Galau Itu Indah Pada Waktunya


#30Hari_Menulis_Di_Bulan_April
Hari ke-12 => Tema Kegalauan : Ceritakan Tentang Hari Tergalau Dalam Hidupmu.

30 hari menulis Hari ke 12 : Tema Kegalauan #AprilChallenge

Hari ke 12 : Tema Kegalauan

Hai…

Kemarin temanya cukup sulit, sekarangpun sama. Tema sekarang tentang hari tergalau.

Kalau di ingat-ingat, Kayaknya gak pernah deh aku galau, Galau hanya untuk orang yang sedang jatuh cinta. Hahaha. Tapi nggak juga sih, milih baju gamis A dan gamis B dengan kualitas yang cukup bagus dan sama-sama lagi diskon juga bikin galau, apalagi uang cukup mepet buat hidup 2 minggu kedepan.

Nah, jadi galau juga bukan perihal cinta-cintaan saja, dan Galau juga bukan hanya di alami oleh para single nan jomblo yang belum menemukan gandengannya. Bisa jadi galau perihal memilih sesuatu yang sulit untuk diputuskan. Seperti kasusnya Mbak Ida, tentang Sepatu dan Pak Tentara. Walaupun pasti Mbak ida nya juga pasti akan milih Pak tentara yang bisa membelikan sepatu-sepatu yang lainnya juga. Hahah 😀

Tapi seorang Irawan juga pernah Galau semasa Hidupnya loh?

Aku kan juga manusia yang terlalu biasa, aku juga pernah jatuh cinta, sakit hati, Galau, pengen bunuh diri, eh nggak ding, gak ada rasa ingin bunuh diri, aku terlalu mencintai kehidupanku, dan rasanya Bodoh kalau harus mengakhiri kehidupan dengan bunuh diri, walau seberat apapun masalahnya. Karena aku yakin, disetiap ada masalah, pasti ada sebab dan akibat, juga akan ada titik terang dari masalah tersebut. Yang kita butuhkan hanya sabar dan terus berjalan, dan yakin titik terang akan datang di ujung jalan.

Malam Penuh Bintang Kegalauan

Kalau kata ZigasSahabat bisa jadi Cinta”. Yah begitulah lika-liku kehidupan.

Dulu tuh, tak pernah terpecik rasa suka kepada salah satu teman yang aku kenal, Aku sudah menyakinkan bahwa hubungan kita hanya sebatas adik dan kakak. Bahkan, saking akrabnya, aku selalu membuly dia dan sering juga mengoda dia selayak kakak yang mengoda adiknya.

Tapi, sewaktu berada di bumi perkemahan, aku baru menyadari ada rasa aneh ketika orang yang aku anggap Adik ini bercerita tentang seorang laki-laki yang sedang mendekatinya. Itu adalah pertama kali aku cemburu dengan seseorang.

Malam harinya, disaat semua orang menikmati nyanyian dan api unggun. Yang aku rasakan hanya kegalauan bintang di langit sana. Aku menatap bintang-bintang itu dengan perasaan dihati yang tidak karuhan, bahkan aku tidak bisa tidur hingga pagi hari. Dalam hati aku berkata “inikah yang dinamakan galau?”. Aku rasa bukan, soalnya saat dulu belum ada istilah Galau, wkwkwkw

Paginya, Setelah sholat shubuh, aku berpamitan untuk jalan-jalan. Sebenarnya si cewek yang aku anggap adik ini, ingin ikut jalan-jalan. Tapi aku menolaknya, dengan alasan aku ingin lari pagi sendiri, terlihat rasa kecewa di wajahnya, tapi aku tidak memperdulikan itu.

Aku hanya ingin menenangkan diri di sebuah tebing dengan dinginnya aliran sungai ditempat itu. Aku ingin meyakinkan apa yang aku rasa, hanya perasaan takut kehilangan saat dia dekat dengan pria lain. Bukan semacam cinta atau apalah itu namanya.

Liburan ke Kabut Kegalauan di Jogja

Sekitar tahun 2010 sebelum merapi meletus, aku pernah liburan ke Jogja. Waktu itu keadaan Merapi masih Siaga, Dan Mbah Marijan masih “Ruso”. Terlihat dari banyaknya kabut asap merapi yang bertebaran di jogja.

Liburan yang tidak begitu menyenangkan, Ke candi borobudur saja, hanya diperbolehkan sampai tingkat pertama saja. Pergi ke kraton, debu merapi bertebaran dimana-mana. Dan yang paling penting, Hatiku juga hancur disana. Hahahaha.

Itu adalah kali pertama aku galau seribu bahasa, Mau belanja ke Malioboro, malah bisnya kemalaman nyampe sana. Ke Borobudur hanya sampai di tingkat pertama, dan nyoba menyatakan cinta ke seorang kenalan di depan kolam renang hotel tempat kami menginap, akhirnya di tolak juga.

