Berkendara  Saat Hujan Mengingatkanku Tentang Banyak Hal


 

Hikmah hujan

Source image by Stocksnap.io

Malam ini hujan lagi.

Hujan yang katanya menghapus ingatan, justru kali ini, semua kenangan itu muncul disaat aku berkendara di hujan malam ini.

Hujan deras yang menguyur sejak aku berangkat dari rumah, dengan angin yang cukup kencang, mengakibatkan tetesan air hujan menghujam keras ke muka ku bak batu kerikil yang dilempar dan tepat jatuh di sekitaran bibi dan mulut. Cukup  kaku juga muka rasanya kena tetesan hujan saat sampai di kantor.

Banyak cerita yang aku ingat saat di jalanan tadi, kurang kerjaan banget sih sebenarnya, mengingat kenangan saat berkendara. Bukan sengaja juga aku mengingat kenangan itu, yah, tiba-tiba aja saat berkendara dan diterpa hujan deras, otakku langsung memutar video kenangan yang mungkin di picu oleh hujan malam ini.

Hujan Mengingatkanku Patah Hati Untuk Pertama Kalinya

Hujan Mengingatkanku Patah Hati Untuk Pertama Kalinya

Source image by Stocksnap.io

Di tengah perjalanan tadi, sempat aku flashback kebelakang (Yaiyalah.. masak Flashback ke depan, namanya pasti FlashFront kalau ingatnya kedepan :P). Aku mengingat kembali kenangan yang jauh sudah terlupakan. Tentang Patah hati terhebat dalam sejarah Cinta ku.

Seorang Irawan pernah patah hati loh, wkwkwkwkwk.

Biarpun kata orang, hatiku sekeras batu, sebenarnya hatiku itu selembut embun, terkoyak sedikitpun akan terluka. Kata siapa pendiam itu jarang sakit hati, justru typikal pendiam kayak aku itu lebih gampang sakit hati, bahkan suka dendam. Hahahaha.

Pertama kali aku patah hati, itu saat pertama kali di tolak oleh wanita. Udah sayang sayangnya, dan waktu itu aku yakin aku diterima, ternyata tidak, AKU DITOLAAK.

Itu kejadian luar biasa sekali, harusnya, di Indonesia mengadakan hari libur nasional tepat saat aku ditolak wanita itu. Karena itu kejadian langkah sekali. Jarang-jarang laki-laki pendiam yang baik hati kayak aku di tolak wanita, itu kan kasihan banget. Wkwkwkwk.

Setelah aku mengantar wanita tersebut ke tempat kosnya dengan perasaan terluka, pas perjalanan pulang, Hujan menguyur dengan derasnya. Aku lupa ngak bawa mantel juga.

Wah emang nih cuaca mendukung banget. Pengertian baget kalau aku lagi sedih seperti ini. Dari situ ada beberapa tetasan di sekitar mataku, entah itu dari air hujan yang menghujam ke mata hingga menjadikan ku perih sehingga keluar air mata atau emang air mata ku jatuh dengan sendirinya. Setidaknya air hujan menghapus sedikit luka di dada yang terpancar di kedua mata.

Baca juga : Memory kala hujan kemarin

Hujan Mengingatkanku Sebuah Kenangan Indah Juga

Hujan Mengingatkanku Sebuah Kenangan Indah Juga

Source image by Stocksnap.io

Kejadian ini sebelum aku menembak si wanita ini. Sewaktu itu pulang kerja gerimis sudah menguyur mulai dari kantor. Sebelumnya si wanita ini memang mau nebeng sama aku. Memang jalan pulang kita searah, walau lebih jauh rumahnya dari pada aku. Rencananya mau nebeng sampai di daerah Pandaan baru dia naik angkutan menuju ke rumahnya.

Kalau dari kantor memang harus oper dua kali angkutan, itupun lama kalau dari Kota Pasuruannya sendiri.  Dia udah terlanjur kemas-kemas mau mudik soalnya besoknya libur dua hari, kan lumayan bisa dihabiskan untuk keluarga. Kebetulan aku cuma ada satu setelan jas hujan.

Aku kan cowok gentleman tuh, aku kasihkan jas itu ke dia, dan aku rela tidak memakai jas itu karena aku cowok gentlemen, wkwkwkw (Padahal berharap banget dia simpati dengan kebaikan yang aku berikan). Lagian hujannya cuma gerimis doang, tak masalah kalau diterjang begitu saja. Kulit cowok kan setebal kulit buaya, hahahaha.

Ternyata pas di tengah perjalanan, hujan justru semakin deras. Tapi tetap saja aku terjang begitu saja. Sempat beberapa kali si wanita ini menanyakan keadaankau, katanya apa gak sebaiknya berteduh dahulu atau nunggu hujannya agak reda dulu. tapi aku tidak menghiraukannya.

Selang beberapa menit diterjang derasnya hujan, tubuhku mulai mengigil, terlihat jelas gemetaran di sekujur tubuhku. Mungkin dia melihat tubuhku mengigil, hingga akhirnya dia memelukku dari belakang, dan berbisik “semoga ini bisa menghangatkanmu, maaf atas kelancangan ini”.

Dari kata-kata itu saja…, tubuhku tetap menggigil. Ya iyalah, masak hanya dengan kata-kata begitu saja bisa membuat badanku menghangat. Tapi disaat itulah, jantungku seakan berhenti berdetak, kepalaku terasa cenut-cenut entah itu karena hujan yang sejak dari tadi menghujam atau dekapan hangat itu yang menjadikanku gagal fokus.

