Jatuh Cinta Itu Jatuh Untuk Tumbuh


Cinta itu seperti dedaunan di musim gugur, Jatuh untuk tumbuh

Cinta itu seperti dedaunan di musim gugur, Jatuh untuk tumbuh

Dua Minggu sudah aku posting sesuatu diluar tema yang aku suka, dari ngebahas cewek anime yang aku suka sejak zaman SMA, juga tentang robot istri virtual dari Jepang pengusir kesendirian.

Well, back to favorite topic “About Love

Cinta,  sepertinya ngebahas cinta itu tidak ada ujungnya, dibahas berulang kali dengan pribadi yang berbeda, ceritanya tak akan sama, ada rasa suka juga duka, kadang terasa manis kadang juga pahit. Yah, cinta itu seperti permen Nano nano, ramai rasanya.

Untuk ngebahas indahnya cinta itu hal biasa, ya ending dari perjalanan cinta memang untuk bahagia kan? tapi tahukah kamu tak semua perjalanan cinta itu indah, jadi jika ingin merasa kan cinta, bersiaplah merasakan pahitnya juga. Semua orang pasti akan bertahan saat berada di indahnya cinta, tapi jika pahitnya cinta? Mampukah kita bertahan?

Cinta itu butuh pengorbanan, dari ngabisin pulsa buat PDKT lewat Handphone, dari menguras lebih dalam isi dompet untuk sekedar ngajak jalan ke tempat wisata atau makan malam. Juga berkorban waktu istirahat untuk ngapelin sang pujaan.

Ya, cinta memang butuh pengorbanan walau terkadang hanya sebuah pengharapan yang berujung kekecewaan. Tapi gak apa, begitulah perjalanan cinta menuju pemilik hati yang sebenarnya. Perlu jatuh dan bangun untuk mencapai arti bahagia yang sebenarnya.

Cinta itu perlu di bangun, dari proses PDKT, berlanjut saling cinta, permulaan yang bahagia, kemudian drama yang sesungguhnya mulai terasa, dari rasa bosan karena kejenuhan, rasa saling curiga, ego yang tak mau kalah, hingga pertengkaran yang entah apa sebabnya. Itulah perjalanan hidup, tak selalu semulus wajah Pevita Pearce, kadang ada jerawat kemudian membekas, kadang juga benjol kebentur sengatnya lebah.

Baca juga : Bukan jatuh cinta, Tapi bangun cinta untuk bahagia

Membangun cinta itu seperti sebatang pohon, harus ada akar yang kuat untuk menopang Batang pohon agar tak jatuh dan mati. Perlu pondasi saling percaya untuk menguatkan ikatan cinta.

Perlu Batang yang kokoh agar bisa menjulang tinggi, rasa curiga dan cemburu pasti akan tetap ada karena pada dasarnya kita sebagai manusia adalah makhluk yang tidak ingin merasa di kecewakan. Harus ada saling memahami dan mengerti keberagaman dan perbedaan yang terjadi agar hubungan tetap kokoh.

Dan pohon yang besar butuh daun untuk tetap bisa hidup, Daun itu lah yang di perumpamakan cinta. Cinta yang membuat hubungan menjadi hidup. Daun rela berguguran ke tanah agar pohon tersebut bisa hidup dari kekeringan dan kurangnya pasokan makanan. Begitupun dengan cinta, cinta harus rela untuk berkorban untuk kelangsungan hubungan, saling melengkapi dan mencukupi untuk bisa bertahan dari naik turunnya kehidupan. Daun rela jatuh untuk tumbuh, agar pohon tetap hidup dan berbuah

Begitulah cinta yang sebenarnya, rela berkorban dengan segala upaya untuk bertahan dan tumbuh menjadi lebih baik dan indah.

Terima kasih Ibu, engkau telah merelakan dirimu di ambang kematian hanya untuk membiarkanku hidup. Engkau mencintaiku dengan apa adanya diriku, tak pernah kau lelah untuk membimbingku tumbuh menjadi seperti sekarang.

Dan terima kasih istriku, engkau telah mempertaruhkan nyawamu untuk ke-egoisanku akan buah cinta yang kita dambakan bersama. Engkau adalah harapanku untuk menumbuhkan kasih sayang dalam keluarga yang kita bina bersama.

Iklan

8 pemikiran pada “Jatuh Cinta Itu Jatuh Untuk Tumbuh

  1. Ping balik: Arti Cinta Sejati itu… | Pennadiri

Tinggalkan Sebuah komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s