Bahagia Itu Sesederhana Melihat Senyumanmu


menulis di bulan april - Hari ke-16 Tema melangkah bahagia

Hari ke-16 Tema Bahagia

#30Hari_Menulis_Di_Bulan_April
Hari ke-16 => Tema Kebahagiaan : Ceritakan Tentang Hari Paling Bahagia Dalam Hidupmu

Hai..
Sudah memasuki hari ke-16 di bulan April.  Tidak terasa ternyata sudah setengah bulan lebih, dan selama itu, aku masih bisa konsisten untuk bisa mempublish satu artikel setiap hari. Alhamdulillah.

Oke kali ini bertema perihal hari bahagia yang pernah aku alami. Hmmmm, kayaknya tiap hari aku merasa bahagia deh. Kan rasanya aneh kalau hari-hari cuma dilalui dengan perasaan murung. Kehidupan dunia ini terlalu singkat kalau hanya di jalani dengan kegalauan, wkwkwkwk.

Saat Melangkah Menjadi Dewasa

Sewaktu masih anak-anak, kehidupan sehari-hari disibukkan dengan pelajaran buku sekolah. Cukup menyenangkan sih, selain mendapat ilmu, juga mendapat banyak relasi atau teman di sekolah.

Tapi, yang namanya sekolah, pasti butuh duit. Nah, aku merasa kasihan melihat orang tuaku banting tulang untuk memenuhi kebutuhan pendidikanku. Rasanya ingin sekali aku cepat-cepat lulus sekolah dan bisa bekerja untuk mengantikan tugas orang tua ku. Mungkin alasan itu pula, aku mengurungkan niatku untuk melanjutkan ke perguruan tinggi.

Menjadi dewasa!.

Bagiku , lulus sekolah bisa dikatakan sudah mendekati kedewasaan secara umur. Dengan lulus sekolah, berarti aku bisa mencari sebuah pekerjaan yang layak, minimal aku bisa menghidupi diri sendiri, untung-untung bisa mengayomi keluarga.

Jadi ketika lulus sekolah, ada rasa sedih dan bahagia menghiasi wisuda. Sedih ketika harus berpisah dengan sahabat waktu SMA, juga sedih ketika sifat kekanak-kanakan harus aku tinggalkan demi menuju kedewasaan.

Senangnya, tentu dengan lulus sekolah, aku bisa mempunyai KTP. Setidaknya aku diakui sebagai warga Indonesia ketika sudah mempunyai identitas seperti itu. Juga dengan mempunyai KTP, aku sudah bisa mencari pekerjaan dan mencari pasangan hidup yang halal tentunya. Soalnya Nikah juga bukan soal Cinta doang, Butuh KTP juga untuk mengurusi ke sah-an dimata Negara.

Terus kamu kapan? Udah punya KTP kan? 😛

Baca juga : Apa arti kedewasaan yang sebenarnya

Saat Menerima Gaji Pertama

Saat sudah lulus sekolah dan sudah mengurusi KTP jauh sebelum wisuda. Aku berusaha secepat mungkin untuk mencari sebuah pekerjaan yang layak.

Buatlah aku beberapa lamaran dan aku taruh ke perusahaan yang menarik bagiku. Dan Alhamdulillah, tak ada panggilan kerja sama sekali selama setengah tahun itu. Sempat putus asa sih, masalahnya dana yang sudah aku siapkan untuk membuat lamaran-lamaran juga sudah tak ada.

Akhirnya, aku iseng berkelana ke Kota Surabaya, mengemis pekerjaan ke tempat magang sewaktu SMK. Dan alhamdulillah diterima sebagai teknisi komputer disebuah toko di Hi-tech Mall. Dengan dana seadanya, aku memyewa tempat kos-kosan di dekat-dekat situ, uang saku ku hanya menyisahkan 100ribu untuk biaya hidup selama sebulan.

Bayangkan deh, uang 100rb untuk biaya makan selama sebulan di kota sebesar Surabaya yang notaben-nya biaya penghidupan disana lumayan besar ketimbang di kotaku.

