Mencintai Itu Harus Rela Tersakiti Agar Bisa Memahami Arti Cinta Yang Sebenarnya


cinta-palsu

Source image by FreeHD walpaper

Ini judul sok tau banget yak.

Dimana-mana, yang namanya mencintai itu bukan saling menyakiti, tapi saling mengasihi dan menyanyangi satu sama lain. Terus, mengapa judulnya kayak gitu?

Ah, Entahlah..

Kemarin otak ku udah aku peras buat nyari ide dan hasilnya nihil, pun hari ini juga tidak ada ide sama sekali di otakku ini, walau di Draf banyak catatan kosong dan judul tak berisi, yang sebetulnya cukup menarik untuk dibahas.

Tapi otak kiri ku enggan memikirkan hal berat seperti itu. Sebagian otakku hanya ingin memikirkanmu 😍😍😍, oh kasihku.., selagi otak yang lainnya sedang aku pakai untuk mengerjakan tugas perusahaan di malam ini. Yeah ^_^

Entah kenapa, aku kepikiran bahwa “mencintai itu harus rela tersakiti agar bisa memahami”.

Yah, seperti yang aku katakan di atas, bahwa mencintai itu bukan soal menyakiti, tapi lebih saling menyanyangi dan mengasihi satu sama lain.

Tapi sejujurnya ya, Mencintai itu juga ada sangkut pautnya dengan tersakiti dan menyakiti. Bukannya kenyataan seperti ini sudah banyak, orang yang tersakiti karena cinta, pun juga orang yang rela menyakiti orang lain demi cinta.

Orang yang patah hati contohnya, pada mulanya dia mencintai untuk bisa membahagiakan diri. Seketika cinta yang tumbuh di hatinya itu tidak terbalaskan atau telah dihianati, rasa cintanya itu berubah menjadi jarum yang menusuk hatinya sendiri. Coba tanya orang yang patah hati, Salah siapa dia sakit hati? Paling jawabannya “ya salah sendiri main hati, coba mainin kaki, pasti patah kaki bukan patah hati” wkwkwkwk :3

Orang yang patah hati, bisa melukai orang lain. Kayak di sinetron-sinetron, kebanyakan peran yang antagonis, bermula dari rasa patah hati, karena pasangan incarannya di ambil orang lain. Akhirnya, dia mencoba mengungkapkan rasa cinta yang berubah menjadi kegelapan dihatinya, dengan melukai orang yang telah merenggut kebahagiaan darinya.

Oke lah, sinetron itu settingan pak sutradara. Tapi kenyataannya Cinta itu memang identik dengan saling menyakiti, coba bayangkan, ketika ada sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara, mereka bergandeng tangan mesra di sepanjang jalan dan melontarkan kalimat sayang yang indah bak pasangan yang baru saja menikah padahal masih berseragam sekolah.

Dari situ, kamu tau nggak yang tersakiti itu siapa?

Yang ngelihat lah yang pasti tersakiti…. apalagi, yang ngelihat masih jomblo yang terlalu lama dalam kesendiriannya.

Yah pastilah dia tersakiti dan frustasi, “Anak bau kencur aja sudah bisa bermesaraan, GILIRANKU KAPAN?”.

Pun juga, Sepasang anak muda, yang baru saja jadian, juga sudah menyakiti orang lain.

Okelah, mereka jadian dan pasti mereka bahagia. Tapi mereka tak pernah tau, ada orang yang terluka karena mereka jadian. Orang lain yang sama-sama menyukai kedua orang itu, baik si wanita ataupun si pria, mereka sama-sama mempunyai orang lain yang juga menyukai diri mereka dan terpaksa terluka karena cinta mereka bersatu.

Begitupun dengan teman akrab yang jomblonya tidak ketulungan, jomblo ini juga akan merasa tersakiti melihat temannya jadian, karena dia tidak menemukan teman jomblo lagi yang mau di ajak malam mingguan bareng, nongkrong di cafe bareng dan ngopi di jalanan bareng.

Rasa kesepiannya bertambah gegara sahabatnya sudah mempunyai teman/pasangan yang bisa diajak mengisi weekend bersama. “Terus aku kudu Gimana? Tuhan, Giliran aku punya pacar kapan!!!!”.

Nah, dari beberapa contoh diatas, walau memang contohnya sedikit lebih ngawur dari biasanya, tapi itu sudah cukup membuktikan bahwa, Cinta itu tidak melulu tentang kebahagiaan, sebab ada rasa sakit yang terselubung dalam sebuah ikatan bernama cinta.

Baca juga : Kira-kira, Kau jodohku bukan?

Cinta Itu Indah, Tapi Kadang Penuh Luka

cinta-penuh-luka

Source image by Picture mania

Pernah nggak merasakan jatuh hati kepada seseorang yang kita suka?

Memikirkan bisa berbicara dengannya saja, itu sudah membuat kita bahagia, melihat senyumnya dari kejauhan, itu sudah cukup untuk menenangkan diri. Apalagi bisa berkencan dan jadian dengannya.

