Memaknai Hari Pahlawan : Pahlawan Yang Tak Pernah Lelah


avengers-age-of-ultron

Source image by Screencrush

Siapa pahlawan favoritmu?

Kalau anak zaman sekarang, mungkin akan menjawab “Iron man, Spider man, Super man, Bad man dan sebagainya”. Intinya yang judul belakangnya ada tambahan kata “Man”, merupakan sosok pahlawan yang sangat digemari oleh anak muda zaman sekarang.

Mereka lebih mengenal sosok pahlawan fiksi buatan Amerika, ketimbang pahlawan nyata yang mungkin sudah sangat terkenal di dalam negeri sendiri.

Terkenal karena perjuangannya mengusir penjajah, Pahlawan yang melopori gerakan pemuda, Pahlawan yang mengobarkan api semangat perjuangan Indonesia dan bahkan pahlawan yang terukir indah dalam balutan tulisan sansekerta.

Sebut saja Supratman dan jendral Sudirman, sama-sama belakangnya ada “man”, tetap saja disetiap iklan tak pernah menyinggung sedikitpun tentang hebatnya para pahlawan negeri kita. Kebanyakan pahlawan fiksi itu yang nempel disetiap botol minuman.

Ironis sekali bukan!

Besok adalah hari Pahlawan Nasional. Hari Peringatan yang dirayakan pada tanggal 10 November setiap tahunnya di Indonesia. Hari yang memperingati Pertempuran Surabaya yang terjadi pada tahun 1945, di mana para tentara dan milisi indonesia yang pro-kemerdekaan berperang melawan tentara Britania Raya dan Belanda, yang merupakan bagian dari Revolusi Nasional Indonesia. Begitulah sedikit penjelasan hari pahlawan menurut Wikipedia

Bagiku, hari pahlawan sama halnya dengan hari-hari biasa. Karena di kalenderpun warnanya tetap sama selayak hari-hari produktif lainnya, *ngak ada libur ngak rame.

Tak ada yang spesial untuk kalangan pekerja sepertiku ini. Mungkin Hari pahlawan hanya diperingati oleh para pelajar saja kali yak!, entahlah… 😦

Baca juga : Memaknahi hari sumpah pemuda di era globalisasi

Pahlawan Yang Sebenarnya Di Era Masa Kini

hari-pahlawan

Source image by Radar indo

Banyak pejuang Indonesia yang mati dengan bangga membela dan memperjuangkan tanah air Indonesia ini. Begitu gagah berani dan tidak takut mati.

Merekalah pahlawan sejati, yang membela dengan hati, bukan untuk diri tapi untuk Nusa ini. Sedangkan sekarang, Banyak kursi yang begitu ingin diraih, berlandas rasa peduli dan penuh janji, tapi selalu ingkar dan memperkaya diri.

Apakah ada pahlawan di Indonesia saat ini?

Ah, pahlawan hanya ada di masa lalu. Begitulah ucapan dalam hatiku, penuh ragu dengan janji seorang perayu.

Bagiku, pahlawan sebenarnya, bukan mereka yang berjuang untuk aspirasi rakyat dengan syarat. Bukan yang selalu berjanji tentang kemakmuran yang tak pernah wujud.

Tapi mereka yang selalu bekerja demi yang dicintainya, rela mengorbankan waktu dan keringatnya, untuk sekedar mencukupi kebutuhan orang yang dicintainya.

Yah, Ayahku adalah pahlawan yang sebenarnya.

Setiap ayah yang berjuang demi keluarganya, Mereka yang selalu berusaha mencukupi kebutuhan dengan cara halal nan indah. Itulah para pejuang sebenarnya, para pahlawan masa kini yang selalu tersisih oleh budak fiksi ala amerika.

Baca juga : Seruan hati dan Pengorbanan diri

Untukmu Yang Selalu Menginspirasi Diriku, Ayah!

Ayah, Untukmu yang selalu menginspirasi

Source image by Stocksnap.io

12 November adalah Hari Ayah Nasional, entah itu hari di tujukan karena rasa iri seorang Ayah atau Bapak. Karena di Indonesia ini lebih menjunjung seorang wanita atau Ibu ketimbang para Ayah.

Kenapa aku berkata demikian?

Bisa kita lihat banyak kata yang mengunakan kata “Ibu” dalam hal penting di Indonesia, seperti Ibu kota, Bupati, Hari Ibu, Hari Kartini dan sebagainya. Dan hari Ayah ini, merupakan landasan rasa iri yang selalu diderita oleh para Ayah, agar keberadaannya lebih di hormati. Maka tanggal 12 November ini, diperingati hari Ayah, wkwkwkwk 😛

Menurut Wikipedia, Di Indonesia sendiri, Hari Ayah dirayakan pada tanggal 12 November. Hari Ayah pertama kali dideklarasikan di Solo pada tahun 2006, di masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono.

