Nikah Nunggu Mapan!, Mau Sampai Kapan?


NIkah nunggu mapan, sampai kapan?

Kalau nikah nunggu mapan, mau sampai kapan?

Banyak lelaki yang takut menikah karena menunggu mapan, walaupun tidak salah juga mereka berpikiran seperti itu.

Coba bayangkan, Disaat masih mempunyai tanggungan kreditan sepeda motor, atau masih belum bekerja lantaran belum lulus kuliah. Si Doi minta menikah secepatnya. Pasti kita akan mikir, bahwa pernikahan itu juga butuh biaya. Pernikahan itu juga perihal menafkahi pasangannya bagi yang suami.

Jadi untuk masalah finansial itu sangat penting banget untuk kelancaran hidup berumah tangga. Seperti yang pernah aku bahas di “hal-hal yang perlu dibicarakan antara calon suami dan istri sebelum menikah”.

Tapi sebenarnya, apa sih arti kemapanan itu?

Saat terucap kata “mapan”, pasti diantara kita akan berpikir tentang seorang yang kaya raya dan sudah mempunyai segalanya, padahal tidak demikian.

Dalam KBBI, mapan memiliki arti mantap (tidak goyah, stabil) kedudukannya ataupun kehidupannya. Dalam bahasa jawa, mapan disini bisa diartikan tercukupi sandang, pangan dan papan. Yang berarti orang yang sudah bisa mencukupi kebutuhan berupa makan, pakaian dan rumah bisa disebut mapan.

Terus bagaimana batasan untuk mapan sendiri? Apa harus punya rumah, mobil, deposito ratusan juta dulu? baru bisa dikatakan mapan.

Tidak juga kan. Itu terlalu berlebihan.

Di Indonesia, kemapanan seseorang terkadang menjadi salah satu syarat untuk menikah. Kebanyakan wanita di Indonesia lebih memilih laki-laki yang memiliki karir dan penghasilan yang mapan.

Nah disitu ironisnya, bagaimana nasib bagi single yang belum mapan lantaran masih kuliah atau pekerjaannya masih dalam kontrak tahunan yang bisa berhenti kapan saja.

Oke, untuk ukuran mahasiswa, aku bisa menyebutnya belum mapan, karena belum punya penghasilan sendiri. Tapi ada juga yang masih berstatus mahasiswa tapi sudah punya penghasilan sendiri.

Tapi bagi seorang laki-laki berwirausaha, maupun yang bekerja di suatu perusahaan, selama dia bisa mencukupi kebutuhannya sendiri dari hasil dia melakukan sebuah pekerjaan atau jasa. Setidaknya aku bisa menyebutnya dengan mapan dalam ekonomi, walaupun pekerjaannya masih terikat kontrak tahunan.

Tidak harus seorang laki-laki mempunyai deposito ratusan juta dulu biar disebut mapan. Masalah materi itu relatif dan tak pernah ada kata cukup dan menjamin hidupnya bakal bahagia.

Lagian, selama laki-laki tangguh berusaha, biarpun pekerjaannya terhenti oleh keterikatan kontrak suatu perusahaan, pasti ada jalan lain untuk mencari rezeki. Toh, kita tidak harus bergantung pada hal itu saja bukan?

Dan percayalah bahwa ketika pintu rezeki satu tertutup, maka akan ada ribuan pintu rezeki yang lain akan dibuka. Sama seperti Cinta, ketika pintu hati seorang wanita tertutup, maka akan banyak wanita-wanita lain yang akan membukakan pintu kamar hatinya kepada kita. jadi bersemangatlah. #bakarbakar 🔥🔥🔥

Baca juga : Enaknya kalau sudah Nikah tuh gini?

Siapa yang bisa menjamin harta berlimpah tidak ludes dalam sekejap? Bukankah mudah bagi Allah menurunkan sakit hingga habislah semuanya

Nikah Nunggu Mapan!, Mau Sampai Kapan?

