menambah rasa percaya dan kasih sayang yang jauh dari kejenuhan.

Berarti Menikah juga akan mengakibatkan kejenuhanKarena tiap hari bertemu, dan tidak ada jeda untuk merasakan rindu yang berkembang.

Tentu tidak!…

Level menikah beda sekali dengan pacaran. Kita tidak membicarakan cinta dan rindu. Melainkan kasih sayang yang tulus yang tak padam oleh kejenuhan. Menikah, Bak drama kehidupan yang tak pernah habis tantangannya oleh zaman.

Jadi, tak perlu takut jenuh untuk hubungan seperti menikah, just enjoy and be happy. Karena tujuan dari Menikah, salah satunya untuk BAHAGIA BERSAMA.

arin-rissaid

Arin Rissaid @lantunanjiwa

Iklan

16 pemikiran pada “Mengutip Si Pembuat Nyaman, Yang Ingin Pulang

  1. Ping balik: Ketika Di Hadapkan Pada Sebuah Persimpangan Jalan, Memilih Itu Wajib! | Pennadiri

  2. Aaakk kak Irawan, keren, saya suka. Dari puisi baperan jadi bisa banyak hikmah yang di ambil. Analisanya juga bener kok. 🙂
    Terimakasih kak Irawan, saya ijin mencantumkannya di halaman blog sana ya? 🙂

    Disukai oleh 1 orang

  3. Ping balik: Berjalan Menapaki Takdir | Pennadiri

  4. Ping balik: Hal-Hal Yang Perlu Perhatikan dan Dilakukan Sebelum Memutuskan Menikah | Pennadiri

  5. Ping balik: Menjemput Jodoh Agar Tetap Berjodoh | Pennadiri

  6. Ping balik: Apa Arti Senja Dalam Hidupmu | Pennadiri

  7. Ping balik: Jika Kau Jodohku, Mengapa Tak Kunjung Datang | Pennadiri

  8. Ping balik: Berkarya Dengan Draft ke-100 Yang Sudah Di Publish | Pennadiri

  9. Ping balik: Lebih Penting Mana? Karir atau Keluarga? | Pennadiri

  10. Ping balik: Mencintai Itu Harus Rela Tersakiti Agar Bisa Memahami Arti Cinta Yang Sebenarnya | Pennadiri

  11. Ping balik: Point Penting Agar Kamu Tidak Di Tolak Saat Mau Menyatakan Cinta ke Cewek | Pennadiri

  12. Ping balik: Perihal Sahabat Pena Yang Menginspirasi | Pennadiri

Tinggalkan Sebuah komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s