Tangisan Bidadari Peluluh Hati


alasan-kenapa-wanita-menangis

Source image by iqmapost

Setiap dua minggu sekali, sering sekali aku berkunjung ke sanak saudaranya istri. Sekedar menyambung tali silaturohmi, juga sekalian refreshing buat istri juga anak-anak.

Memang kedua orang tua istriku sudah tidak ada, hanya menyisakan kakaknya saja yang tinggal di rumah orang tua istri. Senang sekali berkunjung kesitu, disamping Naila bisa bermain dengan sepupunya, juga udara yang masih sedikit sejuk mengingat daerah kaki gunung dan masih banyak pohon-pohon besar d sekitar rumah. Sangat berbeda di daerahku yang lebih panas karena dekat dengan jalan tol dan minim pepohonan disekitaran rumahku.

Begitu pula dengan sumber air disana, warga disana masih memanfaatkan sumber air yang sudah ada di sebuah bagunan kecil yang terdapat sumber air yang melimpah sejak dulu. mereka mengunakan sumber air itu untuk mencuci pakaian, dan mandi di bangunan tua tersebut. Sebagaimana air sumber pegunungan, airnya dingin dan jernih, walaupun begitu aku tak pernah sekalipun mandi disana, lantaran malu harus telanjang dan mandi bersama, juga tempatnya sediit mistis kalau menurutku. Terlihat dari bangunan yang tua, juga pohon besar yang tepat berada di belakang bangunan itu.

Bentar, sebenarnya ini ngebahas apa’an yak?, kok malah nyeritain rumah mertua. Kayaknya sering deh gini, kata awal yang tak pernah selaras dengan judul, bahkan tidak ada hubungannya..

Ya biarlah, emang dibuat seperti itu, biar artikelnya sedikit panjang.

Jadi ceritanya, Biasanya aku dan keluarga berkunjung kerumah saudaranya istri hari minggu pagi dan pulangnya hari senin saat aku masuk kerja malam. Tujuannya simple, menghindari kemacetan.

Jangan pikir hanya jakarta saja yang macet? Di kotaku juga macet kalau hari minggu sore. *macet aja bangga

Dulu sih jarang ada kemacetan di kotaku kayak gini, justru setelah ada tol gempol-pandaan, yang katanya jalan tol adalah sulusi biar sampai ketujuan lebih cepat dan kemacetan di kota teratasi. kenyatannya, kemacetan justru lebih menjadi-jadi, bukan menambah lancar lalu lintas, justru tambah memacetkan jalanan.

Karena alasan itu, aku lebih memilih untuk kerumah saudara pas hari minggu dan pulang hari senin, tapi kemarin karena suatu alasan, aku kerumah saudara hari sabtu dan rencana pulang minggu siang. Akan tetapi, waktu tidak mengizinkan, dan akhirnya pas pulang juga waktu sore. Kena macet deh.

Selesai…

Baca juga : Lebaran pertama Mudik hanya dengan Naila

Terus tangisan bidadarinya mana?

tangisan-bidadari

Searce image by Pinterest

Oh iya lupa xD, itu tadi salam pembuka, lumayan panjang juga. Dan sebenarnya cerita diatas itu hanya sekedar cerita, tidak ada sangkut pautnya dengan isi dari judul artikel ini. Row of nothing

Trus ngapain di ceritakan?

Iseng aja, biar ada penggambaran kalau aku itu sering sekali berkunjung kerumah saudaranya istri. Hahahaha xD

Oke, kemarin hari minggu pagi, karena setiap malam minggu, aku ada rutinan di jam 11 malam sampai jam 3 pagi yang tidak bisa aku tinggalkan. Akhirnya di minggu paginya, waku aku habiskan untuk tidur.

Berbeda dirumahku yang lebih tenang dan nyaman, aku tidak bisa tidur nyenyak disana. Ponakan dan anak-ku bermainnya kebangetan, udah tau aku tidur, eh malah loncat-loncatan di springbed yang aku tiduri.

Ini anak siapa sih? Udah tau ada yang tidur, eh malah di njjot-njot? Ya kebangunlah aku.

Akhirnya aku mengalah, dan tidur di depan televisi yang beralaskan karpet dilantai. Belum sempat terlelap, terdengar isak tangis atau sekedar anak yang sedang mainin ingusnya, “shruuuuppp”. Aku toleh kesamping, ternyata Dina, ponakanku yang sedang sarapan di depan televisi, dan hidungnya sedikit mampet karena pilek, mungkin suara itu dari dia.

Lama-kelamaan, terdengar isak tangis yang lebih nyaring, dan jelas itu bukan sekedar pilek, karena terdapat suara rintihan tangisan yang sering sekali aku dengar. Tangisan yang selalu membuat hatiku merasa bersalah dan pilu saat mendengarnya. Aku ingat betul, ini jelas isak tangis istriku.

Aku diam dan tetap dalam posisi tiduran seraya mendengarkan suara isak tangis itu. Sedikit aku berpikir, tentang kesalahanku yang bisa membuat istriku menangis.

