Renungan: Jangan Merasa Benar, Lihatlah Dirimu Dulu


Renungan: Jangan Merasa Benar, Lihatlah Dirimu DuluHai Readers, kayaknya sudah lama tidak membuat artikel disini. Tiga hari itu berasa lama loh, hahahaha

Tiga hari menghabiskan liburan dengan mengunjungi rumah saudara dan juga untuk menyenangkan sang buah hati dengan mengajak ke tempat rekreasi murah. memang tidak jauh dari rumah, tapi alasan seperti itu bisa digunakan untuk menjawab pertanyaan “kemana saja tidak posting atau blogwalking selang tiga hari ini”.

Sebenarnya untuk blogwalking, aku masih melakukannya di sela-sela waktu sebelum tidur, tapi untuk menulis, sepertinya waktu liburan akan lebih cocok untuk dinikmati dengan bermain dengan anak ataupun bermesraan dengan istri *eh, hihihihihi.

Oke, kembali ke topik

Topik kali ini, aku buat untuk menyentil diri sendiri yang beberapa kali lalai dalam melaksanakan misi.

Emang misinya apa?

Misinya simpel, menjadi manusia yang sebenar-benarnya manusia.

Emang sekarang bukan manusia yah?

Bukan! Aku ini elien kayak Do min joon, hahahaha

Ya manusia lah!!!

Yang aku maksud sebenar-benarnya manusia adalah kodrat kita sebagai manusia. Manusia yang merupakan tempatnya salah dan lupa.

Akeh kang apal Qur’an Haditse, Seneng ngafirke marang liyane, Kafire dewe gag digatekke”. Penggalan syi’ir indah dari Gus Dur ini, artinya sangat menonjok ke dalam relung hati. Fenomena seperti ini sudah banyak  bertaburan di dunia ini. Banyak para ulama yang sudah hafal Alqur’an, Syariatnya sudah tinggi, tapi masih mengkafirkan orang lain.

Banyak diantara kita yang mengagungkan kumpulan jama’ah kita sendiri. Bahwa jama’ah yang kita ikuti adalah yang benar, jama’ah yang lain masih jauh dari benar.

Semua itu atas dasar apa? Benar atas dasar manusia! Bukannya manusia itu tempatnya salah dan lupa, terus bagaimana dia bisa membenarkan, kalau dia sendiri aja masih belum tentu kebenaranya.

Beberapa hari yang lalu, Sempat aku mengalami kejadian seperti itu. Menjadi manusia setengah dewa, manusia yang membenarkan dirinya sendiri dan menganggap apa yang dilakukan orang lain tak lebih benar dari apa yang aku lakukan.

Songgong sekali kan! Wkwkwkw, Sombong aja di gede’in, tapi kenyataannya jauh tak lebih baik. Yah begintulah aku! #Nyesek

Baca juga : Keburukan Orang lain adalah ceerminan diri

Kejadian itu berawal dari Sholat Jum’at, setelah usai sholat jum’at, aku menyempatkan diri untuk sholat sunnah Ba’diah. Nah, sewaktu itu, didepanku juga ada orang yang sholat sunnah. Disaat aku berdiri, tanpa sengaja aku melihat orang didepanku sholat dengan kecepatan tinggi.

Tanpa sadar, pikiranku mulai menerka-nerka “Ini orang, lagi sholat apa breakdance, kok cepet amet gerakannya, baru rukuk, dua detik langsung i’tidal, dua detik lagi sujud, dua detik lagi bangun diantara dua sujud dan seterusnya”. Bisa dibayangin gimana cepatnya orang ini sholat.

Emang sih, baca’an disetiap ruku’, i’tidal dan sujud itu sunnah, tapi bagaimana dengan tumakninahnya. Secara Syariat, apa yang aku lakukan jauh lebih benar ketimbang yang dilakukan oleh orang tersebut, tapi berangan-angan saat sedang Sholat? Apa itu juga dibenarkan. Terlebih lagi menganggap dirinya lebih benar dari orang lain, menghakimi orang lain bersalah selayak Tuhan.

Baca juga : Menyalahkan itu mudah, Semudah mengayunkan tangan

Astaghfirullah…!!! Hamba penuh dosa Ya Allah, Ampuni segala dosa hamba ini..

Maha Benar Allah dengan dunia dan segala isinya. Tidak semua apa yang kita anggap benar itu “benar” adanya. Hanya Allahlah Sang Pemilik Kebenaran.

Kembali merujuk ke Syi’ir Gus Dur “Kafire dewe gag digatekke”. Syi’iran itu bener-bener menonjok hatiku. Sudah merasa benar saja, sudah menyalahkan, padahal itu masih dalam tahap “merasa” bukan yang nyatanya “benar”. Karena pada dasarnya, manusia tidak akan tahu, mana ibadah yang diterima dan mana yang tidak.

Orang yang tidak mengecap pendidikan agama dari sejak kecil, belum tentu mereka akan jadi penduduk neraka kelak. Karena, siapa tau, orang yang sudah terbiasa dengan judi, minum-minuman dan hal-hal yang dilarang oleh agama, pada nantinya, mereka menobati semua perbuatannya di ujung akhir usianya melebihi tobat orang yang sudah mempuni dalam ilmu agamanya.

Bahkan seoarang ustad maupun orang yang sudah Haji berkali-kali, juga tidak menjamin akan masuk surga dengan tanpa hisap. Bisa jadi, karena perbuatan mengentengkan “ibadah” orang lain, bisa berujung di neraka. Naudzubillah.

Baca juga : Mengapa orang cenderung melihat keburukan orang lain dari pada kebaikannya

Sungguh sombongnya diri ini!. Allah lah yang Maha tahu atas semua perbuatan kita. Baik buruknya perbuatan manusia, tak selayaknya manusia lain ikut menghakimi perbuatan sesama manusia.

Artikel ini aku buat bukan untuk maksud apa-apa, hanya sebagai pengingat diri agar tidak sombong. Kebenaran Hanya milik Allah Subhanahu Wata’ala. Dan kita sebagai manusia, tempatnya salah dan lupa. Wallahualam.

Semoga Bermanfaat.

Iklan

7 pemikiran pada “Renungan: Jangan Merasa Benar, Lihatlah Dirimu Dulu

  1. Sepertinya memang sudah jadi biasa membedah keburukan sebelah, itupun terjadi sama saya di gosipin nggak ada titiknya, tersinggung dah jelas sakit hati iya tapi biarkan saja mereka selama tidak menyinggung dompet saya

    Suka

  2. Terimakasih mas telah mengingatkan, memang sebagai manusia seringkali kita merasa lebih baik dan lebih benar dibanding orang lain. Dengan adanya tulisan seperti ini kita jadi diingatkan..

    Suka

Tinggalkan Sebuah komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s