Belajar Kehidupan Dari Puncak Ketinggian Alam


Puncak sebuah kehidupan

Source image by Stocksnap.io

Suka atau tidak, Kehidupan ini menuntut kita untuk mencari kehidupan dunia yang mapan. Kita terus mencari perhiasan dunia untuk mengapai semua keinginan kita, semua mimpi-mimpi kita.

Dan pada Intinya, kita mencoba untuk mengusahakan semampunya agar kehidupan kita membaik, bukan?

Uang dalam kehidupan ini cukup menyita keseharian kita. kita rela banting tulang selama 8 jam demi untuk mendapatkannya.

Entah kenapa, rasa-rasanya tanpa uang, kita tidak bisa membeli makan untuk memenuhi kebutuhan jasad kita

Tanpa uang, kita tidak bisa melakukan travelling ke tempat refresing dan hiburan yang kita sukai.

Tanpa uang, kita juga tidak bisa membeli sesuatu yang kita inginkan maupun yang kita butuhkan.

Yah, setidaknya aku juga melakukan kegiatan selama 8 jam tiap hari untuk memperoleh sedikit uang agar aku bisa memanfaatkannya demi kehidupan. Meskipun kita hidup di dunia ini dengan segala kelebihan dunia akan alamnya, akan buah dan sayur yang tumbuh di atasnya dan  akan kekayaan yang terkandung didalamnya.

Baca juga : Kehidupan itu pelajaran menuju kebahagiaan

Dalam dunia ini, kita harus bersemangat untuk mendapat kehidupan yang lebih baik bukan?

Yah, aku juga semangat seperti kalian kok.

Ceritanya, Dua hari kemarin, aku pergi ke sebuah tempat dataran tinggi. Pertama, aku pergi jalan-jalan dengan kawan blogger dan menikmati negeri diatas awan.

Rencananya sih, lihat pemandangan kota dari tempat tinggi, tapi mau gimana lagi, kabut datang menghadang.

Negeri diatas awan bersama Bang Ical dan Umi Sholikhah

Hanya pemandangan putih sejauh mata melihat. Semua yang dibawah kita tertutup oleh kabut tebal seakan-akan kita berada di negeri asing diatas awan.

Dan besoknya aku juga berada di dataran tinggi lagi. Mengunjungi teman untuk bersilaturohmi dengan keluarganya.

Ada banyak hal yang aku pelajari dari aku berkunjung ke tempat tingggi itu.

Pertama, ada usaha yang cukup keras untuk mencapai puncak dari dataran tinggi itu. Seperti dibutuhkannya tenaga lebih atau bahan bakar lebih banyak ketimbang pergi ke dataran yang datar.

Selain banyak tenaga, di dataran tinggi juga anginnya cukup kencang dan udaranya cukup dingin untuk membekukan seluruh badan. Yah, aku kedinginan saat berada di dataran tinggi itu.

Sama seperti kita mencari kehidupan dunia, kita harus bekerja keras dengan kekuatan yang lebih agar sampai pada kehidupan yang lebih tinggi. Dan semua itu tidak gampang, banyak cobaan yang akan menerpa kita di tempat itu.

Baca juga : Tidak ada sukses secara tiba-tiba

Bagaimana kalau untuk mencapai puncak kehidupan dunia?

Mencapai puncak kehidupan

Source image by Stocksnap.io

Seperti halnya saat mendaki sebuah pegunungan. Semakin tinggi gunungnya, semakin susah juga untuk mencapainya. Dibutuhkan tenaga yang lebih ekstra, beserta kemauan yang kuat untuk bisa sampai pada puncaknya.

Begitupun juga jika ingin mendapat puncak kehidupan dunia. Pasti akan banyak yang dikorbankan, dari tenaga, waktu dan mental yang sekuat baja untuk bisa menggapainya dan terus maju pantang menyerah agar sampai pada puncaknya.

Jika puncak kehidupan di ibaratkan dengan sebuah kemapanan dunia dengan banyaknya uang yang ada. Maka, setelah mencapai sebuah puncak kehidupan dunia, dimana kita sudah mempunyai banyak uang, mempunyai banyak harta untuk membeli segalanya. Ingatlah pelajaran tentang alam saat mendaki.

Bahwa, Disaat kita berada di puncak pegunungan, seberapapun harta yang kita bawa, seberapapun uang yang kita miliki, tidak akan mampu menolongmu dari rasa lapar dan haus.

Dengan kata lain, biarpun kamu mempunyai harta segunung yang bisa membeli segalanya di dunia ini, tapi disaat berada pada ujung dunia, uang tak akan bisa menolongmu dari kematian yang menghampiri. Uang segunung itu tak akan bisa kamu bawa menuju kehidupan akheratmu.

Bisa jadi uang segunung itu hanya jadi rebutan anak keturunanmu, bisa jadi saling sikut-menyikut diantara mereka untuk mendapatkan harta peninggalanmu.

Karena sejak awal, kemapanan dunialah yang kau kejar, maka kemapanan itu sajalah yang akan kau wariskan kepada keturunanmu. Bukan cara merawatnya tapi cara mengejar dan mendapatkannya dengan cara apapun juga.

Baca juga : Renungan diri menghadapi pertanyaan padang mahsyar

Berbeda jika Puncak kehidupan itu di ibaratkan sebagai ilmu dan kebijaksanaan.

Maka, disaat kita mencapai puncak sebuah pegunungan, pasti kita bisa bertahan dari dinginnya cuaca tersebut dengan kecerdasan dan kebijaksanaan. Hanya dengan peralatan yang sederhana dan insting bertahan hidup yang lebih kuatlah yang bisa membuatmu bertahan dalam puncak pegunungan tersebut.

Dan di ujung kehidupan dunia, orang yang berilmu dan bijaklah yang akan terus hidup bersemayam dalam ilmunya, walaupun jasad sudah tak di kandung badan.

Akan banyak orang yang terus mendoakan kita disaat ilmu yang kita kejar sewaktu hidup, bermanfaat bagi keturunan kita maupun orang lain.

 

#Ruang Obrol #Obrolin #BelajarDariAlam

Ainur Irawan

Iklan

10 pemikiran pada “Belajar Kehidupan Dari Puncak Ketinggian Alam

  1. Itu dataran tinggi, mksudnya bkn pgunungan ya? Kirain silaturahminya di gunung, hee…

    Seru ya berada di puncak ketinggian alam. Sprtinya mas Ir berjiwa petualang jg.

    Dan utk wejangan2 / analogi kehidupannya, 👏👏👏

    Suka

  2. Ping balik: Manfaat Merokok Yang Tidak Diketahui Oleh Banyak Orang | Pennadiri

Tinggalkan Sebuah komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s