Source image by Stocksnap.io

Dulu sebelum menikah, aku sempat menabung untuk persiapan menikah, yah setidaknya buat resepsi dan kuade pernikahan juga. Aku juga nyicil satu persatu penyingset (itu seperti baju seluruh badan dan peralatan make up) buat istri selama masa tunangan itu.

Nah pas 2 bulan sebelum menikah, ada sebuah kejadian yang mengharuskan aku memakai tabungan buat pernikahanku itu. Istri kakakku harus di operasi saat mau melahirkan, dan sayangnya anaknya dalam keadaan meninggal saat keluar dari rahim ibunya.

Begitupun sebulan setelah operasi itu, istrinya kakak kembali opname lagi. Dan kebetulan kakakku lagi kesulitan finasial. Kembalilah dipakai lagi uang tabunganku untuk meringankan beban kakakku itu. Tersisa hanya 2.5 juta saja untuk resespsi pernikahanku.

Dan Alhamdulillah. Pernikahanku juga berjalan dengan lancar, walau hasil dari cari hutangan. gak apa, yang penting Mahar tidak di ucapkan dengan “Dibayar H-U-T-A-N-G”. 😀

Baca juga : Hal-hal yang mungkin akan anda alami setelah menikah

Namun, mudah pula bagi Allah untuk mencukupkan suami yang rutin berpenghasilan meski penghasilannya pas-pasan karena keberkahan

Aku punya cerita tentang seorang teman, dia masih kuliah S2 saat sebelum menikah, Tapi meskipun dia masih kuliah, dia sedikit banyak mempunyai penghasilan dari bekerja sampingan, entah dia menjadi asisten dosen mauppun dari kerjaan sampingan dia jadi guru privat di sekitar dia tinggal (nge-kost).

Dia memutuskan melamar seorang wanita pujaan hatinya sejak SMP yang merupakan teman SMP ku juga. Dia dua kali ditolak lamarannya, mungkin alasan kemapanan ataupun karena dia juga masih kuliah.

Dan untuk ketiga kalinya, akhirnya wanita ini menerimanya. Pada saat itu temanku ini masih belum selesai S2 nya di Universitas Bandung (aku nggak tau Universitasnya apa, dan aku nggak se-Kepo itu soalnya, wkwkwk).

Dan Alhamdulillah, sekarang dia sudah mempunyai anak. Dan melanjutkan lagi studinya ke negeri Sakura dan Naruto berada. Sampai sekarang, aku masih beberapa kali  melihat anaknya dan istrinya update status di facebook dengan backgroud pohon sakura.

Dan hal itu yang membuatku iri, soalnya aku juga ingin bertemu Hinata juga disana, Hahahaha :D.

So, Menikah memang perlu biaya tapi kemapanan bukanlah kunci kesiapan pernikahan.

Cukuplah keyakinan bahwa Allah sebagai pemberi rejeki yang akan mencukupkan jalan rejeki bagimu dan juga pasanganmu kelak. Dan engkau sendiri sudah berikhtiar semaksimal mungkin untuk membuka jalan-jalan rejeki itu.

Baca juga : Untukmu yang terlalu sibuk dunia, hingga lupa menikah

Man Jadda wa jadda : Barang siapa yang bersungguh-sungguh, maka dia akan mendapatkan hasilnya

Nikah Nunggu Mapan!, Mau Sampai Kapan?

Source image by Stocksnap.io

Ada sebuah cerita tentang teman baikku, Dia mencintai seorang wanita dan baru jadian 2 minggu lamanya.

Karena kedekatannya itu, orang tua si wanita juga mengetahuinya. Dan kebetulan ada 2 orang laki-laki beserta keluarganya yang sedang melamar anak perempuannya itu.

Temanku ini dihadapkan dengan kenyataan pahit bahwa dia sangat mencintainya, sedangkan akan ada 2 orang laki-laki yang siap meminang gadis pujaanya. Sementara itu, dia tidak mempunyai kesiapan untuk meminangnya maupun kesiapan untuk menikah.

