Melangkah Di Sekolah Pertama


Back to school

Source image by lakevillagelc.com

Beberapa kali membaca artikel teman tentang curhatannya saat pertama kali masuk sekolah, akhirnya aku juga ingin ikut-ikutan untuk curhat tentang zaman sekolah dulu.

Sudah 10 tahun yang lalu aku terakhir kali menginjakkan kaki ke tempat umum menuntut ilmu. Dan sudah 10 tahun juga aku tidak pernah belajar ataupun mengerjakan tugas rumah dari seorang Guru.

Aku sudah lupa bagaimana rasanya “tegang” saat menghadapi ujian sekolah, dan sepertinya aku dulu juga tidak setegang itu saat ujian sekolah macam apapun. Justru aku lebih tegang saat melamarmu maupun saat mengucapkan janji suci di depan penghulu.

Aku lupa bagaimana perasaanku saat pertama kali memasuki sekolah pertama, Zaman dulu masih belum ada PAUT maupun Playgroup. Adanya sih Taman Kanak-kanak (TK). Bahkan aku lupa kenangan saat masuk TK dulu, kenangan itu terhapus seperti album foto saat kecilku dulu yang rusak termakan kelembapan.

Entah kenapa, memoriku hanya sampai pada kelas 3 Sekolah dasar. Kenangan sewaktu kelas 1 dan 2 seakan hilang termakan zaman. Aku tidak bisa mengingat hal yang aku lakukan sewaktu berada di kelas 1 dan 2. Apa aku selugu itu atau memang pikiranku yang tak mampu mengingatnya.

Di kelas 3, aku baru menyadari bahwa aku punya kelebihan dalam mengerjakan soal tanpa harus belajar. Disaat anak-anak lain sibuk dengan mencari tempat les privat maupun minta di ajarin orang tua. Aku hanya sibuk dengan main disiang hari, sore mengaji, ba’da maghrib juga mengaji lagi, dan isya menonton televisi hingga terlelap.

Aku hanya membuka bukuku disaat aku mempunyai pekerjaan rumah yang ditugaskan oleh guru. Selebih itu, aku tidak ada minat untuk belajar, apalagi dirumahku tidak ada yang bisa mengajari aku. Bapakku hanya sekolah sampai kelas 3 SD, Bahkan Ibuku juga tidak pernah tau baca tulis karena tidak bersekolah.

Mungkin kecerdasan itu anugerah yang luar biasa yang diberikan Tuhan kepadaku. Dan aku menyesal tidak menghargai semua itu.

Karena hal itu, aku banyak dikenal oleh murid lain, bahkan teman-teman sekelas berbondong-bondong kerumahku untuk mengerjakan PR bersama. Ah tidak, bukan mengerjakan bersama, aku yang mengerjakan, dan mereka menulis sama seperti apa yang aku tulis.

Bahkan saat ujian, kebanyakan murid yang duduk disebelahku. Rela memberikan uang kepadaku agar aku bisa berbagi jawaban kepadanya. Aku menerimanya dengan senang hati, karena bagiku dulu, aku bisa bahagia dengan bisa membeli jajanan yang aku sukai tanpa harus meminta kepada orang tua.

Baca juga : Inilah metode belajar yang baik dan efisien

Selepas lulus Sekolah Dasar, lanjut ke tingkat SMP. Lagi-lagi aku mendapat hal special dengan bersanding teman-teman luar biasa di kelas special. Yah kelas anak-anak kutu buku dan kebanyakan anak dengan ekonomi yang berada dan sangat nurut kepada Gurunya.

Dengan berada di kelas anak-anak dengan pemikiran logis dengan menghabiskan waktu istirahat hanya diam dikelas atau perpus. Tubuhku mulai memberontak. Rasanya aku tidak cocok berada dalam kelas unggulan ini.

Terlalu banyak kompetisi antara siswa, terlalu banyak tekanan yang mengharuskan setiap siswa harus bisa, dan sebagainya. Sedangkan aku apa? Aku hanya sekumpulan besi yang terbuang.

Justru dengan bersanding dengan mereka, aku lebih malas lagi untuk belajar, Pekerjaan rumahpun aku kerjakan pagi-pagi sekali dengan mencontek siapapun yang datang pagi dikelas itu.

Aku beruntung sekali saat aku kelas 3, aku di tendang dari kelas panas itu. Aku lebih leluasa dengan kelas baru yang dihuni oleh sekumpulan preman-preman sekolah. Preman sekolah = murid yang biasanya keliling untuk mengumpulkan uang keamanan yang dia peroleh dari siswa-siswa lain yang pengecut dan berduit.

Aku merasa nyaman sekali dengan mereka, dari candaanya, dari rame-nya. Dan rasanya, dikelas 3 itu, aku merasa betah dan semangat sekali untuk bersekolah. Sama seperti waktu SMA, yang dihuni manusia luar biasa yang menjadikanku tumbuh seperti saat ini. Lebih hancur dan gila, wkkwkwkw.