Karena hal tersebut, aku mulai menyukainya. Padahal tak pernah sekalipun aku melihat dia dibonceng siapapun orangnya, dia mendekatkan badannya, bahkan sama pacarnya sendiri waktu itu. Dia adalah wanita yang tak segampang itu memberikan kehangatan tubuhnya pada orang asing, apalagi bukan mahromnya. Karena aku tahu, dia tetap berpegang teguh dengan agamanya.

Dan pada akhirnya, Dia menerimaku sebagai suaminya dan memberikan kehangatan tersebut di setiap aku membutuhkan. 😀

Baca juga : Hujan-hujan gini, enaknya ngapain sih?

Hujan Mengingatkanku Akan Syukur Dan Doa Mustajabah

hujan-malam-hari

Source image by Stocksnap.io

Di tengah perjalan menuju kantor, masih dengan derasnya hujan disertai angin yang cukup kencang. Aku teringat kembali kata Ust. Yusuf Mansyur tentang hujan. Hujan itu berkah, jika kamu kehujanan di perjalanan, maka syukuri itu, kamu kehujanan berkah dari Rabb-mu.

Air merupakan nikmat Allah yang tidak ternilai harganya, bayangkan kalau tidak ada air, dikala kemarau, sumur-sumur mulai kekeringan. Air akan terlihat lebih berharga ketimbang jutaan pizza di mata.

Sama halnya dengan puasa, menjelang berbuka, yang pertama kali kita butuhkan adalah air untuk menghilangkan rasa dahaga, setelah itu bisa disambi dengan makanan manis seperti kurma atau es buah dan Nasi sepertinya bukan favorit untuk awal berbuka apalagi kalau kebanyakan makan juga membuat rasa ngantuk saat sholat terawih nantinya.

Hujan juga merupakan tempat berdoa yang mustajabah, begitu kata Ust. Yusuf mansyur di pengajian Wisata Hati di televisi dahulu.

Kenapa bisa hujan disebut tempat doa yang mustajabah?

Karena doa yang dipanjatkan disaat turunnya hikmah dan berkah berupa hujan, disitulah doa kita akan mustajabah, begitu selebihnya kata Ust. Yusuf Masyur. Nah, cara seperti ini sangat cocok bagi para Single saat diguyur hujan, Seraya berdoa, semoga didekatkan dengan jodohnya, Aamiin… ^_^

Baca juga : Perihal hujan malam yang menginspirasi

Hujan Juga Mengingatku Akan Ketakutan

Hujan Juga Mengingatku Akan Ketakutan akan Kematian

Hujan deras kali ini mengingatkanku dengan ketakutan akan kematian.

Siapa sih yang tidak takut mati..!

Iya, aku takut mati saat berkendara di hujan sederas itu. Membayangkan berita pagi kemarin yang memberitakan laki-laki yang meninggal setelah kejatuhan batang pohon disaat berkendara disaat hujan. Juga berita tentang kematian seorang wanita yang menghindari lubang jalanan sehingga di hantam oleh kendaraan besar di sampingnya.

Sungguh, hujan sederas itu mengingatkan kematian. Dengan buramnya pandanganku saat hujan, keadaan normal saja, mataku sudah tidak normal untuk digunakan di jalanan malam. Selalu aku buka kaca helm ku saat berkendara di malam hari, karena memang mataku memang masih buram gegara kebutaan waktu itu.

Pernah aku bercerita tentang keadaan di kota Pasuruan tentang Jeglongan sewu. Dengan hujan sederas itu, lubang di jalan akan tertutup oleh air yang mengenang. Hal tersebut juga cukup bahaya saat kendaraan melintasi dengan kecepatan yang kencang.

Bukannya aku tidak ingin mati, siapapun juga tidak akan tahu bagaimana dan kapan dia akan mati. Bukan kematiannya yang aku takutkan, tapi bagaimana kematian itu menghampiriku. Jelas aku belum siap untuk mati sekarang apalagi harus mati karena kecelakaan, naudzubillah.

Dosaku cukup besar untuk harus aku pertanggungjawabkan sekarang, Aku masih sering sekali tobat tomat, masih sering khilaf dan masih sering arogan dan menyakiti orang sekitar. Sungguh aku ingin meninggal dalam keadaan Khusnul khotimah. Amiin.

Di hujan seperti itu, aku terus mengingat bagaimana jika terjadi sesuatu, saat itu aku terus bersholawat sampai tiba di kantor. Aku mencoba bersholawat agar pikiranku tidak kemana-mana, hanya sholawat itu aku ucapkan dengan mengeraskannya dan menikmatinya.

Apalagi pas sholawat yang disyairkan oleh Abu Nawas Al I’tiraf (Sebuah Pengakuan) saya lantunkan. Ada rasa gundah dan menyesal yang menyelubungi hatiku. Hujan serasa menjadi cerminan atas dosa-dosa yang aku lakukan. Sungguh aku ingin menobati dosa itu.

Semoga dengan derasnya hujan ini, menjadikan kita semua teringat akan dosa-dosa kita, dan semoga kita digolongkan dengan orang-orang yang bertaubat di hari pembalasan nanti. Aamiin…

Baca juga : Bertaubat, perubahan yang lebih baik itu perlu

****

Ternyata banyak juga yang bisa aku tulis tentang dilema saat hujan barusan, semoga aku dan para pembaca se-iman mendapat hikmah dan berkah dari nikmat hujan yang telah diturunkan-Nya.  Aamiin.

Ainur Irawan di derasnya hujan 

Iklan

17 pemikiran pada “Berkendara  Saat Hujan Mengingatkanku Tentang Banyak Hal

  1. Ping balik: Calon Gadis Pecinta Hujan | Pennadiri

  2. Ping balik: Dalam Menunggu, Sabar Saja Tidak Cukup… | Pennadiri

Tinggalkan Sebuah komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s