Akhirnya aku teringat kata dia sebelum aku berangkat untuk pergi ke rutinanku, dia sebenarnya memintaku untuk libur dulu dari rutina tersebut, kali ini saja. Tapi aku menolaknya.

Apa karena itu, dia sampai menagis. Apalagi aku mendengar dari kakaknya, disaat aku pergi, jam 12 malam, si Naila dan Si Nisa mulai membuat ulah bergantian. Mereka saling saut-sautan dalam nyanyian tangisannya, mungkin istriku saat itu, kerepotan mengurusi keduanya sendirian. Karena, biasanya, mereka berdua tidur terpisah, aku yang tidur dengan Naila, dan istri tidur dengan si Nisa.

Tapi kemarin saat menginap dirumah kakak, membuat si Naila dan Nisa satu kamar dan satu ranjang. Apalagi istriku lebih condong ke Nisa karena masih meminum ASI. Sedangkan si Naila hanya mendapat punggung dari mamanya, mungkin si Naila merasa di cuekin, akhirnya dia menangis yang membuat adiknya ikut nangis juga.

Karena merasa bersalah, aku bangun dari tidurku dan menghampiri istri yang sedang menangis diruang tamu. Dengan membawa tisu dan masih memegang piring yang masih berisikan sarapannya. Dia masih larut dalam isak tangisnya, satu suapan dia makan, dia menangisinya.

Aku diam di depannya, dan memperhatikan dia makan sarapannya, suapan demi suapan, begitu juga dengan tangisannya yang masih hanyut membasahi tisu yang dipegangnya.

Kenapa nda?” Tanya aku

Dia diam saja dan masih mengunyah makanannya sembari tangis menghiasi wajahnya. Sebenarnya sudah hal biasa disaat dia nangis entah karena suatu hal yang membuat dia terluka, mungkin karena sikapku atau karena hal lain. Tiap kali aku tanya disaat dia menagis, jawabannya selalu sama dengan diam seribu bahasa.

Kalau ada wanita menangis, dan kamu tanya, dia diam saja, itu tandanya dia tidak baik-baik saja, Trust me. xD

Itulah yang membuat pria semakin dalam keadaan bersalah. Melihat wanita menangis itu hal yang membuat hati terluka, menenangkannya, juga tidak semudah yang kita kira.

Menurutmu dengan memeluknya saja, sudah bisa menyelesaikan masalah! Tidak semudah itu juga. Kadang, jika tangisan itu disebabkan oleh salah kita, memeluknya juga bukan solusi untuk meredahkan masalah, kadang dia membalas dengan mendorong kita bahkan enggan untuk menerima pelukan kita.

Jika hal seperti itu terjadi,  jangan panik!, jika pelukan pertama dia tolak, mungkin si wanita ini meminta pelukan yang kedua. Hahaha xD

Dari  pada diam-diam seperti ini berlanjut lebih lama, karena rasa kantukku juga tak bisa menahan lebih lama. Akhirnya, aku memeluknya dan mengucapkan 3 kata ajaib “ Nda, maafkan aku”.

Tapi dia menolak pelukanku, tapi tetap saja aku harus berusaha lebih keras,  aku melancarkan pelukanku yang kedua. Dan akhirnya dia berkata.

Bentar yah, sarapanku belum kelar” kata dia

Aku menghentikan pelukanku dan berpikir tentang “apa pentingnya sarapan itu dibanding pelukanku” dan kemudia aku memperhatikannya lebih seksama lagi, dia mengambil sesendok nasi dan memakannya, nah pas dia makan, dia menangis lagi, seraya memegang pipinya dan mengerang kesakitan.

Oalah nda, gigi kamu sakit” tanyaku.

Dia mengangguk dan masih menangisi makanan yang di makannya.

Baca juga : Gigitan Rasa Patah Hati

Syukur alhamdulillah, Ternyata, tidak seperti yang aku bayangkan. Bukan karena ke-egoisanku yang membuat dia menangis, tapi karena makanan yang dimakannya, tidak membuat dia merasa baikan, justru membuat dia kesakitan. Tapi tetap dia lakukan, demi mengisi perut yang keroncongan juga untuk mengisi ASI yang terus-terusan di minum si Nisa tanpa ampun.

Ternyata, tidak semua ke-egoisanku dan sikap tidak peduliku yang bisa membuat bidadariku menangis tersedu-sedu. Makanan yang dia masak sendiri loh, bisa membuat dia menangis, dikala sariawan hinggap disela-sela mulutnya, yang lebih menyakitkan dan menyiksa saat sarapan ketimbang sakit hati, yang masih bisa menikmati enaknya sarapan.

Iklan

9 pemikiran pada “Tangisan Bidadari Peluluh Hati

  1. Ping balik: Suara Si Nisa Yang Ngegemesin | Pennadiri

  2. Ping balik: Lucunya Si Nisa Berdzikir | Pennadiri

  3. Ping balik: Luka Penuh Drama | Pennadiri

  4. Ping balik: Satu Garis Merah | Pennadiri

Tinggalkan Sebuah komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s