Tapi nggak masalah, terkadang sebuah pelajaran hidup tidak bisa dipelajari hanya dari tumpukan buku yang sudah kita baca. Seperti tagline di blogku ini ”Terkadang sebuah cerita tercipta dengan sendirinya”.

Maksudnya, Aku adalah sebuah buku kosong, yang akan aku tulisi dengan perjalanan hidupku sendiri. Aku tak harus menulis sesuai cerita yang pernah ada di buku maupun di dongeng-dongeng. Aku adalah aku, yang terus berjuang memahami arti diri ini.

Dan untuk anakku yang baru kemarin menginjak bangku sekolah di Taman Kanak-kanak.

Carilah ceritamu sendiri, buat ceritamu lebih menarik ketimbang kisah kedua orang tuamu. Jadilah anak yang selalu membanggakan orang tuamu. Kamu tak harus jadi pintar dan juara, karena aku tau, kamu akan mewarisi kecerdasan kami dan kami tidak mengharuskanmu selalu mendapat rangking dikelas.

Aku hanya ingin kau berbaktilah kepada orang tuamu dan juga gurumu, karena hal itu  yang tak bisa dilakukan oleh orang tuamu, khususnya aku sebagai ayahmu yang sering memberontak kepada gurunya.

17 Juli 2017 - Hari pertama Naila berseragam sekolah

17 Juli 2017 – Hari pertama Naila berseragam sekolah

 

#Curhat #MasaSekolah #Obrolin

Ainur Irawan

Iklan

41 pemikiran pada “Melangkah Di Sekolah Pertama

  1. Mas Ir waktu kls 3 SD pinter ya wlau jrang blajar, haha….tp kisah di SMP dan SMA gmn ya..kok jd “gitu”?

    Tnang aja, Naila bs lbih baik kok dari papanya. Krn jman sdh berubah. Lain dulu lain skrg.

    Disana msuk skolah hri prtma kmrin ya mas? Kmi tgl 10 Juli yg lalu.

    Disukai oleh 1 orang

  2. Seragamnya sama waktu Aura TK dulu. Nakal nakal dikit mah gak papa lah, biasa itumah. Justru anak nakal biasanya setelah besar bosan nakal. Jangankan mas nur, aku saja yang cewek pas sma lbh nyaman di kelas sosial yang kalau guru tak ada ikut kabur lompat pagar. Besoknya orang tua dipanggil ke sekolah.
    Setelah dipanggil Ayah cuma akan bilang, selama bukan pacaran atau mabuk2an bolehlah dilakukan.

    Disukai oleh 2 orang

  3. saya juga waktu sma kmarin sempat masuk semacam kelas unggulan, tapi saya sama sekali ga betah karena kebanyakan orang disana belajaar terus dan suasana nya terlalu serius. Saya jadi bawaanya bosen banget di kelas hahahaha lebih enak kalau sekelas sama teman yang engga terlalu serius ada bercanda sedikit jadinya lebih seru aja gt hahaha

    Disukai oleh 1 orang

  4. Saya juga nggak banyak ingat kejadian di kelas 1 atau 2 SD. Cuma ingat waktu itu hampir semua teman diantar ortunya masing-masing sementara saya brangkat sendirian di hari pertama hiks….

    Disukai oleh 1 orang

  5. Hai Naila, aku yakin dirimu tak membaca komentar ini. Pastilah bapakmu yang membacanya bersama rekanan blogernya. Semoga kelak lelaki yang naksir dirimu dan bertekad menjadikanmu pasangan hidup tidak jiper duluan menemui bapakmu yang sangar ini. Sangar karena berhati Rinto, berbodi Rambo. #peace

    Disukai oleh 1 orang

  6. Wah sudah masuk sekolah saja Si Naila. Selamat menghadapi kerasnya dunia persekolahan Naila!

    Wahahaha.. Kelas unggulan di SMA saya dulu anaknya tetap bandel-bandel bang ainur. Yang membuat saya awalnya iri karena nggak bisa bergabung ke sana. Dan hebatnya kelas unggulan itu, biarpun bandel nilai rata-rata kelasnya jauh berada di atas kelas lainnya. Adanya kelas unggulan memacu niat belajar siswa. Alhasil diukur secara nilai, mereka terlihat jauh lebih baik

    Disukai oleh 1 orang

  7. Sama nih, anak aku jg baru masuk sekolah TK.. Belum ad drama kompetisi kelas hingga mcm2 sih.. Namanya juga msh TK.. Intinya belajar adaptasi tahap 1 dulu..bermain dan bersosialisasi.. Belajar lain2 sih urusan belakangan.. 😄

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Sebuah komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s