Kangen Mereka Yang Telah Pergi


Dua hari terasa begitu berat, menghadapi tamu yang luar biasa parah “nyocotnya“, juga terpaksa harus kerja lembur yang biasanya aku selalu kabur saat diminta lembur.

Badan begitu terasa capek, apalagi perihal hati yang mungkin sudah lelah untuk bersabar dari omelan yang kadang tak kumengerti. Yah mungkin alasan itu sangat tepat untuk absen tidak blogwalking dan posting artikel maupun bikin draf di komputer.

Puncaknya, Tengah malam kemaren saat bikin puisi ala kadarnya “malam yang tak menyenangkan“. Yang seharusnya waktu istirahat yang aku gunakan sebaik-baiknya untuk rehat, ternyata rencana tak sesuai dengan kenyataannya. Aku begadang lagi…

Cuaca mendung tapi tak hujan, membuatku geram karena suhu yang lumayan panas kalau keadaan seperti ini. Kalau aku sih nggak begitu masalah tentang cuaca sepanas atau sedingin apapun, si kecil ini loh, yang kasihan harus kepanasan walau ada kipas angin yang menyala di sudut ruangan.

Walau mata mengantuk, aku kuatkan untuk mengendong si Nisa di depan rumah seakan menari di dingin malam, biar dia  tertidur dan tidak menangis lagi karena kegerahan.

Sekitar jam 10 malam, si nisa mulai aku taruh di tempat tidurnya, bersama istri yang masih kesakitan dengan giginya. Aku pun ke kamarku dan melihat naila sudah tertidur dengan sendirinya di temani guling kesanyangannya.

Aku coba baringkan tubuhku, dan mencoba untuk menutup mata. Entah kenapa mataku jadi tidak mengantuk sama sekali, mungkin tadi waktu gendong si Nisa, si setan banyak sekali yang meniupi mataku, jadi mataku mengantuk saat itu..

Sedangkan sekarang, justru si setan pergi menungguku di alam mimpi, tinggal aku sendiri tak bisa mengawali tidur untuk mengisi kembali tenaga yang sempat terkuras saat menari.

Akhirnya, aku mencoba melelahkan mataku dengan utak-atik Handphone, dengan melihat foto anak dan kenangan lainnya. Dan tepat pada video yang aku rekam sendiri, ada rasa kangen tersendiri melihat tingkah mereka. walau mereka terkadang menyebalkan dengan buang air kecil dan besar sembarangan, tapi aku menyukai mereka dengan apa adanya mereka.

Yah, candaan mereka itu loh yang kadang membuatku gemes sendiri, lompat sana lompat sini, lari kasana-kesini. Aku kangen dengan kalian. walau sekarang kalian telah pergi, entah kalian sudah rengkarnasi dan menjadi kucing lain atau si  Wisnu (kucinng berwarna kuning) yang sekarang sudah bahagia dengan majikan barunya.

Biarlah kenangan ini tersimpan di hati juga di memory yang mungkin hanya sementara menunggu kadaluarsa.

si-wisnu

Foto Si wisnu sebelum di adobsi orang lain

Iklan

7 pemikiran pada “Kangen Mereka Yang Telah Pergi

  1. semoga istrinya lekas sembuh. 🙂 kalau penat gitu suka heran ya pas kerja ngantuk, giliran kerjaan habis ngantuknya ilang, terus yang terpikir yang jauh- jauh. ahh..

    btw, disini banyak kucing mas, hehe.. tapi mungkin nggak bisa menggantikan yang telah pergi ya..

    Suka

  2. Ping balik: Kucing Dengan Mata Bercahaya | Pennadiri

Tinggalkan Sebuah komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s