Baca juga : Point penting agar tidak di tolak saat menyatakan cinta ke cewek

Ah, emang Dijogja tuh bikin galau. Udah gak bisa nikmatin pemandangan, hati juga dibuat patah untuk pertama kalinya. Ya udah deh, gitu aja, Gelap soalnya. wkwkwkw

Study Tour Ke bali, Menyisakan Isak Tangis

Sekitar tahun 2014, Istri ada event dari tempat kuliahnya untuk pergi Study tour selama 3 hari di Bali. Waktu itu anak baru genap satu tahun umurnya. Dan itu pertama kali anakku ditinggal beberapa hari oleh Ibunya.

Kebayang bagaimana perasaan anakku saat itu, aku sendiri saja melihat sikapnya selang ditinggal Ibunya beberapa hari, wajahnya terlihat sayu dan kurang bersemangat, Tak tega rasanya.

Hingga di hari terakhir Ibunya akan pulang besok dini hari, sekitar jam 2 pagi. Si Naila ini tidak bisa tidur hingga larut malam. Aku kasihkan Handphoneku dan aku perlihatkan videonya sendiri di sebuah wahana permainan. Terlihat mamanya juga ikut ter-shoot di video. Dan dengan suara sayunya dia mengatakan “Itu mama!”.

Hmmm, seketika itu, rasanya hancur hatiku mendengar suara anak ku itu. Begitu lembut yang mengambarkan rasa kangen yang mendalam. Tanpa terasa, aku meneteskan mata dan memeluk erat anakku tersebut.

Tugas Keluar Kota, Separuh Hati Tertinggal Dirumah

Senja di jendela kereta api yang memilukan hati

Senja di kereta

Kejadian ini pernah aku ceritakan di kereta kala senja. Saat langit berwarna jingga melambangkan keindahan dan kesunyian saat memandang.

Saat itu aku baru ditugaskan untuk training ke anak cabang perusahaan di Indramayu. Statusku sebagai yang mengajari karyawan disana.

Itu adalah pertama kali aku aku pergi keluar kota sampai dua minggu. Sejak awal ditugaskan, aku sudah memberontak perihal itu, aku mencoba bernegosiasi supaya bukan aku yang dikirim kesana. Sempat berpikiran juga untuk kabur saat hari keberangkatan, tapi aku urungkan. Mungkin memang sudah waktunya aku harus bertanggung jawab atas diri sendiri.

Di stasiun pun, tak henti-hentinya melihat WhatsApp di androidku, aku mencoba chat dengan istri beberapa kali hanya untuk memastikan aku akan baik-baik saja disana, aku juga berharap agar keluargaku baik-baik saja saat aku tinggalkan selama dua minggu tersebut.

Hari keberangkatan adalah hari tergalau semasa hidupku. Dipikiranku ada berbagai strategi untuk membatalkan tugas, tapi disisi lain, aku mencoba menenangkan diri dan mencoba untuk pasrah dengan kehendak-Nya. Dan pada akhirnya aku berangkat juga.

Didalam kereta, beberapa kali aku melihat anak kecil yang lalu lalang dengan kakaknya, jelas dia mungkin seumuran dengan anakku waktu itu. Kembali teringat bagaimana keadaan anakku saat aku tinggal dua minggu itu. Pasti dia sangat kangen dengan aku.

Dan kala senja itu, aku menatap sayu di pinggir jendela kereta. Hatiku bimbang, bagaimana cara menetralkan rindu selama dua minggu tidak bertemu. Bagaimana menstabilkan pikiran kalau tawa anak adalah obat penenang.

Syukur waktu itu ada Line, jadi kangen selama dua minggu sedikit terobati dengan video call dengan keluarga.

******

Ya begitulah hari tergalau yang pernah aku lalui. Kadang patah hati dan sakit hati itu perlu, galau pun juga nggak masalah, biar kita bisa jadi manusia seutuhnya ketika kita bisa mengatasi rasa tersebut.

12 April 2017 ~ Ainur Irawan

Iklan

17 pemikiran pada “Galau Itu Indah Pada Waktunya

  1. Ping balik: Bahagia Itu Sesederhana Melihat Senyumanmu | Pennadiri

  2. Ping balik: Tentang Persinggahan Sementara | Pennadiri

  3. Ping balik: Super Hero Favoritmu Apa? | Pennadiri

  4. Ping balik: Insomnia dan Cara Instan Untuk Menyembuhkannya Dengan Alami Dan Anti Mainstream | Pennadiri

  5. Ping balik: Rencana 30 Hari Menulis Di Bulan April | Pennadiri

Tinggalkan Sebuah komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s