Kehilanganmu Adalah Hal Yang Belum Terpikirkan Olehku


30 hari menulis di bulan April - Hari ke 15 : Tema Kesedihan

Hari ke 15 : Tema Kesedihan

#30Hari_Menulis_Di_Bulan_April
Hari ke-15 => Tema Kesedihan : Ceritakan Hal Yang Membuat Kamu Bersedih

Kadang Nangis itu bisa nyembuhin rasa kesal, marah, benci, galau, dan sedih

Hai..

Semakin kesini, semakin kacau deh artikel yang aku buat. Tema kali ini tentang kesedihan yang pernah aku rasakan. Perihak kesedihan, berarti soal tangis menangis.

Seorang irawan juga pernah menangis loh!, karena aku menyadari bahwa aku tidak terlahir dari batu, biarpun banyak orang yang mengatakan aku kepala batu, ada juga yang mengatakan hati membeku kayak batu, tapi percayalah, aku pun sama normalnya kayak kamu, pernah menangis tersedu-sedu.

Kalau ada orang yang bilang tak pernah nangis dalam hidupnya. Beri tau aku siapa orangnya? Biar aku tabok mulutnya itu. Emang dikira sewaktu kecil waktu pertama keluar dari rahim ibunya dia tertawa apa! Atau mungkin, dia merupakan keturunan yang dikatakan oleh Darwin tentang manusia purba. :D. Kalau aku sih keturunan Adam, terlihat jelas dari kulitku yang terkadang keluar Bolotnya (bahasa indonesianya apa yak “Bolot” itu), menandakan nenek moyangku tercipta dari tanah.

Ok, Kembali ke topic.

Ada beberapa waktu yang pernah membuatku sangat bersedih, bahkan sampai meneteskan air mata. Eaaa… 😛

Yuk simak ceritanya .. 😀

Saat Anak Sedang Sakit

Aku kehilangan uang 300rb beserta dompetnya aja gak harus nangis gulung-gulung. Begitupun saat putus dengan pacar, tak sekalipun aku menangisi hal tersebut, karena memang aku tak pernah punya pacar, wkwkwkw.

Tapi, ketika melihat anak lemes dan muntah-muntah, terlihat pandangannya yang begitu sayu dan pasrah saat aku gendong. Bukan hanya air mataku yang menetes, bahkan sempat aku mewek pada saat itu.

Naila opname saat umur 11 bulan

Naila opname saat umur 11 bulan

Ada hal yang lebih menyakiti diri sendiri saat melihat anak sakit, Rasa tak tega dan sebagainya. Ingin rasanya mengantikan tempatnya dan menanggung rasa sakit yang di deritanya.

Namun hal tersebut tak akan mungkin bisa terwujud, menangis adalah salah satu cara untuk meredam rasa kasihan dan cara termudah untuk mendoakan kesembuhan sang anak.

Sehatlah selalu, Nak..! Mungkin kata tersebut yang selalu aku panjatkan disetiap doaku. Tak ada hal yang lebih menyakitkan hati, selain melihat kalian terkapar sakit tak berdaya dan aku tak punya banyak hal untuk mengupayakan rasa sakit yang kalian derita.

Istri Melahirkan

Wanita berada di ambang hidup dan mati saat melahirkan sang buah hati.

Begitulah yang aku rasakan saat detik-detik menanti sang buah hati lahir, jeritan demi jeritan terdengar di telinga dengan menahan rasa tak tega, aku terus memanjatkan istighfar agar diberi kemudahan saat proses persalinan berlangsung.

Remasan demi remasan aku rasakan dari tangan istri tatkala harus berjuang mengeluarkan buah cinta kita berdua.

Pikiranku serasa melayang mendengar jeritan istri yang tak karuhan tersebut. Berkali-kali aku membayangan tentang sebuah kematian, tapi berulang kali juga aku segera menghapus dan melupakan pikiran konyol seperti itu. Aku coba istigfar dengan segala cara yang aku bisa, sampai tak terasa aku meneteskan air mata yang berusaha aku tahan.

Setelah bayi kita terlahir, barulah aku menangis dengan sejadi-jadinya dan mencium tangan istriku yang sudah kehabisan tenaga. Antara sedih dan bahagia, begitulah makna dari tangisan yang aku lakukan. Dengan tangisan yang belum berhenti, aku melakukan Sujud syukur untuk mensyukuri nikmat yang telah di berikan kepadaku, berupa keselamatan istri dan bayi yang di kandungnya.

Kehilangan Seorang Sahabat

Terus terang, Aku masih belum pernah kehilangan seseorang dari keluarga besarku. Dan aku pun tidak berharap hal tersebut terjadi. Walaupun aku sadar, kematian tetap akan menghampiri aku maupun keluarga besarku.

Dibilang begitupun, Sebenarnya dari kecil sampai sekarang, dari keluarga besarku, aku pernah kehilangan Sepupu sebanyak 3 orang, paman satu orang dan nenek seorang. Tapi kesedihanku tak begitu terpancar sampai meneteskan air mata.

Berbeda saat kehilangan teman akrab yang selalu membantu dan menghiasi hari-hari di waktu SMA dan di Basecamp tempat kita bercanda gurau dulu. Aku sangat merasa kehilangan saat di meninggal.

Dia adalah sahabat yang pernah aku miliki, dia baik hati, pintar, bijaksana, dan setia kawan. Mungkin memang sudah takdirnya meninggalkan dunia ini terlebih dahulu.