Tapi, Takdir berkata lain. Dengan dorongan saudara-saudaranya. Akhirnya dia meminang gadis pujaannya itu. Dan menikah selang 3 bulan dari pinangan itu.

Nah, dari sini aja pasti sangat prihatin dengan segala hal tentang finansial. Tapi disaat niat sudah kuat, banyak jalan untuk berkeliling Roma maupun ke menara Eifel sekalipun.

Dan pernikahannya berjalan lancar. Temanku dan istrinya berjuang membangun keluarganya dari nol. Sekarang dia sudah punya rumah sendiri walau dari tanah kosong hasil warisan orang tuanya. Dan pekerjaannya juga sudah stabil, begitupun dengan kegiatan istrinya yang pernah aku ceritakan tentang Geng emak-emak yang bernama “Dramatic Life Crew” itu di artikel “Tempat ngumpul yang nyaman dan menghasilkan“.

******

So, dari cerita ini, Kapan kamu mau nikah?

Apa masih mau NUNGGU MAPAN!,

SAMPAI KAPAN??

Hahahaha 😂😂😂

Baca juga : Beberapa alasan sebagian orang yang menolak Nikah diusia muda

*Note: Artikel ini bukan untuk mengompori kalian agar cepat nikah, Tentu banyak hal lain yang mungkin menjadi dasar bagi kalian untuk tidak menikah di tahun-tahun ini. Misalnya masih mengumpulkan dana (perencanana itu perlu), Memantaskan diri, Belum ketemu jodohnya, Masih belum Move-on dan sebagainya.

Intinya, itu sebagian gambaran bahwa, Nikah tidak harus nunggu mapan, karena akan lebih menyenangkan kalau bisa berjuang berdua menuju sebuah kemapanan.

 

#Obrolin #RuangObrol #NikahKapan

Ainur Irawan

Iklan

45 pemikiran pada “Nikah Nunggu Mapan!, Mau Sampai Kapan?

  1. Sebenarnya perempuan itu ga butuh lelaki yg bnr2 mapan. Yg dia butuh adl pejuang sejati yg bersemangat dan serius. Kyk cerita q dulu wkt awal nikah melarat jg seh.. Hihi.. Mn lgsg punya bayi mn sodara suami byk.. Mn mertua q janda.. Gimana? Ya bisa ajaa… Asal dr sononya si suami semangatnya udah tinggi. Skrg? Udh pny rumah, udh bs bli motor (walo kredit). Tp bersyukur, semua tercukupi berkat semangat dr kedua pihak.. 🙂

    Disukai oleh 3 orang

  2. pengin nikah sangad itu…kalo lagi ada masalah, pengin ada yang nasehatin, pengin ada yang peduli meski sekedar melucu saja.

    Ya…itu tadi kalo lagi kumat pengin nikah.

    Kalo pikiran udah plong lagi, bahagia lagi, lupa deh ingin yang tadi. 😅

    Sayangnya Cinta orang yang memikirkan sesuatu terlalu dalam dan bisa dengan mudah melupakan masalah.

    Jadi…keinginan menikah pun datang dan pergi begitu saja.

    *aaakkkkkk curcol! 🙈🙉🙊

    Disukai oleh 2 orang

  3. Aku setujuu bnget dalam hal ini, gk perlu nunggu semuanya punya, jbatan udah d atas, deposito bnyak bgt, dll tp mski bgtu menikah ttp gk bs asal harus ada modal, jngankan nikah usaha es degan aja butuh modal 😌 mnrtku sih gtuu, yah mari d jlani ajee😂

    Disukai oleh 1 orang

  4. Jika berkaca dari pengalamanku ketika sebelum menikah, mapan bukanlah point terpenting dalam pandangan orang tuaku utamanya MAMAKku. Apalagi di kendari standar menjadi mantu idaman adalah ketika ia memakai baju korpri setiap tanggal 17 untuk upacara kesadaran nasional. Kala itu banyak yang mencoba untuk melamar. Ada pegawai pajak yang tau dooong penghasilan mereka segimana bejibunnya? ada pula pegawai BUMN yang intinya saingan suamiku yg sekarang ini berat banget kalau mau bersaing dari segi penghasilan.