Tapi tak semua cinta yang tulus dari hati, berujung indah di pelabuhan hati sang pujaan. Terkadang cinta hanya sekedar bertepuk sebelah tangan.

Pun juga, indahnya cinta diawal jadian, tak seindah di muaranya. Seperti kata Raditya dika, bahwa perjalanan cinta itu seperti bajaj. Hanya Tuhan dan supirnya yang tau kapan bajaj akan belok. Begitu juga dengan pacaran, Hanya Tuhan dan pacar yang tau, kapan hubungan ini bisa berubah arah.

Dari hubungan yang tenang, menjadi banyak goncangan, dari hubungan yang bahagia berubah menjadi saling menyakiti dengan ego masing-masing. Cinta itu tak selalu indah, ketika Tuhan tak menghendaki cinta yang diridhoi-Nya, Ketika hubungan cinta itu sudah di endingnya, disitulah luka pasti ada.

Tapi, disetiap ada luka, disitulah ada penawarnya. Jadi, jangan khawatir tentang luka karena cinta, berpikirlah positif saja, agar luka itu bisa mendewasakan kita.

Baca juga : Obat penawar sakit hati yang jarang diketahui banyak orang

Cinta Itu Indah, Tapi Terkadang Terhalang Oleh Perubahan

cinta-itu-bukan-karena-perubahan

Source image by google

Setiap manusia pasti berubah. Mulai dari bentuk tubuh, bentuk wajah, suara, sifat bahkan karakter manusia.

Banyak pasangan pacaran yang mengakhiri hubungannya gegara sesuatu dalam hubungan tersebut ada perubahan. Perubahan dalam segala hal, baik yang masuk akal maupun yang tabu banget

Seperti perubahan pada wajah pacar sudah tak cantik kayak dulu lagi.

Hello, menurut loe, manusia harus selalu tampil cantik dan unyu kayak saat umur 17-an terus gitu ta?

Yah nggak mungkin banget lah, walau pakai make-up yang sedikit lebih mahal dari pada bedak viva no.15 atau march. Tetap saja, ada perubahan dikit pada bentuk wajah seiring bertambahnya umur dan banyaknya lemak yang dimakan.

Atau perubahan sifat, seperti sifat pemalu dan lugu menjadi dewasa dan berani.

Yah pastilah berubah, bukannya akan lebih enak kalau pasangan kita lebih dewasa!.

Tapi kan, lebih unyu saat masih lugu gitu, masih bisa di bodohi dan disuruh-suruh gitu? Itu mah, keinginanmu yang suka memperlakukan seenaknya.

Atau perubahan sikap, di awal pacaran, perhatiannya lebih maksimal, tapi sekarang sudah berbulan-bulan pacaran, kini mulai bosan dan jarang memperhatikan.

Perubahan seperti ini yang sering terjadi, dan kebanyakan berujung dengan berakhirnya cinta.

Kenapa harus berakhir?

Karena hubungan seperti ini sudah tidak bisa dilanjutkan lagi, disamping ada kebosanan, juga tidak ada hasrat untuk bisa membangun cinta bersama.

Atau mungkin dengan menciptakan jeda seperti yang selalu dibicarakan Arin, yang selalu membicarakan kerinduan yang membuatnya teduh dan jeda yang selalu berada ditengah-tengah, bukan karena berada dititik jengah, tapi untuk memberi waktu sejenak, tentang kebebasan dan kepercayaan. Biarkan rindu tumbuh di dalam jeda, lalu mencari di ujung lelah dan penat menuju bahagia.

Baca juga : Ketika dihadapkan sebuah persimpangan jalan!, memilih itu wajib

Cinta Itu Indah, Tapi Terselubung Oleh Kepalsuan

Cinta itu suci, cinta juga merupakan sifat Tuhan yang telah diturunkan dan diwariskan kepada manusia sebagai makhluk ciptaan-Nya yang paling sempurna.

Tapi, dizaman sekarang, cinta tak lebih sebuah kata indah yang penuh kepalsuan. Banyak ungkapan perasaan cinta hanya sekedar hasrat memiliki. Banyak orang mengaku cinta, hanya untuk sebuah status palsu atau status kekinian.

Katanya, jomblo itu tidak keren, mending pacaran walau dipaksakan, yang penting terlihat kekinian dan tidak sendirian. Padahal, jomblo juga tidak selalu kesepian.

Harusnya cinta itu murni, perasaan ingin menjaga, perasaan ingin menyanyangi, dan perasaan ingin mengerti pasangannya. Tapi, karena perasaan ingin menjaga itulah, kita harus rela membuat kepalsuan agar dia bahagia, tanpa harus mengerti apa yang membuat pasangan kita bahagia yang sebenarnya.

Seperti saat di tanya tentang penampilan (kegemukan), untuk menjaga agar dia tetap bahagia, kita rela berbohong dengan mengatakan hal baik tentang dia. Itu palsu banget.