Sesaat aku mendengar berita tentang kematiannya, jantungku seakan berhenti berdetak juga. Rasa kaget itu mempengaruhi nafsu makanku saat itu, hingga aku malas makan sewaktu istirahat kerja. Beberapa kali aku mengingat kenangan manis dengan dia, saat menginap bersama di basecamp. Dia juga teman taruhan saat menhadapi ujian tryout di kelas tiga, walaupun aku tahu hasilnya aku selalu kalah, tapi aku senang mempunyai saingan sekaligus sahabat dalam berbagi.

Didepan pemakamannya, baru kali ini aku membacakan surat Yasiin hingga meneteskan air mata. Bahkan air mataku tidak berhenti sampai doa mengakhiri ziarah ke makamnya.

Yah, itu kehilangan yang terberat menurutku, walaupun dia bukan anggota keluargaku. Tapi, dia sudah berada dalam hatiku sejak 3 tahun bersama di SMA.

Saat Mengalami Kebutaan

Pernah aku cerita tentang Kebutaan yang aku alami di artikel yang lalu. Sebuah pengalaman yang sangat berharga dan aku juga memutuskan untuk tidak mengulangi pengalaman yang sama, wkwkwk 🙂

Yah, aku pernah buta selama kurang lebih 5 bulan lamanya.

Merasakan tak bisa melihat apapun, yang terlihat hanya warna hitam pekat dimataku. Begitu memilukan bagi yang melihat, apalagi aku yang masih cukup muda saat itu harus mengalami kebutaan yang bahkan dokter specialis mata sendiri angkat tangan dengan penyakit yang aku derita.

Mata yang terlihat sama seperti orang pada normalnya dan tidak ada kelainan lain selain kegelapan yang menutupi pandanganku.

Sungguh aku berpasrah saat itu, jika memang itu takdirku, maka akan aku jalani seutuhnya dengan atau tanpa penglihatan sekalipun. Tapi, ada hal yang membuatku sangat sedih kala itu, bukan karena penyakitku atau aku yang tak bisa melihat ini.

Yang pertama adalah anakku. Bagaimana aku tidak merasa sedih, anak yang baru berumur 6 bulan dan masih lucu-lucunya dengan tawa polosnya dan baru bisa memanggil ayah. Betapa sedihnya saat aku tidak bisa melihat tawanya itu. Bahkan pernah saat buta, aku tak sengaja tersandung anakku yang sedang belajar merangkak. Hatiku terasa sakit saat mendengar tangisnya gegara ulahku itu.

Yang kedua tentu istriku. Disetiap ketegarannya dan candanya untuk menghiburku saat menyuapi aku. Bayangkan aja, untuk makan sendiri aja aku tidak bisa, walaupun kadang mencoba makan sendiri, tapi hanya sebatas lauk yang mudah dimakan.

Disetiap malam, dia bangun di samping kasur yang aku tiduri. Dia bertahajud dan berdoa. Aku mendengar isak tangisnya. Aku juga mendengar tangisnya saat aku pura-pura tidur. Dia bekerja sendiri menghidupi keluarga besarku sendiri. Saat itu aku merasa sangat bersalah dan sangat bersedih, aku yang harusnya mengayominya, kini aku menjadi beban hidupnya. Kembali aku menangisi tentang hal tersebut.

Yang ketiga adalah orang tuaku. Orang yang selalu menangisi keadaanku tentu kedua orang tuaku. Bahkan bapakku sangat shok berat saat dokter dengan penerawangannya menghakimiku dengan kangker otak. Tidak hanya bapak, kakakku yang mengantarku ke rumah sakit kala itu juga ikutan syok dan menangis di pinggirku.

Tapi tetap aku mengisyaratkan tentang hal baik kepada mereka berdua, bahwa itu hanya penerawangan manusia biasa dengan batasannya. Hal itu hanya dugaan seorang dokter yang sudah terbiasa melebih-lebihkan suatu penyakit yang ada. Buktinya, saat di MRI, tak ada gejala apapun di kepala, dan dengan Data MRI itu, membuat dokter tersebut semakin terheran-heran dengan penyakit yang ada.

Sama halnya dengan istri, kedua orang tuaku juga selalu menangis di setiap doa yang dia panjatkan sesudah sholat. Apalagi saat aku mencoba mengajak bercanda anakku yang aku kira didepanku, ternyata anakku berada di sampingku. Betapa pilunya orang tuaku melihat kejadian itu. Aku tahu mereka pasti menangis dalam hati melihat keadaanku seperti itu.

Sungguh begitu Agung kebesaran-Mu Ya Allah. Engkaulah sang Maha Penyembuh dan Kepada-Mu lah, semua ujian ini aku pasrakan.

Yah, itu pelajaran yang sangat berharga yang pernah aku rasakan. Dan alhamdulillah, sudah 3 tahun aku kembali bisa merasakan nikmat melihat dunia yang Engkau Ciptakan ini. Alhamdulillah

****

Yah begitulah kisah sedih di hari sabtu kali ini, Bagaimana dengan kalian?. Pernakah kalian merasa sangat sedih hingga meneteskan air mata dalam suatu kejadian? Tapi bukan tentang putus cinta yah? Atau tentang ditinggal pacar kawin dengan orang lain? Itu bukan sedih, tapi kasihan, wkwkwkw! 😛

15 April 2017 ~ Ainur Irawan

Iklan

Satu pemikiran pada “Kehilanganmu Adalah Hal Yang Belum Terpikirkan Olehku

  1. Ping balik: Rencana 30 Hari Menulis Di Bulan April | Pennadiri

Tinggalkan Sebuah komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s