    :.Jodoh memang ditangan tuhan, namun pilihan ditangan MAMAK.:

    Mungkin jalannya jodoh akhirnya saya jatuh ke pelukan lelaki yang penghasilannya bahkan di bawah UMR Kota Kendari karena pilihan MAMAK saya. Kata beliau DIALAH MANTU YANG BISA DIPERCAYA MAMPU MEMBUAT ANAKNYA BERTEKUK LUTUT,hahahaha. Merasa malu karena penghasilannya kecil? kalau di saya sih tidak! dengan penghasilan yang cukup rendah kalau menurut perhitungan saya, suami saya mampu menghidupi saya dengan paket gizi yang komplit. Belum lagi untuk perawatan jerawatlah-komedo-lah anti aging-lah hahaha. Yang pada akhirnya saya capek perawatan dan memilih menabung,wkwkwkwkwk

    Finally untuk menutup komen yang berbalut curhat ini, saya mau bilang untuk yang sedang menanti untuk dilamar “persiapkanlah dirimu untuk menikah. Mantakanlah dirimu. Jangan menuntut mau dapetin pasangan yang alim kalau diri sendiri masih lalim” xixixixixi 😀

    Disukai oleh 2 orang

  5. Mama aku kan wanita career mass, trs prnh pesen sama aku “kerja dulu, kalau sudah bisa cari uang sendiri baru menikah. Dan setelah itu terserah kamu mau tetep kerja atau dilepas. Perempuan itu banyak maunya, banyak keperluannya. Biar uang suami nanti untuk anak anak dan keperluan keluarga”

    Menurut mas ir .. Gimana?☺

    Btw, aku suka pesan penutupnya wkwk

    Disukai oleh 1 orang

    • Banyak loh istri-istri yang melanjutkan karirnya sembari menjalankan tugasnya sebagai ibu rumah tangga dan istri dari suaminya.
      kalau memang bisa seperti itu, nggak masalah. bagus malah. kayak jadi guru kan nggak begitu
      tapi kalau suaminya yang menyuruh untuk tidak bekerja, ridho suami adalah surga bagi istrinya. gitu kan kata ustad. hehehe

      Disukai oleh 1 orang

  6. Gue dulu pernah di tanya gitu sebelum nikah sama seorang ustad temen nyokap gue sebelum gue nikah dulu dan gue jawab, nannti belom punya rumah belom punya mobil belom punya banyak uang dan beliau cuma jawab singkat sambil berlalu, beliau menjawab “KEBURU MATI,UMUR GA ADA YANG TAU” seketika mak jleb banget langsung merenung di pojok pintu…. hehehehe

    Disukai oleh 1 orang

  7. Klo saya sendiri prinsipnya sederhana, klo cuma nyari uang, bisalah dipelajari sambil jalan. Masalah cuma sedikit cewek yg mau mulai dari nol. Jadi yg ekonomi pas-pasan sulit dapat jodoh yg berkualitas ha ha ha…. soalnya cewek2 cantik pasti lebih memprioritaskan yang sudah mapan.

    Disukai oleh 1 orang

    • Nggak semua kok mas..
      aku punya banyak pengalaman tentang teman yang sudah dapet wanita cantik, modal pas-pasan..
      dengan begitu banyak saingan cowok yang jauh beda dari keadaanya..
      karena cinta itu amsalah hati, rasa dan nyaman. eeeaaaah

      Disukai oleh 1 orang

  8. Yap. Gak mesti nunggu mapan
    Klau dirasa perlu nikah, sepanjamg keduanya berikhtiar untuk berjuang bersama, knp tdk?

    Nikahlah krn kamu perlu nikah, krn suatu panggilan keyakinan, bukan krn gengsi aplgi terprovokasi.

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Sebuah komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s