Seandainya kita jujur didepannya dengan mengatakan yang sebenarnya tapi dengan cara dewasa. Seperti “Gemukan dikit sih, tapi tak apalah, justru aku suka, kamu kelihatan lebih seksi lagi”. Mungkin 10% pasangan kita, meluk kita karena terharu, 60% kecewa karena dibilang gemukan tapi tetep masih sayang, 29% marah dan cemberut kepada kita dan 1% kemungkinan terburuk lainnya. Wkwkwkw xD

Pernikahan adalah sebaik-baiknya Cinta suci yang telah melepas topeng kepalsuannya.

Baca juga : Enakan mana Single  bahagia atau Pacran penuh luka

Cinta Itu Indah, Tapi Kadang Membutakan

love-is-blind-images-18

Source image by weneedfun

Hal yang berlebihan itu pasti berdampak negatif, bahkan memakai suplement yang seharusnya baik untuk kesehatan, jika dikomsumsi secara berlebihan, juga tidak akan berefek baik pada kesehatan.

Begitupun dengan cinta, cinta yang berlebihan itu membutakan. Cinta itu semacam narkoba, jika sudah terinfeksi virus cinta, susah untuk ngilanginnya.

Sudah tau cinta itu seperti narkoba, jadi harus siap ketika kehilangan, kita seperti linglung tak berdaya. perlu rehabilitasi dan restart ulang biar bisa move on dari cinta lama.

Sudah tau cinta itu buta, udah tau tangan dan paha, masih diraba juga.

Sudah tau belum nikah, tapi berduaan tiap harinya, kalau sudah gelap mata, dan kejadian yang sangat diinginkan oleh hasrat, dan terjadi belum waktunya, barulah menyesal kemudian.

Cinta itu suci, hanya hati kita yang buta. Buta akan hasrat dan rasa penasaran yang tinggi, untuk segera dipenuhi.

Cinta Itu Indah, Ketika Kita Memahami Rasa Sakit Yang Sama

rasa-sakit-yang-sama

Source image by Google

Perlu waktu seumur hidup bersama dalam sebuah wadah untuk bisa memahami isi hati seseorang.

Selayaknya rasa sakit, kita tidak bisa mengatakan “memahami” jika kita tidak pernah merasakan rasa sakit yang sama.

Kita tak akan bisa memahami rasa sakit yang di alami teman ketika ayahnya telah meninggal dunia, karena kita tak pernah mengalami hal yang sama. Kita tak pernah tau betapa kesepiannya dia tumbuh dewasa tampa ada sosok ayah di sampingnya. Kita tidak akan pernah mengerti selama masih bisa menikmati hangatnya dekapan ayah.

Begitu juga dengan Cinta, cinta tak melulu hanya perihal bahagia. Tentang rasa ingin menjaga yang akhirnya menjurus ke arah mengekang, rasa begitu menyanyangi, hingga terlanjur mencemburui, rasa yang ingin mengerti dan memahami, tapi berujung kepo.

Bahagia itu sederhana, ketika kita bisa mengelak dari rasa tidak bahagia, disitulah kita bahagia.

Bahagia itu ketika kita bisa mengerti arti rasa  sakit yang sebenarnya, disitulah kita bisa meng-expresikan kebahagiaan yang sebenarnya.

Dan Kebahagiaan cinta itu ketika keduanya mengerti dan memahami arti rasa  sakit. Tanpa kepalsuan dan cinta yang membutakan, juga Berani tumbuh bersama dalam menghadapi perubahan dan rasa sakit yang akan terjadi di masa mendatang.

Karena cinta yang sebenarnya adalah tentang ketulusan dan keihlasan,  disanalah ada rasa Kasih dan Sayang yang mendamaikan. ^_^

Iklan

20 pemikiran pada “Mencintai Itu Harus Rela Tersakiti Agar Bisa Memahami Arti Cinta Yang Sebenarnya

  1. Aaaaak, sukak banget yg paragraf ada jeda2nya, d simpulkan jd ringkas.

    Disini definisi cintanya berbobot semua yak. Jam terbang nih hehe.

    Tp jeda itu emg perlu siih, kyk aku liatin oppa, dia liatin bola #tsah *abaikan wkwkw

    Suka

  2. Ping balik: Lebih Enak Mana Mencintai Atau Di Cintai? Menurutku Sih Lebih Enak Mencintai Dari Pada Dicintai | Pennadiri

  3. Ping balik: Jika Kamu Masih Jomblo!, Menurutmu, Tipe Jomblo Seperti Apa Sih Kamu? | Pennadiri

  4. Ping balik: Arti Cinta Sejati itu… | Pennadiri

  5. Ping balik: Mengapa Harus Takut Dengan Jatuh Cinta | Pennadiri

  6. Ping balik: Cinta Itu Butuh Pengorbanan | Pennadiri

Tinggalkan Sebuah komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s