Jadi untuk menghemat biaya, aku belajar untuk puasa setiap hari. Aku hanya menghabiskan makan 8rb perhari yang aku belanjakan untuk berbuka dan sahur.

Dan betapa senangnya aku merasakan gaji pertamaku yang hanya 600rb kala itu. Walau aku hanya menerima 400rb saja dikarenakan aku hutang ke bos sebelum gajian. Wkwkwkw. Sayangnya, gaji pertamaku, tidak bisa aku kasihkan ke orang tuaku, baru di bulan ketiga aku menyempatkan untuk pulang dan memberikan uang 100rb hasil keringatku kepada orang tuaku.

Bukan besar nilai uangnya sih yang membuat aku bangga, karena aku tau, 100rb itu tak sebanding uang yang diberikan orang tuaku untuk modal berkelana ke Surabaya. Tapi melihat senyum orang tuaku saat aku memberikan sedikit hasil dari jerih payahku. Disitulah aku bahagia.

Hari Pernikahan

Pernikahan adalah moment paling membahagiakan dan tak terlupakan dalam hidup seseorang, Bagiku juga demikian. Hari disaat aku memulai kehidupan baru, hari disaat aku memutuskan untuk meninggalkan masa lajang, dan di hari dimana aku mencoba belajar untuk menjadi pribadi yang bertanggung jawab.

Apalagi saat moment pertama kali ijab-qobul yang disaksikan banyak orang, sedikit nerves saat mau mengucapkan janji suci itu. Tapi alhamdulillah lancar dan tak harus mengulanginya.

Juga moment menjadi raja sehari yang dilihatin banyak orang dengan sedikit make-up dan riasan bedak. Sungguh, itu pertama kali pipiku ditaburi bedak seperti itu semenjak sudah baligh. Kalau masih kecil sih, biasanya dikasih bedak seluruh tubuh dan didaerah muka, dikasih bedak yang tuebeel biar terlihat seger kata ibuku.

Yah, Beruntung sekali aku menemukan jodoh di umur yang bisa dikatakan masih muda saat itu. Jadi tak harus merasakan kegalauan terlalu lama, apalagi galau disetiap hari lebaran dengan pertanyaan “Kapan Nikah?”,wkwkwkw 😛

Saat Kelahiran Anak

Bukan pas kelahiran anak saja, sebelum itu juga membuatku bahagia. Yaitu sewaktu istri hamil.

Hamilnya istri ini saja sudah membuatku sangat bahagia. Karena dengan hamilnya istri, menunjukkan kalau aku perkasa wkwkwkw, dan juga menjadi lelaki seutuhnya. Soalnya, tak banyak orang yang beruntung langsung dikarunia anak sewaktu baru menikah.

Pada proses hamilnya pun, aku sangat menikmati moment seperti itu. Aku bisa mengelus-elus perut istri yang buncit karena ulahku. Apalagi disaat istri kesakitan ketika si dedek bayi menendang-nendang dengan kerasnya di rahim. Terlihat ada yang gerak-gerak diperut buncitnya itu. Sumpah itu lucu banget.

Terlebih lagi saat kelahiran dengan kondisi istri dan bayinya sehat tidak kurang sedikitpun. Kebahagiaan saat itu, tak bisa di ukur dengan uang sebesar apapun didunia ini. Menjadi seorang Ayah.

*****

Yah begitulah moment paling bahagia menurutku, Kalau kalian?

Yah,  Semoga hari-hari setelah ini akan  lebih membahagiakan lagi, baik hariku, harimu dan hari kalian semua juga. Aamiin.

16 April 2017 ~ Ainur Irawan

Iklan

13 pemikiran pada “Bahagia Itu Sesederhana Melihat Senyumanmu

  1. Ping balik: Rencana 30 Hari Menulis Di Bulan April | Pennadiri

  2. Ping balik: Cara Menyikapi Masa Lalu Yang Selalu Membayang | Pennadiri

Tinggalkan Sebuah komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s