Sengaja posting hari pahlawan dan hari Ayah, aku jadikan menjadi satu. Seperti yang aku jelaskan diatas, bahwa Pahlawan yang sebenarnya dalam lubuk hatiku adalah Ayahku.

Bukan mereka yang tertulis dalam buku sejarah yang memperjuangkan kemerdekaan dengan segenap hati dan jiwanya. Mereka juga pahlawan, tapi pahlawan untuk negara. Tidak begitu berimbas untuk kehidupanku.

Ayahku lah yang sejak kecil telah merawatku, menuntunku menjadi lebih dewasa yang sedikit mengerti dunia. Beliaulah yang lebih berpengaruh dalam pertumbuhanku ketimbang para pahlawan yang selalu di ajarkan dalam pelajaran sejarah disekolah.

Karena, sejak awal aku benci pelajaran sejarah!

Pelajaran yang berbau menghapal dan membaca berulang-ulang, sangat tidak cocok dengan memory yang cepat lupa di pikiranku. Aku lebih suka mengingat mengunakan pengalaman dan teory yang mungkin sedikit masuk dalam logikaku.

Aku bukan benci sejarahnya, bukan benci dengan pelajarannya, cuma benci dengan ujian sejarahnya! Huft..

Berbeda dengan cerita sejarah kehidupan Ayahku, jauh lebih menarik untuk didengar dan tanpa ada ujian untuk membuktikan kelulusan xD.

Baca juga : Si peniru kebaikan

Terima Kasih Ayah!

Terima kasih ayah

Source image by Stocksnap.io

Sedikit bohong sebenarnya, mengunakan kata “Ayah” ini!, karena dirumah aku memanggilnya dengan sebutan “Bapak”. Karena aku membuat artikel tentang hari Ayah, bukan Hari Bapak. Jadi aku mengunakan kata Ayah biar lebih umum dan nasionalisme. * apa bedanya ayah dan Bapak..

Rasa syukur aku panjatkan dengan setulus hati, karena mendapat takdir dilahirkan sebagai anakmu. Sewaktu kecil, aku yang jarang melihatmu, karena engkau hanya singgah 4 hari sekali dalam sebulan karena pekerjaanmu. Hanya hari raya idul fitri lah, aku bisa memelukmu lebih lama.

Aku tidak menyesal, walau jarang sekali kau belai rambutku. Tapi disetiap cerita pengalaman hidupmu, setiap nasihatmu, disitulah jalan hidupku mulai terbuka. Kau adalah inspirasiku saat itu.

Baca juga : Ketika di hadapkan pada sebuah persimpangan, memilih itu wajib

Tapi, dewasa ini, sering sekali perdebatan antara kita selalu terjadi. Dari pembahasan tentang hal yang sepele, bahkan menyangkut syariat. Maaf kalau hal tersebut bisa menyinggung hatimu.

Aku tahu, engkau adalah inspirasiku dulu, engkau adalah panutanku untuk menjadi pria dewasa yang keren sepertimu.

Tapi, sungguh itu dulu.

Sekarang aku yang begitu angkuh, aku yang sudah merasa bisa memilih sesukaku. Mungkin itu yang membedakan aku yang dulu.

Terima kasih atas bimbingan dan dekapan perlindunganmu selama ini untukku. Terima kasih sudah turut membesarkanku dalam keluarga yang Indah menurutku.

Tapi sekarang, Aku ingin menjadi diriku seutuhnya, Diriku yang bebas memilih sesuai dengan keyakinanku, diriku yang tak selalu berlindung dalam payung ilmumu. Aku ingin menemukan diriku yang sebenarnya, tanpa harus selalu mengikutimu.

Aku ingin menemukan Islam dalam diriku, bukan hanya karena kelahiranku. Aku ingin memutuskan cara berpikirku sesuai dengan apa yang ada dihatiku. Aku ingin belajar dari kehidupanku.

Jadi, terima kasih atas semua doa-doamu yang selalu kau panjatkan disetiap tahajud-mu, disetiap dhuha-mu. Aku tidak bisa seperti dirimu, tapi percayalah?, aku akan memegang amanat yang kau ajarkan kepadaku, akan aku jalankan syariat yang selalu kau tuntunkan kepadaku.

Walaupun kita tak selalu berpendapat, kadang saling debat. Tapi, percayalah! Itulah caraku mengungkapkan rasa sayangku kepadamu. Bukan untuk membenarkan diri, tapi untuk menimbah ilmu diri dari sang inspirasi di era masa kini.

****

Dari Anakmu yang angkuh penuh rindu

Iklan

6 pemikiran pada “Memaknai Hari Pahlawan : Pahlawan Yang Tak Pernah Lelah

  1. Ping balik: Super Hero Favoritmu Apa? | Pennadiri

Tinggalkan Sebuah komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s